- 1. Latar belakang
Setiap manusia baik pria maupun wanita pasti memiliki dan pernah merasakan rasa takut dan panik yang datang secara tiba-tiba. Hal ini merupakan hal yang sangat manusiawi, walaupun memang tiap orang memiliki tingkat rasa takut dan panik yang berbeda-beda. Rasa takut dan panik merupakan bagian yang penting dari sistem pertahanan tubuh. Rasa takut dan panik biasanya akan langsung muncul ketika kita dihadapkan pada situasi yg mengancam. Misalnya, apabila sebuah mobil tiba-tiba melaju dengan kecepatan tinggi pada saat kita sedang menyeberang jalan. Merasa panik dalam situasi seperti itu adalah normal. Dalam keadaan mengancam seperti itu, rasa panik membuat kita mereflek sesuatu dengan lebih cepat, yaitu berlari dengan kencang ke seberang jalan. Rasa takut dan panik seringkali menjadi hal yang lebih serius ketika ketakutan tersebut tidak lagi rasional dan terjadi panic attack yang berlebihan. Ketakutan berlebihan tersebut disebut PHOBIA.
- 2. PHOBIA
Phobia diidentifikasikan sebagai ketakutan terus menerus secara irasional terhadap suatu benda, situasi, fenomena atau aktivitas spesifik yang menyebabkan suatu keinginan untuk menghindari objek tersebut. phobia bisa dikatakan dapat menghambat kehidupan orang yang mengidapnya. Bagi sebagian besar orang normal, perasaan takut seorang pengidap phobia sulit dimengerti. Itu sebabnya, pengidap tersebut sering dijadikan bulan bulanan oleh teman sekitarnya. Ada perbedaan “bahasa” antara seorang yang tidak mengidap phobia dengan seorang pengidap phobia. Sesorang yang tidak mengidap phobia akan menggunakan bahasa logika, sementara seorang pengidap phobia biasanya menggunakan bahasa rasa. Seseorang yang tidak mengidap phobia pasti akan merasa lucu jika melihat seseorang berbadan besar takut dengan hewan kecil seperti kecoak atau tikus. Sementara dibayangan mental seorang pengidap phobia, subjek tersebut menjadi benda yang sangat besar, berwarna, sangat menjijikkan ataupun menakutkan. Dalam keadaan normal, setiap orang memiliki kemampuan mengendalikan rasa takut. Akan tetapi bila seseorang terpapar terus menerus dengan subjek phobia, hal tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya fiksasi. Fiksasi adalah suatu keadaan dimana mental seseorang menjadi terkunci, yang disebabkan oleh ketidakmampuan orang yang bersangkutan dalam mengendalikan perasaan takutnya. Penyebab lain terjadinya fiksasi dapat pula disebabkan oleh suatu keadaan yang sangat ekstrim seperti kejadian-kejadian traumatik yang dialami pengidap di masa lalu.
Seseorang yang pertumbuhan mentalnya mengalami fiksasi akan memiliki kesulitan emosi (mental blocks) dikemudian harinya. Hal tersebut dikarenakan orang tersebut tidak memiliki saluran pelepasan emosi (katarsis) yang tepat. Setiap kali orang tersebut berinteraksi dengan sumber phobia secara otomatis akan merasa cemas, untuk memberikan kenyamanan, maka cara yang paling mudah dan cepat adalah dengan cara “mundur kembali”/regresi kepada keadaan fiksasi. Kecemasan yang tidak diatasi seawal mungkin berpotensi menimbulkan akumulasi emosi negatif yang secara terus menerus ditekan kembali ke bawah sadar (represi). Pola respon negatif tersebut dapat berkembang terhadap subjek subjek phobia lainnya dan intensitasnya semakin meningkat. Walaupun terlihat sepele, “pola” respon tersebut akan dipakai terus menerus untuk merespon masalah lainnya. Itu sebabnya seseorang penderita phobia menjadi semakin rentan dan semakin tidak produktif. phobia merupakan salah satu hambatan yang dapat sangat mempengaruhi hidup si pengidap selanjutnya.
Berikut ini adalah jenis-jenis phobia yang cukup umum dan seringkali kita dengar di lingkungan sehari-hari, antaralain;
- Altophobia/acrophobia – takut akan ketinggian
- Bathophobia – takut akan kedalaman
- Achluophobia – takut akan kegelapan
- Arsonphobia – takut api
- Hemophobia – Takut darah
- Cenophobia – takut akan ruangan yang kosong.
