<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Harmoni Hidup</title>
	<atom:link href="http://harmonihidup.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://harmonihidup.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 17 Apr 2013 04:14:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Stres dan Kegemukan</title>
		<link>http://harmonihidup.com/stres-dan-kegemukan/</link>
		<comments>http://harmonihidup.com/stres-dan-kegemukan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Apr 2013 04:14:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harmonihidup.com/?p=391</guid>
		<description><![CDATA[Masalah obesitas ternyata tidak hanya dari pola makan saja. Masalah kegemukan badan itu, bisa juga terjadi akibat stres. Benarkah? Sudah lama banyak orang menduga kalau obesitas ada hubungannya dengan stres.... <span class="meta-more"><a href="http://harmonihidup.com/stres-dan-kegemukan/">Read more &#187;</a></span><p><a href="http://harmonihidup.com/stres-dan-kegemukan/">Stres dan Kegemukan</a> adalah Artikel dari <a href="http://harmonihidup.com">Menghilangkan Stres</a></p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://harmonihidup.com/wp-content/uploads/2013/04/Stres-dan-Kegemukan.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-393" title="Stres dan Kegemukan" src="http://harmonihidup.com/wp-content/uploads/2013/04/Stres-dan-Kegemukan.jpg" alt="stres dan kegemukan" width="150" height="150" /></a></p>
<p>Masalah obesitas ternyata tidak hanya dari pola makan saja. Masalah kegemukan badan itu, bisa juga terjadi akibat <strong><a href="http://harmonihidup.com/pemicu-stres-pada-anak/" target="_blank">stres</a></strong>. Benarkah?</p>
<p>Sudah lama banyak orang menduga kalau obesitas ada hubungannya dengan stres. Sekarang beberapa orang ilmuwan sudah menemukan korelasinya. Hal yang paling membahayakan dari hubungan antara stres dan obesitas adalah semakin kuatnya tertanam di dalam diri. Inilah hasil catatan Bonnie Taub-Dix, RD, of New York City, seorang ahli penurunan berat badan dan salah satu pembicara wanita di American Diettetic Association.</p>
<p>&#8220;Orang sering kali melarikan diri pada makanan saat dilanda stres, tapi sayangnya bukan makanan yang tepat yang mereka konsumsi,&#8221; terang Taub-Dix. &#8220;Hal ini bisa membuat berat badan bertambah dan menimbulkan stres baru untuk Anda,&#8221; tuturnya lagi.</p>
<p>Stres dan Obesitas : Hubungan Secara Biologis</p>
<p>Pernahkah Anda memperhatikan, disaat Anda mengalami stres berat apakah Anda cenderung memilih makanan yang membuat Anda merasa nyaman seperti makanan-makanan yang tinggi lemak dan gula? Para peneliti telah menemukan hormon di dalam tubuh kita yang sangat berperan dalam masalh ini. Diantaranya adalah:</p>
<p>Serotonin<br />
Disaat Anda mencapai titik nyaman karena makanan yang menggemukkan selama masa stres, hal itu mungkin menjadi usaha untuk mengobati diri. &#8220;Karbohidrat yang Anda makan meningkatkan kadar serotonin,&#8221; jelas Taub-Dix. &#8220;Serotonin adalah hormon di dalam tubuh yang membuat Anda merasa &#8216;baik&#8217;. Tak heran jika orang-orang yang berada di bawah tekanan cenderung memilih makanan yang salah.Biasanya mereka cenderung memilih makanan berkarbohidrat yang mengandung lemak tinggi seperti muffins, donat, cookies, pastry, dan masih banyak lagi.&#8221; ungkap Taub-Dix.</p>
<p>Cortisol<br />
Para peneliti telah menemukan bahwa stres berat juga dapat disebabkan karena tubuh tidak dapat mengeluarkan kelebihan cortisol. Cortisol adalah hormon yang menangani penyimpanan lemak dan penggunaan energi dalam tubuh kita. Cortisol juga mampu meningkatkan nafsu makan dan mendorong keinginan kita untuk mengkonsumsi makanan manis dan berlemak.</p>
<p>Neuropeptide Y<br />
Studi yang dilakukan baru-baru ini menunjukkan bahwa tubuh kita dapat memproses makanan dengan cara yang berbeda saat kita berada di bawah tekanan. Studi yang sudah dilakukan pada seekor tikus lab yang telah diberikan diet tinggi lemak dan gula dalam jumlah yang signifikan yang diperoleh lemak tubuh</p>
