Tak Kenal Maka Tak Sayang
Pepatah di atas pastinya sudah sering Anda dengar, yang artinya kira-kira adalah jangan menduga-duga dahulu sebelum Anda mengenal seseorang. Bisa juga berarti jangan menyayangi sembarang orang yang belum dikenal. Atau bisa jadi rasa sayang itu muncul setelah proses berkenalan. Apapun definisinya, pada intinya adalah saya ingin Anda mengenal siapa saya terlebih dahulu sebelum Anda berlanjut membaca tulisan ini. Singkat saja, saya dilahirkan seorang wanita yang sekarang saya panggil Mama dan diberi nama Vera Ignatia Prawono. Masa kecil saya tidak menarik, karena itu mari kita lewatkan saja. Saya tinggal bersama keluarga bahagia yang terdiri dari papa, mama, dan kedua kakak saya (1 kakak perempuan dan 1 kakak laki-laki). Semua kakak saya sudah bekerja, hanya tinggal saya yang masih di bangku kuliah. Sekarang saya adalah penghuni Fakultas Psikologi sebuah kampus bernama Atmajaya. Saat ini saya sedang menuju semester 4, tinggal beberapa minggu lagi. Selain kuliah, aktivitas saya adalah latihan tenis dan menjadi freelance sales promotion girl (SPG) untuk pameran-pameran. Profesi yang terakhir saya sebutkan ini akan menjadi topik utama untuk pembicaraan di halaman-halaman selanjutnya. Saya menjalani pekerjaan ini bukan karena tuntutan ekonomi keluarga yang tidak mencukupi, tapi lebih karena saya merasa tertantang untuk menjalaninya.
Pertama kali menjadi SPG adalah saat saya sudah menyelesaikan ujian akhir nasional di SMA untuk mengisi waktu libur yang cukup panjang. Sampai sekarang saya masih menjalaninya, jadi saya kuliah sambil bekerja. Pekerjaan ini bukanlah pekerjaan tetap seperti karyawan kantor, tapi merupakan pekerjaan lepas saja. Waktunya pun sangat fleksibel, paling banyak di akhir minggu, yaitu hari Sabtu dan Minggu. Tapi tidak jarang ada panggilan untuk menjadi SPG atau usher (penerima tamu) di hari biasa. Pekerjaan ini banyak sukanya tetapi juga banyak susahnya, karena pekerjaan ini menuntut tanggung jawab yang sangat berbeda dengan tanggung jawab seorang mahasiswa. Selain harus bertanggung jawab kepada dirinya sendiri, seorang SPG juga harus bertanggung jawab pada atasan dan konsumen. Seperti apakah kelamnya kehidupan seorang SPG? Mari lihat halaman selanjutnya.
Apa itu Job Stress
Sebelum mulai mendalami tentang suka duka seorang SPG di tempat kerja, mari terlebih dahulu kita mengetahui apa itu job stress atau stres kerja.
”Work stress is an individual’s response to work related environmental stressors. Stress as the reaction of organism, which can be physiological, psychological, or behavioural reaction” (Selye, dalam Beehr, et al., 1992: 623)
Berdasarkan definisi di atas, stres kerja dapat diartikan sebagai sumber atau stressor kerja yang menyebabkan reaksi individu berupa reaksi fisiologis, psikologis, dan perilaku. Seperti yang telah diungkapkan di atas, lingkungan pekerjaan berpotensi sebagai stressor kerja. Stressor kerja merupakan segala kondisi pekerjaan yang dipersepsikan karyawan sebagai suatu tuntutan dan dapat menimbulkan stres kerja.
Stressor Sebagai SPG
Sekadar informasi di awal, stressor yang akan dibahas di sini adalah yang saya alami sendiri. Jadi jangan dipatok rata bahwa semua SPG pasti mengalaminya juga. Sebuah pekerjaan tidak akan pernah lepas dari hal-hal yang memicu stres, sekalipun pekerjaan itu hanya bersifat freelance. Beberapa hal yang mengakibatkan saya stres saat menjalani profesi sebagai SPG menurut Girdano adalah :
- Job Complexity
Semakin tinggi kompleksitas, maka pekerjaan akan semakin memicu stres (Girdano, 2005 : 253). Adakalanya pekerjaan SPG sangat mudah dan ringan, tapi ada kalanya juga beban kerja yang harus saya lakukan sangat banyak. Contohnya saja selain harus menguasai dengan sangat baik tentang product knowledge yang akan saya jual, saya juga harus membuat nota penjualan, sekaligus memegang kasir, dan menghitung stok sebelum dan sesudah acara. Pekerjaan yang kompleks seperti ini membutuhkan ketelitian dan tanggung jawab yang besar, karena itu tidak heran jika saya menjadi stres untuk menghindari terjadinya kesalahan.