- Antlophobia – takut banjir
- Cleptophobia – takut kemalingan
- Enochlophobia – takut pada keramaian
- Iatrophobia – takut pada dokter
- Necrophobia – takut pada kematian
Dari data di atas, mungkin sebagian dari kita masih memaklumi ketakutan-ketakutan yang mengakibatkan phobia tersebut, karena memang sebagian besar dari penyebab phobia adalah hal-hal yang tidak disukai olah orang. Namun, ternyata masih ada jenis-jenis phobia lainnya yang sangat tidak biasa bahkan terkesan aneh, karena phobia tersebut adalah ketakutan berlebihan pada hal-hal yang disukai semua orang. Antaralain;
- Aphenphosmphobia – takut disentuh
- Aurophobia – takut emas
- Bibliophobia – takut akan buku
- Caligynephobia – takut wanita cantik
- Chrometophobia or Chrematophobia – takut uang
- Didaskaleinophobia – takut pergi ke sekolah
- Coulrophobia – takut pada badut
- Philophobia – Takut jatuh cinta
- Plutophobia – Takut kaya
- Geliophobia – takut akan tertawa
- Geniophobia – takut pada dagu
- Genuphobia – takut pada lutut
- Melophobia – takut atau benci musik dan masih banyak lagi.
Ketika seseorang pengidap phobia bertemu dengan hal yang mereka takuti atau hal-hal yang mereka yakini akan membuat mereka takut, mereka akan mengembangkan gejala-gejala kecemasan fisik tertentu. Kecemasan terdiri dari sekumpulan gejala dan tiap orang memiliki pola gejala yang berbeda. Bagi banyak orang, hal ini cukup untuk membuat mereka benar-benar menghindari apa pun yang mereka takuti sepanjang hidup mereka. Tetapi terkadang, hal itu tidak dapat dihindari dan orang tersebut terpaksa masuk ke dalam situasi yang mereka takuti. Contohnya, seorang phobia dokter gigi tidak pergi ke dokter gigi selama bertahun-tahun, padahal sebenarnya ia sangat membutuhkan perawatan gigi atau seorang pengidap phobia darah yang mengalami kecelakaan. Dalam situasi itulah, rasa panik langsung datang menyerbu. Gejala-gejala seseorang terkena panic attack antaralain; ia akan merasa jantungnya berdebar kencang, kesulitan mengatur nafas, dada terasa sakit, wajah memerah dan berkeringat, merasa sakit, gemetar, tangan dan kaki berkeringat, pusing, mulut terasa kering, tubuh terasa lemas, dan merasa perlu pergi ke toilet.
Pengalaman ini dapat terjadi dengan sangat cepat sampai seseorang bahkan merasa bahwa mereka sedang mengalami serangan jantung. Meskipun, kekuatiran ini justru rasa panik itu sendiri. Beberapa orang dapat juga merasa bahwa reaksi tubuh mereka sangat ekstrim dan sangat tidak terkontrol. Bahkan, mereka merasa hanya sebagai pengamat dari apa yang terjadi pada tubuh mereka sendiri. Meskipun mereka tidak menjelaskan pengalaman di luar tubuh, mereka mendeskripsikan perasaan seolah-olah terpisah dari apa yang sedang terjadi. Atau seolah-olah seluruh situasi yang mereka alami tidak lah nyata.
- 3. STRES pada Pengidap PHOBIA
Di dunia ini tidak ada seorang pun yang ingin dilahirkan dan hidup dengan mengidap phobia. Menurut sebuah film buatan BBC, dikatakan bahwa phobia
dapat ditularkan dari orangtua ke anaknya. Sebagai contoh; ketika seorang ibu yang mengidap phobia belalang sedang berjalan-jalan di taman dengan puterinya yang masih kecil, tiba-tiba si ibu berteriak histeris sambil berlari menjauh saat melihat seekor belalang terbang. Si ibu juga menarik cepat-cepat tangan anaknya. Secara tidak langsung, si anak yang melihat kepanikan ibunya juga akan merasa panik. Kejadian tersebut terjadi berulang kali setiap kali si ibu melihat belalang. Lama-lama si anak akan menganggap belalang adalah sesuatu yang negatif, mengerikan dan mengancam.