<p>Satu studi menemukan bahwa tikus laboratorium yang diberi diet tinggi lemak dan gula dalam jumlah signifikan yang diperoleh lemak tubuh bila ditempatkan di bawah kondisi stres.</p>
<p>Jika kita salah satu orang yang melarikan diri dengan makan saat dilanda stres, apa yang sebaiknya dilakukan untuk menghindari kenaikan berat badan di saat-saat sulit?</p>
<p>Jangan biarkan dihantui rasa lapar<br />
&#8220;Di saat Anda merasa lapar dan Anda membiarkan hal tersebut terus berlanjut, gula darah Anda akan menurun secara drastis. Hal ini akan menyebabkan Anda kesulitan untuk berpikir jernih karena kadar gula dalam darah yang terlalu rendah. Dan justru membuat Anda memakan segalanya,&#8221; jelas Taub-Dix. Untuk menghindari hal seperti ini, sebaiknya Anda jangan menahan rasa lapar bahkan tidak makan sama sekali.</p>
<p>Menjaga Porsi Makan<br />
&#8220;Orang yang dalam kondisi stres berat, ada kecenderungan tidak memikirkan apa yang mereka makan dan porsinya. Sebaiknya makan dalam porsi yang kecil sehingga kalori yang diserap masih bisa terkontrol dengan baik,&#8221; jelas Taub-Dix.</p>
<p>Pilih Camilan Sehat<br />
Jika Anda merupakan tipikal orang yang senang ngemil, Taub-Dix menyarankan agar mengkombinasikan camilan Anda yang sarat dengan protein dan karbohidrat. Tubuh mampu mencerna semua makan secara perlahan, sehingga Anda akan merasa kenyang lebih lama. Hindari camilan yang sarat akan gula dan lemak.</p>
<p>Pikirkan Kembali Apa yang Anda Makan<br />
&#8220;Disaat Anda merasa stres, Anda akan terfokus bagaimana cara nya menurunkan berat badan secara cepat yang justru membuat Anda menjadi semakin stres. Makanan yang Anda makan adalah sumber energi untuk tubuh dan otak Anda. Jika Anda makan makanan yang sehat dan dalam jumlah yang benar, hal ini justru membuat tubuh Anda melawan rasa stres,&#8221; ungkap Taub-Dix.</p>
<p>Hindari Stres<br />
Kalau hanya bicara memang mudah dibandingkan melaksanakannya, tapi jika Anda menemukan cara bagaimana menghindari stres hal itulah yang paling baik dilakukan. Cobalah untuk melakukan yoga, tai chi, atau meditasi. Olahraga secara teratur, luangkanlah waktu bersama teman-teman bisa mengurangitingkat stres dalam hidup Anda.</p>
<p>Jika Anda mendapati diri Anda menginginkan makanan yang tinggi lemak atau makanan yang manis, mungkin Anda sedang mengalami stres berat. Berpikirlah bahwa Anda tidak sendiri. Anda bisa melawan perasaan itu.</p>
<p>Cari cara menghindari stres dalam hidup Anda dan buatlah hidup Anda lebih baik dengan memilih makanan yang tepat. Stres mungkin sudah menjadi bagian dari hidup, tapi jangan sampai rasa <strong><a href="http://harmonihidup.com/" target="_blank">stres</a></strong> mengontrol hidup Anda!</p>
<p>Sumber: Detik.com</p>
<p><a href="http://harmonihidup.com/stres-dan-kegemukan/">Stres dan Kegemukan</a> adalah Artikel dari <a href="http://harmonihidup.com">Menghilangkan Stres</a></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><a href="http://harmonihidup.com/stres-dan-kegemukan/" title="mengapa stres dapat menyerang semua orang">mengapa stres dapat menyerang semua orang</a>,<a href="http://harmonihidup.com/stres-dan-kegemukan/" title="cara mengatasi setres karena kegemukan">cara mengatasi setres karena kegemukan</a>,<a href="http://harmonihidup.com/stres-dan-kegemukan/" title="gambar orang sedang self esteem">gambar orang sedang self esteem</a>,<a href="http://harmonihidup.com/stres-dan-kegemukan/" title="hormon yg membuat orang stres">hormon yg membuat orang stres</a>,<a href="http://harmonihidup.com/stres-dan-kegemukan/" title="IMA DAN KEGEMUKAN">IMA DAN KEGEMUKAN</a></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harmonihidup.com/stres-dan-kegemukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemicu Stres Pada Anak</title>
		<link>http://harmonihidup.com/pemicu-stres-pada-anak/</link>
