stres karena global warming

menghilangkan stres

3

Pemanasan Global: Stressor Terbaru dan Cara Penanganannya

menghilangkan stresMasih ingat tentang pertemuan UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change) yang diadakan di Bali pada Desember tahun 2007 lalu? Isu yang diangkat tentu saja berkaitan dengan perubahan iklim akibat pemanasan global. Dua kata terakhir adalah topik yang sering sekali dibahas belakangan ini. Lalu, apa kaitannya pemanasan global dengan stres?

Pemanasan global menjadi isu yang sering sekali dibahas dalam beberapa tahun belakangan ini. Sebagian orang mungkin menganggap pemanasan global bukanlah masalah penting. Namun, sebagian orang yang lain sudah mulai menganggap serius isu ini. Kenyataan yang terjadi adalah pemanasan global merupakan hal serius yang membutuhkan perhatian masyarakat luas.

Pemanasan global bukan hanya mengancam lingkungan tetapi juga makhluk hidup yang menempati Planet Bumi. Ancaman terhadap lingkungan mulai terlihat sedikit demi sedikit. Adanya banjir, badai, tsunami, dan fenomena alam lain yang sebelumnya jarang terjadi merupakan tanda bahwa pemanasan global sudah mulai meningkat.

Tentu saja fenomena alam tersebut membawa dampak bagi manusia dan makhluk lain. Pemanasan global menimbulkan stres bagi sebagian orang yang mengalami langsung fenomena alam seperti banjir. Dan dalam beberapa tahun mendatang bukan tidak mungkin pemanasan global akan menjadi sumber stres bagi setiap penghuni bumi.

Sebenarnya, apa itu pemanasan global? Bagaimana pemanasan global menimbulkan stres? Berikut adalah penjelasan mengenai pemanasan global dan hubungannya dengan stres.

Pemanasan Global

Pemanasan global (global warming) adalah peningkatan suhu udara di permukaan bumi dan lautan yang terjadi dalam beberapa dekade ini (www.wikipedia.com). Pemanasan global menyebabkan terjadinya perubahan pada temperatur, gelombang hawa panas, curah hujan, dan hal lainnya yang disebut sebagai perubahan iklim (climate change) (www.eoearth.org). Pemanasan global ini disebabkan oleh dua faktor utama yaitu faktor alam dan faktor manusia.

Suhu udara di permukaan bumi dan konsentrasi CO2 di udara mengalami perubahan seiring dengan posisi Planet Bumi terhadap matahari yang terus bervariasi (www.nationalgeographic.com). Hal ini didukung dengan solar variation theory yang menyeburkan bahwa dalam beberapa dekade terakhir ini matahari berada dalam posisi terkuat selama 60 tahun terakhir. Maka, matahari sebagai sumber energi terbesar bagi bumi ini menjadi faktor alami penyebab terjadinya pemanasan global. Planet Bumi menyerap sekitar 70% panas yang dipancarkan matahari. Dan panas inilah yang menyebabkan peningkatan suhu udara di permukaan bumi dan lautan (D’Silva, 2007).

Peningkatan suhu ini ternyata dipengaruhi oleh faktor alam lain. Fenomena alam seperti gunung meletus menyebabkan keluarnya partikel yang dapat mendinginkan permukaan bumi. Sedangkan, siklus El Niño juga mempengaruhi terjadinya pemanasan global. Namun, kedua fenomena alam ini hanya berdampak sementara terhadap pemanasan global (www.nationalgeographic.com).

Pemanasan global yang seharusnya terjadi perlahan sesuai dengan hukum alam ini justru dipercepat akibat ulah manusia. Pembakaran hutan seperti yang terjadi di Kalimantan dan polusi udara menyebabkan kadar CO2 di udara meningkat. Usaha industri juga ikut menyumbang peningkatan pemanasan global melalui pembuangan gas metana. Padahal, kedua gas ini masing-masing menyumbang 12% dan 10% terhadap efek rumah kaca (greenhouse effect). Efek rumah kaca inilah yang menyebabkan pemanasan global semakin meningkat (Pearson & Palmer, 2000).

