stres psikososial

bersahabat dengan stres

9

Stresor Psikososial dan Kaitannya Dengan Self Esteem

Harmoni Hidup

Menurut Girdano (2005) terdapat tiga jenis sumber stres yaitu faktor psikososial, bioekologikal, dan personal. Seseorang dapat mengalami stres yang berasal dari salah satu faktor yang disebutkan diatas atau mengalami ketiganya disaat yang bersamaan. Stres yang saya alami kebanyakan bersumber dari faktor psikososial dan personal. Dari faktor psikososial, stresornya adalah overload dan frustasi.

Overload yang sering saya alami dimanifestasikan dengan banyaknyanya tugas-tugas kuliah yang dibarengi dengan kegiatan mengajar privat sehingga membuat saya terkadang merasa kewalahan membagi waktu dan tak jarang saya pun akhirnya mengalami stres ringan yang biasanya langsung direspon oleh tubuh saya berupa sakit kepala. Ditambah lagi dengan les piano dirumah guru saya yang bertempat di bogor yang lumayan jauh jaraknya. Pernah suatu ketika saya merasa sangat overload ketika saya harus les piano ditambah dengan mengerjakan paper ujian dihari yang bersamaan sementara keesokan harinya merupakan deadline jadwal pengumpulan paper dan minggu depannya saya harus menghadapi ujian praktek pianonya. Wah seminggu penuh saya merasa sangat sibuk bahkan waktu tidur yang saya miliki hanya empat jam saja karena rumah saya berdomisili di depok jadi cukup jauh dari kampus, tempat les, dan tempat mengajar saya.  Tugas-tugas kuliah saya yang terkadang datang disaat yang bersamaan memaksa saya untuk tidak tidur sepanjang malam sehingga mengganggu body-clock saya. Saya menjadi sulit tidur di malam hari karena rasa cemas berlebih akan tugas-tugas yang belum selesai saya kerjakan. Tak jarang saya jadi sering dimarahi oleh guru les saya karena tidak sempat latihan dan sering disindir ‘anak tak mampu’ dan mendapat nilai tugas yang pas-pasan. Terlintas dipikiran saya jangan-jangan memang perkataan guru saya itu benar dan saya benar-benar bodoh makanya mendapat nilai rata-rata. Namun saya tahu sebenarnya itu karena saya suka menunda-nunda pekerjaan. Jika saya mengalami hal ini, kegiatan rutin yang biasanya saya lakukan adalah berdoa karena dengan begitu dapat memberikan sedikit ketenangan batin bagi saya. Selain kegiatan tersebut, adakalanya saya mendengarkan musik klasik ciptaan Mozart yang mengalun lembut dan halus sehingga memberikan kesan damai bagi jiwa saya yang gelisah. Untuk mengatasi time-management saya yang kurang baik terkadang saya membuat jadwal mingguan, sayangnya karena terkadang saya punya jadwal mendadak seperti murid yang tiba-tiba berhalangan hadir atau kuis dadakan maka saya jadi tidak rutin membuat jadwal tersebut dan akhirnya malas untuk membuat jadwal lanjutannya. Teknik coping tipe ini termasuk dalam teknik coping emotion-focused (Larazarus&Folkman, 1984; Pearlin& Schooler, 1978) dan membuat jadwal termasuk ke dalam teknik coping problem-directed tipe planful problem solving.

Sumber stres dari kelompok frustasi yang paling membuat saya stres dan menimbulkan stres-stres berikutnya adalah diskriminasi yang saya alami ketika saya masih remaja. Event yang saya alami ketika saya masih kelas IV SD adalah bullying. Cacat fisik yang saya alami waktu itu membuat peer group saya menjauhi saya dan enggan untuk bermain bersama saya. Event ini merupakan stres yang amat berat bagi saya dan karena terjadi secara terus-menerus hingga saya menginjak bangku SMA maka peristiwa ini membentuk kepribadian saya yang sekarang dengan berbagai distorsi kognitif yang ada. Hal ini jugalah yang membuat self-esteem dan self-concept saya menjadi rendah dan terganggu.