- Decision Making
Tidak semua tawaran kerja menjadi SPG datang berurutan dan terstruktur. Tidak jarang ada lebih dari 1 tawaran kerja untuk hari yang sama. Jika sudah begini saya pasti merasa bingung, mana yang harus saya pilih. Banyaknya pertimbangan membuat saya cukup stres, karena saya hanya bisa memilih 1 dan mengesampingkan yang lain. Jadi saya dituntut untuk menjadi profesional dan bertanggung jawab dalam menentukan pilihan. Begitu pula dalam menjalankan pekerjaan, terkadang saya harus mengambil keputusan sendiri dalam keadaan terdesak jika tidak ada atasan atau orang yang bisa ditanya. Pada saat-saat kritis seperti ini lagi-lagi saya harus profesional dan bertanggung jawab atas tindakan yang saya lakukan. Tidak mudah memang, karena itu sangat mungkin sekali mengakibatkan stres.
- Job Ambiguity
Job ambiguity mengacu kepada kondisi di mana jobdesc membingungkan atau tidak diketahui oleh karyawan (Girdano, 2005 : 256). Meskipun pada saat briefing saya sudah diberitahu mengenai apa saja yang menjadi kewajiban saya, pada kenyataannya di lapangan kadang sangat berbeda dan membuat saya bingung. Ada satu contoh kasus, baru-baru ini saya menajdi SPG di sebuah pameran berlian. Pada saat briefing saya diharuskan untuk memegang transaksi sendiri tanpa dibantu marketing. Nyatanya saat pameran kami ditempatkan di luar konter dan semua transaksi harus melalui marketing, sedangkan SPG juga harus memenuhi targetnya masing-masing. Hal seperti ini membuat saya bingung dan harus meminta penjelasan ulang dari pihak kantor.
- Boredom
Semua orang yang pernah melakukan pekerjaan yang sama berulang-ulang pasti pernah merasakan bosan. Begitu juga dengan saya. Saya bukan bosan dengan profesi sebagai SPG, tapi saya bosan jika pameran tempat saya bertugas berlangsung terlalu lama, biasanya 1 bulan atau lebih. Menjual sesuatu yang sama dan menawarkan dengan metode yang sama selama sebulan atau lebih terasa sangat membosankan bagi saya. Awalnya semangat masih tinggi, tapi lewat dari 2 minggu semangat itu mulai menurun, sehingga kinerja pun jadi menurun.
- Shiftwork Fatigue
Profesi sebagai SPG tidak terlepas dari sistem shift. 1 shift biasanya berkisar antara 5-7 jam kerja, sedangkan longshift biasanya antara 8-9 jam kerja. Saya pernah mengalami bekerja longshift beberapa hari berturut-turut, dari pagi sampai malam dan begitu lagi keesokan harinya. Jam tidur saya cukup terganggu karena hal ini, dan saya sempat merasa stres dengan jam kerja yang demikian, apalagi jika pameran berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama dan saya diharuskan masuk setiap hari.
Stressor tambahan dari saya pribadi adalah konsumsi atau makanan. Bagi saya, makanan yang saya konsumsi saat bekerja adalah hal penting, karena
jika ada masalah dengan makanan itu imbasnya adalah pada kinerja saya. Terkadang disediakan konsumsi dari pameran, tapi jangan membayangkan makanan mewah yang menyenangkan hati. Seringkali makanan yang diberikan sangat membuat tidak nafsu makan dan menurunkan semangat. Kalau sudah begitu biasanya saya harus mencari makanan lain yang lebih layak untuk dikonsumsi demi kelangsungan tenaga saya.
Reaksi Stres yang Muncul
Beberapa reaksi stres yang sering muncul pada saya akan saya kelompokkan berdasarkan reaksi fisik, reaksi psikologis, dan reaksi tingkah laku berdasarkan Phillip L. Rice. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :
Reaksi fisik :
- Detak jantung meningkat
- Sakit kepala sebelah
- Perut kembung
- Alergi pada kulit (gatal-gatal)
- Jerawatan
- Muncul uban
Reaksi psikologis :
- Menghindari percakapan dengan stressor (jika stressor adalah orang)
- Tidak minat bercanda
- Jenuh dan kepuasan kerja menurun
- Marah
- Bingung
Reaksi tingkah laku :
- Produktivitas kerja menurun
- Sering ke pantry untuk minum atau istirahat
- Malas makan
Semua reaksi stres ini tidak selalu muncul sekaligus tapi pernah muncul dan
cenderung selalu muncul saat saya sedang stres.