Hubungan Pemanasan Global dengan Stres

Lalu, apa hubungan pemanasan global dengan stres? Stres yang dimaksud dalam hal ini adalah distress atau stres yang menimbulkan kondisi psikologis yang tidak menyenangkan (Selye, 1956). Pemanasan global sendiri merupakan salah satu penyebab stres yang berasal dari lingkungan (environmental stress). Dampak dari pemanasan global inilah yang menimbulkan stres bagi manusia. Beberapa dampak pemanasan global sudah mulai dirasakan oleh manusia. Namun, masih banyak dampak lain yang dari pemanasan global yang lebih berbahaya dan belum disadari sepenuhnya oleh manusia.

Stres yang disebabkan oleh pemanasan global dimulai dengan munculnya banyak perubahan. Perubahan utama yang dirasakan akibat pemanasan global adalah perubahan iklim. Pada umumnya, perubahan menyebabkan ketidakseimbangan secara fisik maupun psikologis. Perubahan yang akibat kejadian yang bersifat negatif biasanya menimbulkan rasa tidak nyaman (Girdano, 2005). Perubahan iklim merupakan salah satu contoh kejadian yang bersifat negatif. Perubahan iklim ini menimbulkan ketidakseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan manusia terutama dalam sektor lingkungan dan kesehatan.

Ketidakseimbangan lingkungan yang dapat dialami secara nyata oleh manusia adalah peningkatan suhu udara.  Hawa panas belakangan ini sangat terasa di berbagai daerah. Di Indonesia sendiri yang beriklim tropis, hawa panas terasa sangat menyengat. Sedangkan di negara lain seperti Amerika Serikat, hawa panas juga melanda beberapa negara bagian. Dalam situs www.epa.gov disebutkan bahwa negara bagian Chicago mengalami peningkatan suhu udara sebesar 25%. Dan di negara bagian Los Angeles suhu udara dapat mencapai 50°C pada musim panas lalu.

Fakta

(www.eoearth.org)

  • Suhu permukaan bumi dan lautan telah mengalami peningkatan sebesar 0,75°C pada periode 1860-1900.
  • Berdasarkan World Meteorological Organization (WMO),  periode 1998-2007 merupakan periode terhangat.
  • Pada tahun 2007, suhu permukaan bumi meningkat 0,41°C dari periode 1961-1990 yang berkisar pada 14°C

Ketidakseimbangan lingkungan ini secara langsung memberi dampak bagi kesehatan. Ketika tubuh manusia harus berhadapan dengan perubahan suhu seperti ini maka tubuh manusia akan merespon (Girdano, 2005). Hawa panas ini menyebabkan peningkatan produksi keringat dan terjadinya dehidrasi. Selain itu, hawa panas juga menyebabkan timbulnya penyakit yang berhubungan dengan pernafasan seperti asma. Bayangkan jika Anda harus melakukan banyak aktivitas yang menuntut konsentrasi penuh di tengah teriknya matahari. Sangat melelahkan bukan?

Perubahan lain akibat pemanasan global adalah bencana alam seperti banjir, badai, dan angin topan. Bencana alam, seperti banjir yang terjadi di Indonesia dan badai Katrina di New Orleans, tergolong sebagai short-term catastrophic disaster (Rice, 1992). Artinya, dampak dari banjir atau badai dirasakan langsung oleh korban sesaat setelah kejadian. Banjir dan badai membawa perubahan lingkungan yang sebelumnya nyaman menjadi tidak nyaman. Beberapa korban mungkin harus pindah ke tempat pengungsian dan beberapa korban lain yang memilih tetap tinggal di rumah yang sudah terendam banjir. Dalam hal ini, para korban harus menghadapi kenyataan dan situasi baru seperti barang-barang berharga yang ikut terendam banjir, ketidaktersediaan air dan makanan serta kemungkinan paling akhir adalah kematian anggota keluarga akibat hanyut.