		<comments>http://harmonihidup.com/pemicu-stres-pada-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jun 2012 14:47:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[stres anak]]></category>
		<category><![CDATA[stres pada anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harmonihidup.com/?p=339</guid>
		<description><![CDATA[Stres dapat menyerang siapapun. bahkan jabang bayi yang masih didalam rahim bisa terkena dampak dari ibunya yang mengalami stres. Efek tidak baik dari stres akan dibawa hingga bayi tumbuh menjadi... <span class="meta-more"><a href="http://harmonihidup.com/pemicu-stres-pada-anak/">Read more &#187;</a></span><p><a href="http://harmonihidup.com/pemicu-stres-pada-anak/">Pemicu Stres Pada Anak</a> adalah Artikel dari <a href="http://harmonihidup.com">Menghilangkan Stres</a></p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://harmonihidup.com/wp-content/uploads/2012/06/stres.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-340" title="Pemicu Stres Pada Anak" src="http://harmonihidup.com/wp-content/uploads/2012/06/stres.jpg" alt="tips mengatasi stres" width="150" height="150" /></a></p>
<p><strong><a href="http://harmonihidup.com/terapi-tertawa/" target="_blank">Stres</a></strong> dapat menyerang siapapun. bahkan jabang bayi yang masih didalam rahim bisa terkena dampak dari ibunya yang mengalami stres. Efek tidak baik dari stres akan dibawa hingga bayi tumbuh menjadi anak-anak, remaja,, hingga orang dewasa.</p>
<p>Anak-anak yang menunjukkan gejala-gejala stres harus segera diperhatikan dan mendapat tindakan yang benar. Stres yang menghampiri si kecil bisa dipicu oleh sejumlah hal, seperti hubungan orang tua yang kurang harmonis, pola asuh yang salah, kurangnya asupan gizi, dan kelelahan.</p>
<p>Stres yang dipicu ketidakharmonisan hubungan orang tua awalnya berupa ketakutan pada anak. Orang tua yang sering bertengkar atau bahkan bercerai bisa mengundang rasa tak aman dan kegelisahan pada anak. Ketidaknyamanan ini terekam dalam memori anak dan bisa membuatnya menepi dari pergaulan dengan teman sebayanya. Anak menjadi minder, sensitif, atau sulit berkonsentrasi.</p>
<p>Namun, orang tua yang akur pun bisa membuka peluang stres pada anak bila melakukan pola asuh yang tak sesuai. Semisal, orangtua memberi kebebasan pada si anak begitu besar meski belum mampu membuat keputusan. Pola asuh yang bersifat permisif ini cenderung membiarkan anak saat berbuat salah. Akibat kebebasan yang dominan, anak tak siap bila berbenturan dengan kondisi yang tak sesuai dengan keinginannya. Ia pun bersikap <strong><a href="http://harmonihidup.com/things-that-make-me-stress/" target="_blank">stres</a></strong>.</p>
<p>Sebaliknya, pola asuh yang mengekang kebebasan anak dan memaksanya untuk tunduk pada perintah orangtua dapat meremas hati si kecil. Ia akan merasakan tekanan batin yang berakibat turunnya kepercayaan diri, rasa cemas, dan takut yang berlebihan, serta bisa-bisa mengidap perilaku antisosial. Pola asuh yang otoriter ini jelas berpotensi membuat anak-anak stres.</p>
<p>Makanan juga berpengaruh pada kondisi kejiwaan anak. Asupan gizi yang kurang dapat berakibat menurunkan kinerja otak sehingga anak sulit mengembangkan penalarannya. Ini bisa menyebabkan anak selalu merasakan kebuntuan dalam berpikir. Begitu pula dengan makanan siap saji dan berkalori tinggi. Gizi yang cukup dan seimbang amat baik untuk mencegah anak dari serangan stres.</p>
<p>Faktor pengundang stres pada anak selanjutnya adalah kelelahan. Meski anak sedang menikmati masa liburan, sebaiknya orangtua memperhatikan aktifitas fisiknya. Waktu tidur bagi anak-anak harus benar-benar cukup. Kurang tidur dapat menyebabkan anak-anak mudah emosi dan kinerja pikirannya tidak stabil. Ini akan berlanjut pada <strong><a href="http://harmonihidup.com/stresor-psikososial-dan-kaitannya-dengan-self-esteem/" target="_blank">stres</a></strong>.</p>
<p>Sumber : Kompas</p>