Kejadian itu berawal ketika aku berpindah ke sebuah sekolah SD baru yang bertempat di belakang rumahku. Ketika itu aku akan menginjak kelas 4 SD. Saat itu sungguh hari yang menyenangkan bagiku karena aku berpikir bahwa aku akan mempunyai sahabat-sahabat yang baru lagi. Aku berjalan ke sekolah dengan hati yang senang dan bersemangat. Perkenalanku di kelas berjalan dengan baik-baik saja dan aku mendapatkan teman sebangku yang cantik dan baik hati. Ketika bel istirahat berbunyi akupun keluar kelas bersama teman sebangkuku. Disinilah kejadian itu berawal. Seorang anak lelaki mengejekku dan berteriak padaku di depan orang-orang lain mengata-ngatai ‘si tengleng’ padaku. Aku malu sekali, aku juga memperhatikan kalau teman sebangkuku wajahnya memerah karena malu padaku, orang-orang yang ada di sekitarku tertawa sekeras-kerasnya. Aku tidak tau harus berbuat apa akhirnya aku berlari ke kelasku sendirian meninggalkan sahabat baruku itu. Dikelas aku menangis sendirian, sampai bel masuk berbunyi aku menangis saja dan sahabat baruku itu pergi entah kemana. Ketika bel msuk berbunyi, entah kenapa sahabatku itu pindah tempat duduk ke tempat duduk lain. Dan sepanjang hari itu aku merasa bahwa banyak sekali yang berbisik dan tertawa di belakangku. Bel pulang sekolah berbunyi dan aku pulang paling akhir, kebetulan di sekolah ada sebuah taman yang ditengahnya terdapat kolam ikan. Biasanya setelah pulang sekolah aku hanya duduk disana sambil bercermin ke kolam tersebut memikirkan semua kejadian yang sudah terjadi padaku sepanjang hari itu. Sore hari baru aku pulang kerumah. Di rumah aku tidak pernah sekalipun bercerita kepada Mama tentang kejadian disekolah. Begitu pulang sekolah aku langsung masuk kamar untuk tidur siang, mengerjakan PR di kamar, mandi dan makanpun di kamar. Aku jadi jarang keluar kamar. Kamarku adalah Motherlandku dimana aku bisa ngapa-ngapain sekehendak hatiku. Hanya kamarkulah yang tahu apa yang terjadi. Dinding dan langit-langit kamarku menjadi saksi dari semua kesedihan yang kualami. tidak pernah ada yang tahu mengenai semua kejadian ini sampai aku bercerita pada sahabatku ketika kuliah dan mamakupun baru tahu aku di bullied karena tidak sengaja membaca diariku beberapa bulan yang lalu.