Korban yang mengalami perubahan akibat bencana alam seperti ini umumnya melewati tiga tahapan. Tahap pertama disebut sebagai shock stage. Korban merasa bingung, terkejut, dan tidak tahu harus berbuat apa. Kemudian, korban akan masuk ke dalam tahap kedua yaitu suggestible stage. Pada tahap ini, korban menjadi pasif, rapuh, dan mungkin mulai mencari bantuan. Dan pada tahap terakhir, recovery stage, korban mungkin menjadi pencemas (Rice, 1992).

Setelah bencana alam berakhir biasanya korban akan mengalami posttraumatic stress disorder (PTSD). Korban-korban mungkin mengalami gejala seperti rasa cemas, rasa bersalah, menarik diri, depresi, marah, dan frustasi. Gejala lain yang mungkin terjadi adalah diorientasi, merasa tidak aman, serta gangguan makan dan tidur.

Beberapa korban mungkin mengalami phobia. Misalnya pada korban banjir sangat mungkin mengalami phobia terhadap air. Individu tertentu mungkin takut untuk melihat air. Phobia ini dapat dijelaskan menggunakan classical conditioning theory (Rice, 1992). Pada awalnya, air merupakan stimulus yang bersifat netral bagi individu yang bersangkutan. Kemudian, individu ini menjadi korban banjir yang menyebabkan rumah dan harta bendanya terendam. Banjir menimbulkan perasaan yang tidak menyenangkan bagi individu tersebut. Selanjutnya, air yang semula bersifat netral diasosiasikan dengan rasa tidak menyenangkan akibat banjir. Hal inilah yang menimbulkan phobia bagi indvidu yang bersangkutan.

Phobia yang disebutkan di atas mungkin tidak terlihat pasca terjadinya bencana alam. Phobia tersebut mungkin akan muncul dalam kurun waktu yang lama. Hal inilah yang disebut sebagai background stressors atau ada juga yang menyebutnya sebagai ambient stressors. Stressor ini bersifat kronis dan muncul mungkin dalam jangka waktu tahunan (Rice, 1992).

Dampak lain dari pemanasan global yang belum dirasakan sepenuhnya adalah masalah pencemaran udara (air pollution). Pemanasan global menyebabkan lapisan ozon menipis. Hal ini menyebakan polutan-polutan di udara yang berbahaya dapat masuk ke permukaan udara di Bumi. Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), polutan-polutan berbahaya seperti ground-level ozone dan partikel debu ini dapat menimbulkan penyakit pernafasan dan merusak lapisan jantung.

Kualitas udara menjadi semakin buruk bukan hanya akibat pemanasan global tetapi juga akibat polusi dari kendaraan bermotor. Hal ini menimbulkan air pollution syndrome (APS). Sindrom ini menunjukkan gejala-gejala seperti pusing, insomnia, depresi, iritabilitas, iritasi mata, dan gangguan perut. Jika polusi udara ini dibiarkan terus-menerus berlanjut, maka dampak yang akan dirasakan oleh manusia bukan lagi sekedar APS. Dampak yang mungkin dirasakan oleh manusia adalah penurunan performa kognitif seperti penurunan atensi, kecepatan bereaksi, dan kemampuan persepsi (Rice, 1992).

Polusi udara merupakan salah satu penyebab stres yang mungkin akan dirasakan dalam beberapa tahun mendatang. Penyebab stres lain di masa yang akan datang adalah masalah produksi pangan. Pemanasan global membawa faktor-faktor yang menyebabkan gagal panen. Faktor-faktor tersebut adalah masa kemarau berkepanjangan akibat peningkatan suhu udara, perubahan pola dan intensitas hujan, peningkatan kadar CO2 di udara, peningkatan polutan di udara, dan banyaknya bencana alam (www.epa.gov). Dengan demikian, bencana kelaparan sangat mungkin melanda berbagai negara yang mengandalkan sektor agrikultural.