Strategi Coping yang Saya Lakukan
Untuk strategi coping saya terhadap stres, saya memakai pendekatan emosional dan pendekatan masalah. Pendekatan emosional atau emotional focused yang saya lakukan diantaranya adalah menceritakan perasaan yang tidak enak atau apa yang saya alami kepada orang-orang yang bisa saya percaya seperti sahabat dan keluarga. Cara ini tergolong cukup ampuh, karena setelah bercerita rasanya kesusahan saya menjadi lebih ringan.Ada cerita lucu mengenai ini yang membuat saya masih ingat sampai sekarang. Ceritanya guru Fisika saya di kelas 2 SMA dulu sedang menjelaskan mengenai rumus luas area jika saya tidak salah. Luas area ini disimbolkan dengan A. Beliau menganalogikan rumus ini dengan pekerjaan seorang psikolog. Katanya, psikolog itu menerapkan rumus tersebut, yaitu membuat klien bercerita sehingga luas area masalah yang dimiliki klien tersebut terbagi kepada sang psikolog. Jadi semakin banyak bercerita ke orang-orang tentu luas area masalah akan semakin mengecil. Saya tergelak-gelak saat mendengarnya, meskipun tersirat sedikit penghinaan terhadap profesi psikolog. Tentu saja saya tidak mengatakan teori ini benar, karena cerita itu dimaksudkan supaya para siswa bisa lebih cepat mengerti rumus tersebut. Selain menceritakan yang saya rasakan, saya juga suka berolahraga jika sedang merasa stres. Saya sangat suka bermain tenis, karena rasanya saya bisa mengalirkan semua emosi saya dalam setiap pukulan atau dengan kata lain pelampiasan. Jika saya sedang tidak memiliki cukup waktu untuk berolahraga karena jadwal kerja yang teralu padat, saya akan bermain dengan hewan peliharaan saya, seekor hamster lokal betina yang saya namai Bolunaise. Jangan tanyakan asal-usul nama ini karena ceritanya bisa menghabiskan jatah halaman paper saya, selain itu tidak cukup menarik untuk dibaca. Bermain bersama Bolu sedikit banyak memberikan efek positif untuk saya, karena selain membelai-belainya, saya juga sambil berbicara padanya. Meskipun kedengarannya agak tidak waras, tapi perasaan saya menjadi lebih tenang sesudahnya.
Untuk pendekatan masalah atau problem focus, saya suka menerapkan social support, terutama jika sedang menghadapi masalah yang cukup berat. Saat diharuskan untuk memilih dan saya merasa tidak dapat membuat keputusan dengan bijaksana, saya akan meminta pendapat orang-orang sekitar saya. Saat saya sedang stres karena masalah di tempat kerja, saya selalu bertanya pada mama dan kakak perempuan saya bagaimana sebaiknya saya bersikap. Selain itu saya juga menerapkan apa yang diajarkan di kelas stress management, yaitu bersikap asertif. Dulu saya bisa dikatakan lebih memilih menyimpan kekesalan sendiri daripada harus mengutarakannya kepada yang bersangkutan. Sekarang jika terjadi serobot-menyerobot dalam hal penjualan di tempat kerja, saya akan langsung berbicara saat itu juga, tidak dengan nada yang membentak-bentaj atau marah-marah, melainkan dengan tegas dan agak tajam. Sampai detik ini saya selalu menyesal mengapa tidak dari dulu saya menerapkan metode ini, karena hasilnya sungguh jauh lebih baik ketimbang saya harus memendam kekesalan dan akhirnya harus menangis. Sekarang saya sudah hampir tidak pernah menangis lagi saat stres, kecuali saat menonton film-film yang menyentuh hati. Saya juga merasa orang jadi lebih menghargai saya karena tindakan yang saya ambil untuk besikap asertif. Saya masih ingat dulu jika saya ditegur atasan karena melakukan kesalahan, mata saya langsung berlinangan air mata dan saat itu juga saya mengundurkan diri. Sekarang jika itu terjadi lagi, saya akan menarik napas dalam-dalam, lalu mengemukakan pendapat saya dengan sopan dan meminta maaf jika memang saya salah. Bagi saya itu adalah sebuah ujian yang harus dihadapi bukan dihindari.
Bagaimana Menjadi SPG yang sukses dan bahagia?
Setelah membaca tulisan ini pasti Anda bisa menemukan jawabannya. Jika Anda belum menemukan jawabannya, ada baiknya Anda membaca sekali lagi dari awal. Tidak sulit untuk menjadi SPG yang sukses dan bahagia, karena jika kita sudah bisa mengatasi sumber stres yang cenderung menurunkan motivasi kerja, kita bisa menjalani pekerjaan dengan hati yang senang dan otomatis hasilnya pun akan lebih baik. Tidak hanya itu, kinerja yang bagus juga menyenangkan hati atasan sehingga akan terjalin hubungan kerja yang baik dan tidak putus-putus. Ingin bukti yang nyata? Lihatlah saya. Saya yakin akan hal ini karena saya sendiri merasakan perubahan positif dalam kehidupan kerja saya dengan melakukan apa yang ada dalam tulisan ini.
Oleh: VERA IGNATIA PRAWONO
Incoming search terms:
- jam kerja spg,suka duka menjadi spg,apa itu usher,masalah apa yang sering timbul di lapangan tentang sales promotion girl,pekerjaan menjadi usher,cara menjadi spg,kerja menjadi usher,apa itu usher spg?,trik menjadi sales promotion girl yang baik,kerja sebagai usher seperti apa?,usher itu apa?,masalah yang sering muncul pada sales promotion girl,masalah yang sering timbul di lapangan tentang spg,pekerjaan menjadi penjaga pameran,usher itu apa





sangat memotivasi