Dikata-katai, dimaki, dihindari seperti virus, kakinya dijegal, ditimpuki dengan tas atau barang sekolah lainnya seperti kapur tulis, spidol dan lain-lainnya menjadi makanan harianku di sekolah. Aku sudah terbiasa dengan kesemua hal itu. Aku hanya bisa memperhatikan dari jauh sendirian di kolam ikan, memperhatikan teman-temanku yang sedang bermain bersama anak-anak lainnya. Adayang bermain bola bekel, main karet, main bola sepak, dan bercanda ria. Hanya satu anak yang duduk terdiam dengan murung dan tak ada orang yang meyadari keberadaan dirinya di sekolah itu. Ya, itulah aku. Sekolah merupakan sebuah siksaan bagiku. Tapi aku harus tetap bertahan. Aku harus lulus dengan nilai yang baik karena aku sayang Mama. Ketika aku menginjak kelas 5 SD aku mulai belajar perkalian dan pembagian. Semua perkalian dari angka 1-9 harus dihapalkan. Entah mengapa aku sulit sekali menghapal. Sampai Mama harus turun tangan untuk membantuku. Mamaku sangat keras dalam mendidikku. Satu hal yang membuat aku sedih adalah ketika aku tidak dapat mengerjakan beberapa soal mamaku berkata, “Dasar anak bodoh, masa begini saja tidak bisa dikerjain sih? Kamu bukan anak mama kali ya, mungkin ketuker di rumah sakit waktu dulu kamu dilahirkan”. Saat itu sepertinya seluruh dunia menolakku. Tidak apa-apa jika teman-teman dan seluruh dunia menolakku, tapi jangan mamaku satu-satunya yang kusayangi. Saat itu aku merasa bahwa mama amat membenciku tapi keesokan harinya ketika aku bisa menjawab pertanyaan Pak guru padaku di depan kelas sampai semua teman-teman heran dan kagum padaku, aku baru mengerti bahwa mama melakukan hal itu karena Mama sayang padaku. Namun tetap saja kejadian indah hari itu tak bisa membuat teman-temanku berhenti untuk menggencetku. Mereka selalu mengata-ngataiku tiap kali aku lewat di depan mereka sampai-sampai rasanya aku tuli dan ga ingin mendengar lagi apa yang dikatakan mereka. Akupun tidak pernah mau bicara pada siapapun juga dikelas selain Guru. Sebisa mungkin aku tidak berbicara dan bergerak. Aku berakting layaknya sebuah tembok yang tidak pernah bersuara, bergerak, atau diperhatikan siapapun juga. Kejadian yang sama ini berulang terus hingga aku lulus kelas 6 SD dengan nilai yang pas-pasan mendekati buruk. Kenapa? Aku juga tidak tahu apa yang menyebabkan hal tersebut. Entah karena nilai yang buruk atau karena kondisi badanku yang sering sakit-sakitan sehingga tidak bisa masuk sekolah. Setiap kali aku menanyakan soal yang tidak kumengerti pada teman sebelahku, pasti dia langsung pura-pura bicara dengan teman kelasku yang lain dan tidak mendengarkan apalagi memperhatikan aku yang sedang kesulitan. Aku merasa sangat bersalah pada Mama dan Papa karena aku mendapat nilai yang buruk tidak seperti apa yang mereka harapkan. Namun betapa beruntungnya diriku karena Mama dapat menerima aku apa adanya. Beliau hanya menyemangati aku untuk belajar lebih keras lagi dan mengatakan kalau kegagalan adalah sebuah sukses yang tertunda. Ah, alangkah lembutnya perkataan tersebut sehingga somehow perkataan itu bisa membuat lega dan keluar dari rasa bersalah yang amat besar. Aku takut, aku merasa bersalah, aku tidak ingin ditolak oleh mama. Aku ingin buktikan bahwa aku adalah anak Mama yang pintar dan baik. Itu adalah apa yang kupikirkan pada saat itu.

Pada awalnya aku mengalami stres yang belum terlalu berat. Disini peer pressure menjadi penyebab stres utamaku, selain itu terdapat pula boredom and loneliness yang menjadi efek dari peer pressure yang kualami. Hal ini membuat distres yang berkepanjangan dan merusak sehingga lama-kelamaan stres tersebut berubah menjadi depresi. Reaksi stres yang kualami itu bermacam-macam. Dari segi emosi aku menjadi sering menangis dan bersedih hati, cuek dan pendiam dari segi tingkah laku, dan negative-thinking dari segi kognitif ditambah dengan rasa pusing dan demam yang sering kualami dari segi biologis.  Akhirnya akupun mengalami psychophysiological disorders (Levy & others,1990), dimana aku seringkali jatuh sakit dan tidak masuk sekolah. Aku menduga bahwa penyakitku adalah salah satu bentuk psychophysiological disorders karena rasanya hal itu adalah salah satu bentuk pelarianku dimana jika aku sakit aku tidak perlu sekolah karena bagiku sekolah adalah sebuah tempat siksaan, dan sakitku itu dikarenakan suatu manifestasi dari masalah psikis yang tidak terselesaikan. Lagipula dokter mengatakan bahwa tidak ada penyebab signifikan dari penyakitku tersebut. Teknik coping yang biasa kupakai semasa SD adalah escape-avoidance dimana aku lebih suka untuk melarikan diri dari masalah yang ada. Masa ini adalah masa awal dimana aku merasa depresi dan merasa bahwa diriku tidak berharga. Rasa desorted yang begitu besar membawa dampak yang buruk bagi self-esteem dan self-conceptku.  Aku menjadi seorang anak yang menarik diri dari lingkungan.