<p><a href="http://harmonihidup.com/pemicu-stres-pada-anak/">Pemicu Stres Pada Anak</a> adalah Artikel dari <a href="http://harmonihidup.com">Menghilangkan Stres</a></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><a href="http://harmonihidup.com/pemicu-stres-pada-anak/" title="stress pada anak">stress pada anak</a>,<a href="http://harmonihidup.com/pemicu-stres-pada-anak/" title="stres pada anak">stres pada anak</a>,<a href="http://harmonihidup.com/pemicu-stres-pada-anak/" title="orang tua terlalu mengekang">orang tua terlalu mengekang</a>,<a href="http://harmonihidup.com/pemicu-stres-pada-anak/" title="tingkat stres pada anak">tingkat stres pada anak</a>,<a href="http://harmonihidup.com/pemicu-stres-pada-anak/" title="Akibat mengekang anak">Akibat mengekang anak</a>,<a href="http://harmonihidup.com/pemicu-stres-pada-anak/" title="artikel tentang stres">artikel tentang stres</a>,<a href="http://harmonihidup.com/pemicu-stres-pada-anak/" title="Cara menghilangkan stres pada anak akibat perceraian orang tua">Cara menghilangkan stres pada anak akibat perceraian orang tua</a>,<a href="http://harmonihidup.com/pemicu-stres-pada-anak/" title="akibat terlalu mengekang anak">akibat terlalu mengekang anak</a>,<a href="http://harmonihidup.com/pemicu-stres-pada-anak/" title="artikel stress pada remaja">artikel stress pada remaja</a>,<a href="http://harmonihidup.com/pemicu-stres-pada-anak/" title="tingkat stres anak">tingkat stres anak</a>,<a href="http://harmonihidup.com/pemicu-stres-pada-anak/" title="stress dan depresi pada anak">stress dan depresi pada anak</a>,<a href="http://harmonihidup.com/pemicu-stres-pada-anak/" title="artikel pengawasan anak pada hp">artikel pengawasan anak pada hp</a>,<a href="http://harmonihidup.com/pemicu-stres-pada-anak/" title="gejala stres pada anak">gejala stres pada anak</a>,<a href="http://harmonihidup.com/pemicu-stres-pada-anak/" title="faktor yang mempengaruhi stres pada anak">faktor yang mempengaruhi stres pada anak</a>,<a href="http://harmonihidup.com/pemicu-stres-pada-anak/" title="pemicu stress pada pelajar">pemicu stress pada pelajar</a></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harmonihidup.com/pemicu-stres-pada-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>45</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kadangkala Hidupmu Menangis</title>
		<link>http://harmonihidup.com/kadangkala-hidupmu-menangis/</link>
		<comments>http://harmonihidup.com/kadangkala-hidupmu-menangis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jun 2012 15:20:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirational Quotes]]></category>
		<category><![CDATA[kepedulian Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harmonihidup.com/?p=333</guid>
		<description><![CDATA[Kadangkala hidup mengharuskanmu menangis tanpa sebab. Kamu merasa sudah berbuat baik dan benar, tetapi masih banyak kritikan yang dialamatkan kepadamu &#8230; Kamu mengira keputusan yang kamu ambil sudah tepat, ternyata... <span class="meta-more"><a href="http://harmonihidup.com/kadangkala-hidupmu-menangis/">Read more &#187;</a></span><p><a href="http://harmonihidup.com/kadangkala-hidupmu-menangis/">Kadangkala Hidupmu Menangis</a> adalah Artikel dari <a href="http://harmonihidup.com">Menghilangkan Stres</a></p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://harmonihidup.com/wp-content/uploads/2012/06/kneeling_in_prayer.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-336" title="Kadangkala Hidupmu Menangis" src="http://harmonihidup.com/wp-content/uploads/2012/06/kneeling_in_prayer.jpg" alt="mengatasi stres" width="150" height="150" /></a></p>
<p>Kadangkala hidup mengharuskanmu menangis tanpa sebab.</p>
<p>Kamu merasa sudah berbuat baik dan benar, tetapi masih banyak kritikan yang dialamatkan kepadamu &#8230;</p>
<p>Kamu mengira keputusan yang kamu ambil sudah tepat, ternyata pikiranmu keliru.</p>
<p>Jangan putus asa!! Bangkitlah!!</p>
<p>Matahari tanpa sinar tidak layak disebut matahari, demikian juga dirimu. Kau adalah matahari yang seharusnya memancarkan sinar, sekalipun mendung kelabu menutupi pandangan orang untuk melihat keindahan cahayamu.</p>