Hal lain yang paling sering menimbulkan phobia adalah pengalaman-pengalaman traumatik di masa lalu. Trauma adalah suatu kejadian yang mengguncang secara psikologis. Biasanya peristiwa tersebut terjadi secara tiba-tiba, dasyat bahkan mengancam jiwa. Untuk itulah orang yang merasakannya mengalami ketakutan yang sangat intens dan tidak berdaya. Beberapa tahun ini, kita kerap dihadapkan pada musibah massal bertubi-tubi. Mulai dari tragedi bom, jatuhnya pesawat, bencana alam hingga musibah besar gempa dan badai tsunami. Tak sedikit masyarakat Indonesia mengalami trauma pascabencana. Jika tak ditangani secara tepat, hidup mereka akan terus dihantui trauma. Trauma-trauma yang menghantui itulah yang jika semakin lama dibiarkan akan menjadi bibit-bibit phobia. Seseorang yang telah mengidap phobia karena trauma akan suatu kejadian yang amat menyedihkan atau mengerikan di masa lalu, cenderung akan sangat rentan dilanda STRES.
Stres adalah sebuah respon alami dari tubuh dan jiwa kita ketika menerima tekanan dari lingkungan. Dampak dari stres pun beraneka ragam, antara lain; dapat mempengaruhi kesehatan mental dan fisik. Stres berkepanjangan akan menyebabkan ketegangan dan kekhawatiran yang terus-menerus. Seorang pengidap phobia akan selalu memendam kecurigaan di mana pun ia berada, terlebih lagi di tempat-tempat yang berhubungan dengan sumber phobianya. Kekhawatiran, rasa panik dan rasa was-was membuatnya tertekan. Hal inilah yang memacu timbulnya stres berkepanjangan/ stres kronis. Stres kronis bersifat menggerogoti dan menghancurkan tubuh, pikiran dan seluruh kehidupan penderitanya secara perlahan-lahan. Akibatnya, si pengidap phobia akan terus-menerus merasa tertekan dan kehilangan harapan. Selain itu, sebisa mungkin mereka cenderung menjauhkan diri dari hal-hal yang berhubungan dengan phobianya. Akibatnya, mereka lebih banyak menarik diri dari lingkungan, tidak lagi mengikuti kegiatan yang biasa dilakukan dan mudah emosi. Tidak heran kalau akibat dari sikapnya ini mereka dijauhi teman-temannya. Respon negatif ini akan semakin menambah beban yang diderita mereka. Inilah yang disebut pengidap phobia kronis.
Berikut adalah gejala-gejala stres yang dialami para pengidap phobia kronis, yaitu :
- Mengalami mimpi buruk berulang kali mengenai hal-hal menakutkan, berhubungan dengan phobia yang diderita (contoh: seseorang yang phobia tempat tinggi/ acrophobia bermimpi jatuh dari rolercoaster paling tinggi), dan insomnia (tidak bisa tidur karena takut bermimpi hal yang menakutkan).
- Menarik diri dari lingkungan. Misalnya menghindari tempat-tempat yang akan menimbulkan phobia atau tidak mau melakukan kegiatan-kegiatan yang disuka.
- Gangguan makan: mual dan muntah, kesulitan makan, atau justru kebutuhan sangat meningkat untuk mengkonsumsi makanan.
- Hiperaktif yang negatif, punya kegelisahan yang berlebihan, rasa kekuatiran yang tidak masuk akal dan sikap yang tak tenang.
- Kewaspadaan berlebih, kebutuhan besar untuk menjaga dan melindungi diri.
- Merasa terganggu bila diingatkan, atau teringat tentang traumanya ( bila phobia yang diderita memang ditimbulkan oleh trauma masa lalu) oleh sesuatu yang dilihatnya, didengar, dirasakan, dicium, atau dirasakan (lidah)
Stres kronis yang menimpa kebanyakan pengidap phobia, sangatlah perlu diperhatikan dan diwaspadai. Stres kronis, apabila tidak ditangani secara benar, akan berpengaruh buruk bagi kesehatan. Beberapa gangguan kesehatan di bawah ini adalah beberapa dampak dari stres kronis bagi kesehatan.
- Memicu sakit jantung
Dalam jangka panjang, stres yang tidak terkendalikan akan memicu naiknya tekanan darah sehingga risiko terkena serangan jantung meningkat. Stres juga dapat menaikkan kadar kolesterol dalam darah. Kondisi ini yang membuat pembuluh arteri tersumbat sehingga penderitanya rentan terhadap serangan jantung atau lazim kita kenal dengan stroke.
- Menyebabkan tubuh gampang lelah dan tak bertenaga.
Ini karena hormon serotonin dan melatonin terganggu saat tubuh sedang stres. Perlu diketahui, kedua hormon ini memegang peran utama untuk membantu kita tidur nyenyak. Kondisi sulit tidur akan memicu naiknya hormon kortisol dalam tubuh. Akibatnya, mata sulit dipejamkan alias insomnia.
- Menimbulkan gangguan lambung seperti sakit maag.