Lulus dari sekolah SD yang kelam aku memasuki sebuah sekolah SMP yang tidak terlalu terkenal dan merupakan tempat sekolah dimana Mamaku bersekolah dahulu. Hari pertama aku bersekolah aku cukup senang karena aku berpikir bahwa aku bisa memulai “hidup baru” dan membuka lembaran baru dan tidak mengingat-ingat lagi kasus bullying yang kualami waktu SD dulu. Meskipun begitu, sifat dan sikapku yang seperti “tembok” itu tetap tidak bisa hilang dari diriku. Dan aku jadi tidak suka untuk mulai bergaul dengan teman-teman yang ada disitu karena aku takut hal yang dulu kualami akan terjadi lagi padaku. Teman adalah makhluk yang menyusahkan. Itu adalah mottoku saat itu. Aku selalu memasang tampang ‘jutek’ agar tidak ada orang yang berani menindasku lagi. Tapi somehow ada seorang cewek yang masih ingin berteman denganku. Aku senang menjadi sahabatnya dan itu adalah pertamakalinya aku menjalin hubungan persahabatan yang sesungguhnya. Semuanya berjalan dengan baik sampai hari itu terjadi. Seorang siswa berkata, “Ihh.. si olin tuh aneh ya kepalanya miring.. ahahhaha” dan dia menirukangaya kepala miringku itu dan teman-temanku tertawa. Anehnya teman siswi  ini tidak merespon dan hanya berkata “ahh ya udahlah cuekin aja dasar dia yang gila”. Ini sih namanya keluar dari mulut buaya masuk ke mulut harimau. Dan kebetulan di kelas yang sama itu juga terdapat siswi yang namanya sama denganku dan ketika ada yang mengatakan bahwa dia kembaranku dia malah berkata, “Ihh.. amit-amit jabang bayi, kembaran sama dia? Please deh mending gue mati daripada disamain sama dia, ga level banget deh.” Begitulah keadaannya. Temen sesama siswiku itu ternyata bukannya malah jadi temanku malah menjadikanku budaknya. Membelikan dia makanan ke kantin, mengambilkan bukunya yang jatuh ke lantai, dan mengikatkan tali sepatunya yang lepas adalah kesiatanku sehari-hari. Semua itu berlangsung terus hingga suatu saat ada orang yang berkata, “ihh.. liat tuh si tengleng sekarang udah jadi babunya F”. akhirnya aku meninggalkan temanku itu ke kelas dan tidak pernah mau menyapanyanya lagi sampai aku  SMA. Itupun karena ia udah pindah ke SMA yang lain. Tapi tetap saja aku selalu melakukan apa yang temanku suruh hanya agar aku memperoleh Social acceptance. Menjadi budak, menjadi kurir atau apapun itu akan aku lakukan demi untuk mendapatkan social acceptance. Aku tidak pernah mengeluh ataupun marah karena hal tersebut. Nilai-nilaiku di SMP jelek sekali sampai ada nilai 4 di raportku. Yahh.. semangat untuk hidup hilang apalagi untuk mendapat nilai. Akupun sering jarang masuk seolah karena aku sering sakit kepala sebelah dan demam tinggi. Tapi ketika dibawa ke dokter, Dokter tidak menemukan penyebab aapun yang menyebabkan tubuhku panas mendidih seperti itu. Dokter hanya bilang kalau aku terlalu kecapekan. Sangking aku putus asa dan mengalami tekanan yang begitu berat aku berpikir untuk bunuh diri. Namun aku terlalu takut untuk melakukannya. Aku tak pernah bercerita pada siapapun juga mengenai hal ini. Mungkin inilah yang membuat masalah ini terasa sangat berat sekali. Untuk menghindari teman-teman biasanya aku menyibukkan diriku sendiri misalnya dengan membaca, mendengarkan lagu, atau yang lainnya. Akupun mulai sibuk dalam keseharianku untuk mengisi waktu-waktu luang sehingga aku tidak punya waktu untuk berpikir bunuh diri.Sangking sibuknya sampai-sampai aku lupa makan dan istirahat dan aku terkena maag yang akut dan harus perawatan di rumah. Aku mulai menjadi seorang yang suka menyalahkan diri sendiri kalau aku punya nilai yang jelek dan tidak sesuai dengan apa yang kuharapkan. Biasanya kalau aku merasa bersalah aku mulai menghukum diriku sendiri. Misalnya seperti harus detention di kamar atau membaca novel. Kalau aku sudah merasa depresi begitu biasanya aku hanya tidur, nonton, bernyanyi sambil teriak-teriak atau kadang kalau moodnya lagi bagus aku biasanya membersihkan kamar dan berkata dalam hati, “Oke, kejadian kemarin udah terjadi dan aku tidak bisa mengulang waktu lagi, kalo gitu aku harus jadi lebih baik lagi lain kali dan tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi seperti kemarin.”