Stres Akibat Pemanasan Global Juga Dialami Makhluk Lain

Stres akibat perubahan iklim tentu saja tidak hanya dirasakan oleh manusia. Organisme lain di Planet Bumi ini yang ikut merasakan dampak pemanasan global adalah hutan beserta tanaman hijau lainnya. Kelangsungan hidup hutan bergantung pada perubahan iklim. Perubahan temperatur, curah hujan, kandungan CO2, dan efek rumah kaca menyebabkan kelangsungan hidup dari hutan menjadi semakin singkat (Shugart, Sedjo and Sohngen, 2003). Hujan asam dan pembakaran hutan juga membuat kelangsungan hidup hutan semakin singkat. Hal ini tentu saja mempengaruhi kehidupan manusia. Pernahkah terpikir oleh Anda jika tanaman hijau berkurang artinya ketersediaan oksigen juga menipis?

Organisme selanjutnya yang mengalami dampak langsung perubahan iklim adalah daerah kutub. Perubahan iklim membawa dampak yang paling nyata bagi kutub. Es di kutub mulai mencair dalam beberapa dekade belakangan ini. Thomas F Stocker menyebutkan dalam jurnal yang ditulis untuk IPCC (2001) bahwa keadaan di kutub diperparah dengan adanya proses alam yang disebut ice-albedo effect. Es di kutub yang meleleh menyebabkan permukaan air menjadi semakin luas. Padahal kemampuan air untuk merefleksikan cahaya lebih rendah dari dibandingkan substansi es. Hal ini menyebabkan air lebih banyak menyerap panas sehingga es akan menjadi lebih cepat meleleh. Ironisnya, proses ini terjadi terus-menerus.

Daerah kutub menjadi habitat (tempat tinggal bagi hewan) penting bagi para penghuninya. Beruang kutub, anjing laut yang bermukim di kutub, burung-burung yang bermigrasi selama musim dingin, caribou, dan rusa kutub adalah penghuni kutub yang paling merasakan dampak pemanasan global menurut Arctic Climate Impact Assessment (ACIA) (2004). Melelehnya es di kutub berarti mobilitas hewan yang bergantung pada luas daerah es menjadi terganggu. Beberapa hewan seperti beruang kutub dan anjing laut mengalami gangguan.

Contohnya dapat dilihat melalui tayangan Planet Earth di Discovery Chanel. Dalam salah satu episode tayangan tersebut diperlihatkan seekor beruang kutub yang harus mencari makan bagi anak-anaknya. Sebelum es mencair, beruang kutub hanya menyelam ke dalam air dengan jarak tidak lebih dari 1 mil untuk menemukan anjing laut. Sekarang, beruang kutub harus menyelam dan berenang sejauh lebih dari 60 mil hanya untuk menemukan makanan. Anjing laut yang menjadi makanan beruang kutub juga harus mencari daratan lain akibat es yang mencair. Beruang kutub yang berenang sejauh 60 mil itu akhirnya sampai di daratan dan menemukan anjing laut. Setelah menempuh jarak yang jauh, ia harus menangkap mangsanya. Namun, tenaganya sudah terkuras selama perjalanan sehingga ia tidak mendapat mangsa. Beruang kutub ini pun beristirahat dengan keadaan lapar. Akhirnya, beruang kutub itu mati sementara anak-anaknya belum mendapatkan makanan. Ironis bukan?

Selain beruang kutub dan anjing laut, caribou dan rusa kutub juga kehilangan habitatnya. Kedua organisme ini hidup dengan mengandalkan tundra untuk vegetasi. Mereka mencari makan dan membesarkan anak di daerah tundra. Namun, daerah tundra di kutub juga ikut meleleh (ACIA, 2004).

Cara Menangani Stres Akibat Pemanasan Global

Bayangkan jika dampak pemanasan global ini terus-menerus terjadi! Dalam sepuluh tahun mendatang, apakah kita masih bisa melihat hutan yang hijau? Apakah beruang kutub masih dapat menikmati habitatnya? Tentu saja jika semua hal ini semakin dipikirkan maka akan mendatangkan stres bagi kita. Tetapi, kabar baiknya adalah kita dapat menangani atau setidaknya meminimalkan stres akibat pemanasan global itu.