Sakit maag muncul karena produksi asam lambung berlebih. Nah, saat Anda stres, tubuh akan memroduksi asam lambung dalam jumlah di atas normal dan juga mengikis lapisan lambung atau mukosa, yang pada akhirnya menimbulkan rasa perih, yang kita kenal sebagai sakit maag.
Stres yang semula kita anggap sepele ternyata apabila berlebihan akan membawa dampak yang sangat berat bagi hidup pengidapnya. Tidak hanya menghancurkan psikis/ jiwa seseorang tetapi juga fisik seseorang. Pada dasarnya stres dapat dimanage dan dikontrol dengan adanya kemauan para penderitanya sendiri. Beberapa hal positif yang dapat dilakukan pengidap phobia dalam meminimalisasikan stres adalah sebagai berikut :
1. Lepaskan segala kekhawatiran dan tekanan yang ada dengan menangis.
Menangis sebagai langkah awal untuk memulai penyembuhan stres. Jika stress dianalogikan seperti racun, maka jika tidak dikeluarkan dari tubuh akan menurunkan sistem kekebalan tubuh dan proses biologis lainnya. proses pengeluaran racun dari dalam tubuh biasanya adalah ketika kita berkeringat dan menangis. Selain melegakan, menangis itupun sehat. Alasan lain kenapa orang merasa lebih baik menangis saat emosional adalah karena air mata yang keluar mengandung lebih banyak protein termasuk hormon penyebab stress. Dengan aktivitas menangis ini, air mata yang keluar akan menstimulasikan produksi hormon endorphin, sehingga muncullah rasa lebih baik pada diri kita.
2. Bergabung dalam support group.
saran ini lebih dikhususkan bagi mereka yang mengalami phobia karena pengalaman traumatik di masa lalu. Dimana di dalam group tersebut, para pengidap phobia dipertemukan dengan teman-temannya yang juga mengidap phobia. Disana mereka akan di sadarkan bahwa mereka tidak sendirian. Disana mereka juga diajarkan untuk bisa menerima kenyataan. Saling berbagi dan bercerita. Pada dasarnya setiap orang memiliki kemampuan dan daya tahan untuk menghadapi masa-masa sulit.
3. berkonsultasi dengan psikolog profesional untuk mencari akar asal muasal dari penyebab ketakutan itu. Setelah diketahui penyebabnya, baru diisi dengan sesuatu yang rasional sehingga mereka dapat menjalani hari-harinya secara normal. Di dalam konsultasinya, sang psikolog juga dapat memberikan sugesti-sugesti yang bertujuan mengubah cara pandang para pengidap phobia akan hal-hal yang menurut mereka menakutkan.
4. meminta bantuan terapis.
Contoh : pada pengidap phobia acrophobia/ phobia ketinggian/ tempat tinggi.
Terapis akan membantunya menemukan situasi yang tepat yang membuatnya takut, lalu membantu membuatnya merasa cukup aman dalam situasi itu. Caranya dengan menunjukkan rasa takut ketinggiannya, lalu membantunya secara bertahap dengan melangkah, menaiki tangga, naik eskalator, dan akhirnya sampai ke puncak. Dengan latihan bertahap, lama-lama ia akan mampu melawan perasaan takut ketinggian tersebut.
5. Hilangkan kesepian dan libatkan diri pada orang-orang terdekat. Terutama keluarga dan sahabat-sahabat yang dicintai.
6. Menjaga kesehatan dengan melakukan pola hidup sehat.
Tidur cukup (7-8 jam sehari) telah terbukti benar-benar mengurangi stres, hindari/batasi kafein, menkonsumsi makanan bergizi, dan olahraga teratur. Olah tubuh dapat merangsang keluarnya endorphine, yaitu zat yang membuat tubuh merasa nyaman, sehingga orang yang berolahraga teratur biasanya tampak sehat dan bahagia. Olah raga teratur sebaiknya didukung juga dengan pola makan yang sehat dan istirahat yang baik.
7. Meningkatkan kegiatan-kegiatan yang dapat lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Berdoa, meditasi, dan lainnya akan membuat hidup terasa lebih damai dan tenang.
Oleh: FEBRINAULY RUTH VALENTINE SILAEN
Incoming search terms:
- akibat phobia,dampak phobia,dampak fobia,latar belakang phobia,phobia kecepatan,hal yang dapat membuat phobia,akibat dari phobia,cara menghilangkan phobia darah,dampak dari phobia,phobia takut melihat seseorang,efek fobia data pengidap,phobia belalang,Gejala fhobia,gejala phobia,hormon yang menyebabkan stres dan panik





cara mengatasi phobia yang benar itu g mna gan ?