Dimasa SMA ini stres dan depresi yang aku alami kian besarnya sampai-sampai aku mengalami distorsi kognitif. Karena terlalu perfeksionisnya, aku merasa bahwa kegagalan atau kesalahan yang kecil membuatku menjadi seorang yang gagal total. Tak jarang juga aku mengalami overgeneralisasi, filter mental, dan pemberian cap dalam beradaptasi dan menjalin hubungan interpersonal (Santrock,2006). Contohnya, ketika aku merasa bahwa diriku tak berguna dan teman-teman adalah mahluk yang menyusahkan aku sedang melakukan pencapan dan overgeneralisasi tanpa memikirkan tanggapan rasional terlebih dahulu. Terkadang aku juga melakukan personalisasi dimana aku merasa bahwa bila kesalahan atau kerusakan terjadi itu semua adalah salahku.. Dengan tidak adanya kepercayaan diriku pada orang lain, tidak menghargai diri sendiri, susah menjalin relasi dengan teman, dan rentan terhadap penolakan orang lain membuatku sadar bahwa aku memiliki self-esteem yang rendah. Selain itu aku juga mengalami dysfunctional attitude, antara lain rentan terhadap penilaian orang lain karena locus of controlku eksternal, workaholic, dan perfeksionis. Aku tak bisa mentolerir kesalahan sedikitpun hingga menyebabkan aku stres sendiri. Disini terlihat bahwa faktor personal juga ikut memberikan kontribusi dalam menyebabkan seseorang menjadi stres.  Teknik coping yang aku pakai ketika aku sedang stres masih sama ketika aku masih SD, yaitu escape-avoidance. Aku hanya mencari tempat pelarian dimana aku bisa merasa sedikit tenang walaupun masalahku sama sekali tidak terselesaikan. Lagi-lagi teknik yang dipakai adalah emotion focused  yang tidak membawa penyelesaian masalah. Akhirnya karena terjadi secara terus-menerus maka membuatku merasa depresi berat