Cara terbaik untuk mencegah timbulnya stres akibat pemanasan global adalah melakukan pencegahan sebelum hal buruk terjadi. Pemanasan global merupakan hal yang tidak bisa dicegah karena sebagian faktor yang menyebabkan hal ini terjadi adalah alam sendiri. Oleh karena itu, kita dapat beradaptasi dengan penyebab stres itu (www.helpguide.org). Dalam hal ini berarti beradaptasi dengan pemanasan global. Bagaimana caranya? Jawabannya adalah mengubah gaya hidup Anda!

Merubah gaya hidup Anda dapat dimulai dari rumah tangga. Nathan Brown, pemerhati lingkungan, mengatakan bahwa salah satu cara beradaptasi dengan pemanasan global di rumah adalah mengurangi pengeluaran energi. Mematikan alat elektronik yang tidak terpakai adalah salah satu cara yang dapat dilakukan. Mulailah dari hal sederhana seperti mencabut charger handphone setelah selesai dipakai, mematikan layar komputer saat tidak dipakai, mematikan lampu yang tidak dipakai, dan menyalakan AC hanya jika dibutuhkan.

Cara lain yang dapat dilakukan adalah menggunakan bola lampu yang lebih efisien. Jika setiap rumah tangga mengganti satu bola lampu menggunakan bahan yang lebih cinta lingkungan maka dapat mencegah 90 miliar pon CO2 masuk ke atmosfer. Dan hal ini sama seperti mengurangi 6,3 juta mobil dari jalan raya (www.acoolerclimate.com)!

Cara selanjutnya yang dapat dilakukan adalah mengurangi penggunaan plastik. Apa Anda pernah membayangkan berapa banyak kantung plastik yang digunakan oleh manusia setiap harinya? Dan berapa jumlah botol plastik yang dibuang setiap harinya? Jika Anda tidak mengetahui jawabannya, lihatlah tumpukan sampah yang ada di sekitar Anda. Anda akan menyadari banyaknya plastik yang terbuang. Padahal, mendaur ulang plastik membutuhkan waktu jutaan tahun. Dan plastik memiliki kandungan yang berbahaya bagi tanah.

Anda dapat mengurangi penggunaan plastik dengan berbagai cara. Membawa botol minuman dalam termos adalah salah satu contohnya. Contoh lain adalah membawa tas belanja dari kain ketika belanja ke supermarket atau pasar.

Cara lainnya adalah menghemat pemakaian kertas (www.wwf.or.id). Apakah Anda tahu jika bahan dasar pembuatan kertasa adalah batang pohon? Ketika membuat kertas artinya sejumlah pohon harus ditebang. Dan artinya semakin menipis persediaan oksigen yang ada. Oleh karena itu, gunakanlah kertas dengan hemat! Jika Anda dapat menggunakan kertas bolak-balik, kenapa tidak dilakukan?

Hal-hal yang disebutkan di atas merupakan sebagian kecil dari langkah meminimalkan dampak pemanasan global. Tentunya hal tersebut secara tidak langsung mencegah timbulnya stres. Sekarang, keputusan ada di tangan Anda. Apakah Anda ingin mencegah stres akibat pemanasan global atau tidak? Itu menjadi pilihan Anda!

Oleh: Sherley

Incoming search terms:

Filed in: Artikel Tags: , ,

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan isikan alamat email Anda untuk berlangganan artikel HarmoniHidup.com secara gratis melalui email:

N.B: Jangan lupa untuk membuka e-mail Anda dan melakukan verifikasi

Delivered by FeedBurner

Related Posts

Bookmark and Promote!

3 Responses to "Pemanasan Global: Stressor Terbaru dan Cara Penanganannya"

Leave a Reply

Submit Comment

© 0039 Harmoni Hidup. All rights reserved. XHTML / CSS Valid.
eXTReMe Tracker