Pada waktu menginjak bangku SMA aku tumbuh menjadi seorang pribadi yang pendiam, introvert, perfeksionist, dan omnipotensial. Semua tugas aku kerjakan sebaik-baiknya dan tiap kali mendapat nilai buruk aku tidak pernah menyalahkan pihak luar semua itu terjadi karena kelalaian aku sendiri. aku yang mengemban tugas dan aku pulalah yang harus menyelesaikan tugas tersebut dengan baik. Di bangku SMA ini tidak ada lagi teman yang bullying padaku. akupun mendapat nilai dan prestasi yang baik di masa SMA ini. Meskipun begitu, jika ada saja seseorang yang mencela dan mengkritik aku, aku langsung sedih dan depresi. aku merasa kalau aku adalah orang yang gagal. Semua tindakan dan pikiranku  selalu bergantung atas pendapat orang lain. Aku tidak pernah puas dengan apa yang sudah aku dapatkan. Aku sulit untuk menentukan sesuatu bahkan hal-hal terkecil sekalipun seperti  membeli sebuah tas. Dan sulit sekali bagiku untuk berpikir positif. Tiap kali melakukan kesalahan kecil saja sudah cukup membuatku merasa sebagai loser dan aku pasti akan memikirkan hal tersebut sepanjang hari sampai tidak bisa tidur. Dan cukup sulit bagiku untuk menghilangkan pendapatku bahwa teman adalah makhluk jahat yang menyusahkan sampai suatu saat aku menemukan seorang sahabat yang baik sekali padaku. Namanya Dian, dia murid baru pindahan ke sekolahku. Bahkan ketika aku sakit dan tidak masuk sekolah, dia mau meminjamkan buku catatan pelajaran sepanjang hari itu padaku. Dia juga tidak pernah memanfaatkanku seperti teman-temanku yang lain. Aku baru merasakan arti persahabatan yang sebenarnya. Yang tadinya aku sangat sulit untuk percaya pada orang lain, aku mulai untuk percaya padanya dan menceritakan masalah sehari-hari padanya. Aku mulai sharing padanya dan untuk pertamakalinya aku tertawa dan merasa ada sesuatu yang terangkat dari dalam dadaku ini sepertinya perasaanku jadi lebih ringan setelah bercerita padanya. Aku senang bersahabat padanya. Apalagi kebetulan kami memiliki hobi dan kesukaan yang sama yaitu menggambar karakter anime. Kamipun saling membantu sama lain jika ada kesulitan dalam hal apapun seperti mengerjakan soal, menggambar karakter, bahkan kesulitan financial juga. Hari-hari yang menyenangkan berlalu begitu cepatnya. Aku dan dia selalu mendapat kelas yang sama dan jadilah kami selalu duduk sebangku dan kemana-mana selalu berdua bahkan sampai ada yang bilang aku lesbi. Tapi aku sudah tidak peduli lagi dengan omongan orang.. yah.. bisa dibilang sudah tuli terhadap ejekan orang. Oh ya, pas SMA tenglengku memang udah tidak separah waktu dulu karena aku menggunakan alat penyangga leher tiap kali pulang kerumah. Nah ketika aku menginjak kelas 3 SMA IPA, aku punya 1 teman baru lagi. Dan akupun mulai akrab dengan A si teman baruku itu. Tapi entah mengapa si Dian marah padaku dan bersikap bermusuhan denganku sampai membocorkan semua rahasia yang sudah kupercayakan sama dia. Hancur sudah! Kenapa disaat aku mulai percaya sama orang malah dikhianati kepercayaan tersebut. Usut punya usut ternyata Dian merasa tersisih jika aku berteman dengan A. Yah… sekali lagi aku merasa sangat bersalah atas kejadian tersebut dan meminta maaf duluan walaupun bukan salahku. Tapi sepertinya Dian masih belum bisa memafkanku sampai detik ini juga. Ditahun yang sama ini juga aku mempunyai seorang kekasih yang menurutku lumayan baik dan pengertian. Walaupun usia kami terpaut jauh, namun ia bisa menerimaku apa adanya. Aku yang hina, cacat, dan aneh ini. Aku juga tidak mengerti kenapa dia bisa naksir aku. Aku malah berpikir yang jelek tentang dia, bahwa dia mau memanfaatkankulah, dia mau mempermainkankulah, dll. Tiga bulan pertama kami pacaran aku sebisa mungkin tidak bicara kalau tidak ditanya sama dia, sehingga hal itu terkadang membuat dia kesal. Ketika aku bertanya kenapa dia bisa naksir aku dia hanya menjawab, “ya jelas dong.. kamukancantik, baik hati, jago main alat musik, dan anak pendeta lagi…” “Gila kali ni orang” begitu pikirku. Aku hanya menganggap perkataannya candaan bahkan kadang aku merasa tersindir karena ucapannya itu. Aku cantik? Buta kali.. Semua sikap dan pemikiranku ini sering sekali membuat pertengkaran-pertengkaran besar yang seharusnya tidak perlu terjadi. Dan percaya ato tidak kami masih suka bertengkar sampai sekarang. Walaupun begitu, semua kebaikan dan perhatiannya terhadapku membuat hatiku yang sedingin es mencair dan akupun mulai terbuka padanya, menceritakan semua masalahku  padanya.  Masa SMAku berakhir dengan baik, teman-temann sekelas yang tidak menyebalkan, nilai raport yang baik dan mencapai peringkat ketiga dalam memiliki rata-rata UAN yang baik.

Ok, being omnipotential is good, but not in that way (Santrock,2006). Rasa bersalah atas kejadian buruk yang menimpa orang lain membuatku merasa sangat tidak nyaman. Karena aku merasa bahwa aku bisa melakukan segala sesuatunya maka aku sering merasa cemas. Labelling diri sendiri selalu saya lakukan apalagi jika ada masalah yang terjadi. Emosi negatif baru yang muncul pada tahap perkembangan ini adalah jealousy, dimana aku takut kehilangan perhatian dan kasih sayang dari pacarku itu. Namun ada juga emosi positif yang kualami yaitu Love and tenderness. Masa SMA adalah masa yang menyenangkan. Memang betul seperti itu. Namun tetap saja semua prestasi dan afeksi yang didapatkan tidak merubah kepribadianku karena aku menganggap bahwa semua hasil yang kudapat bukan berasal dari kemampuanku sendiri tapi lebih karena faktor keberuntungan. Teknik coping yang dipakai sudah agak lebih baik dari masa-masa dulu. Sekarang teknik coping sudah berubah kearah accepting responsibility dan seeking for social support.

Dari deskripsi pengalaman hidup diatas dapat terlihat dinamika perkembangan teknik coping yang dipakai dalam menghadapi stres yang bersumber dari lingkungan social (psikososial) dan personal. Keseluruhan teknik yang dipakai kebanyakan merupakan kelompok  teknik emotion-focused ketimbang problem focused. Teknik coping yang sering dipakai pertamakali adalah teknik escape-avoidance yang prolonged berlaku semenjak SD hingga SMP yang akhirnya mengalami perubahan teknik menjadi teknik seeking for social support dan accepting the responsibility.  Dengan menggunakan teknik coping yang terakhir ini saya jadi lebih bisa membuka diri terhadap lingkungan dan perlahan-lahan mengikis distorsi kognitif yang saya punya meskipun perkembangannya tergolong lambat. Sampai sekarang saya masih agak canggung jika harus berhubungan dengan orang lain tapi saya tetap berusaha dengan dorongan keluarga serta teman-teman untuk menjadi lebih baik lagi. Saya sangat bersyukur dapat mengikuti kelas stress management dimana saya mendapatkan lebih banyak lagi teknik-teknik menanggulangi stres lebih baik lagi dan mendapatkan lebih banyak pengetahuan mengenai stres.

Oleh: Carolina.M.

Incoming search terms:

Filed in: Artikel Tags: , ,

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan isikan alamat email Anda untuk berlangganan artikel HarmoniHidup.com secara gratis melalui email:

N.B: Jangan lupa untuk membuka e-mail Anda dan melakukan verifikasi

Delivered by FeedBurner

Recent Posts

Bookmark and Promote!

9 Responses to "Stresor Psikososial dan Kaitannya Dengan Self Esteem"

  1. informasinya bgus lmyan bisa tmbah tmbah wawasan, update trus yah gan mga sukuses selalu

  2. Shin Ohtake says:

    bersahabat dengan masalah hidup emang gampang gampang susah. Tapi bagaimanapun kan life must go on

  3. Obat Kuat says:

    Kadang kala hal ini tidak disadari oleh banyak orang. Artikel yang sangat bermanfaat

  4. Waw, keren… Moga bermanfaat, Kunjungi blog saya juga ya?.

  5. makasih udah berbagi moga jadi inspirasi buat semua

Leave a Reply

Submit Comment

© 2013 Harmoni Hidup. All rights reserved. XHTML / CSS Valid.
eXTReMe Tracker