<p>AKU sering melihatmu marah ketika kamu melihat orang lain berhasil.</p>
<p>Untuk apa kamu menginginkan keberhasilan orang lain?</p>
<p>Bukankah AKU sudah menyediakan suksesmu sendiri?</p>
<p>Kamu tidak pernah mengejarnya, jadi kamu tidak pernah bisa memilikinya.</p>
<p>Matamu tidak terfokus kepada RancanganKu yang dahsyat atas hidupmu, melainkan tertuju kepada karyaKu yang luar biasa atas hidup orang lain.</p>
<p>Jadilah seperti air&#8230;Selalu mengalir&#8230;melewati semua benda, menembus semua sisi dan tanpa batas.</p>
<p>AnakKu,,,jangan mau dikalahkan oleh keadaan,,tetapi kalahkan keadaan!!</p>
<p>AnakKu yang terkasih,,,jangan sakit hati ketika kau ditegur, padahal kau merasa sudah mengerjakan yang terbaik.</p>
<p>Sakit hati itu hanya akan membuat tidurmu tidak nyenyak dan perasaanmu tidak nyaman.</p>
<p>Buanglah itu dari hatimu dan pikiranmu!</p>
<p>Kuasailah dirimu sedemikian rupa hingga kamu bisa mengatasi perasaan diperlakukan tidak adil, dilecehkan, diremehkan ataupun dikhianati oleh sesamamu.</p>
<p>Bukankah untuk itu kau hidup? Untuk melihat kenyataan bahwa di dunia ini yang paling mengerti perasaanmu dan menerima dirimu apa adanya hanya AKU?</p>
<p>Jauhilah segala bentuk kemarahan, tetapi jangan jauhi AKU.</p>
<p>AnakKu, ingatlah hal ini baik-baik.</p>
<p>Aku selalu membuka tanganKu lebar-lebar untuk memberimu rasa aman, kapanpun kau membutuhkannya.</p>
<p>AKU senantiasa menyiapkan bahu untuk tempat kepalamu bersandar dan mencurahkan tangis.</p>
<p>AKU melakukannya karena AKU sungguh-sungguh peduli padamu!!</p>
<p>Ayah yang selalu mengasihimu,</p>
<p>Tuhan</p>
<p><a href="http://harmonihidup.com/kadangkala-hidupmu-menangis/">Kadangkala Hidupmu Menangis</a> adalah Artikel dari <a href="http://harmonihidup.com">Menghilangkan Stres</a></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><a href="http://harmonihidup.com/kadangkala-hidupmu-menangis/" title="Kata2 stres">Kata2 stres</a>,<a href="http://harmonihidup.com/kadangkala-hidupmu-menangis/" title="kata2 menangis">kata2 menangis</a>,<a href="http://harmonihidup.com/kadangkala-hidupmu-menangis/" title="kata2 stress">kata2 stress</a>,<a href="http://harmonihidup.com/kadangkala-hidupmu-menangis/" title="menangis quotes">menangis quotes</a>,<a href="http://harmonihidup.com/kadangkala-hidupmu-menangis/" title="kata mutiara bila di lecehkan oleh">kata mutiara bila di lecehkan oleh</a>,<a href="http://harmonihidup.com/kadangkala-hidupmu-menangis/" title="kata2 tak adil">kata2 tak adil</a>,<a href="http://harmonihidup.com/kadangkala-hidupmu-menangis/" title="kata kata orang yang selalu dilecehkan">kata kata orang yang selalu dilecehkan</a>,<a href="http://harmonihidup.com/kadangkala-hidupmu-menangis/" title="kata-kata motivasi saat di lecehkan">kata-kata motivasi saat di lecehkan</a>,<a href="http://harmonihidup.com/kadangkala-hidupmu-menangis/" title="kata2 setres">kata2 setres</a>,<a href="http://harmonihidup.com/kadangkala-hidupmu-menangis/" title="Puisi kadang kala">Puisi kadang kala</a>,<a href="http://harmonihidup.com/kadangkala-hidupmu-menangis/" title="kadangkala">kadangkala</a>,<a href="http://harmonihidup.com/kadangkala-hidupmu-menangis/" title="Kata2 stess">Kata2 stess</a>,<a href="http://harmonihidup.com/kadangkala-hidupmu-menangis/" title="kata2 Sakit kepalaku">kata2 Sakit kepalaku</a>,<a href="http://harmonihidup.com/kadangkala-hidupmu-menangis/" title="kata2 yg bermampaat untuk hidup">kata2 yg bermampaat untuk hidup</a>,<a href="http://harmonihidup.com/kadangkala-hidupmu-menangis/" title="kecewa karena diperlakukan tidak adil">kecewa karena diperlakukan tidak adil</a></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harmonihidup.com/kadangkala-hidupmu-menangis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terapi Tertawa</title>
		<link>http://harmonihidup.com/terapi-tertawa/</link>
		<comments>http://harmonihidup.com/terapi-tertawa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jun 2012 12:40:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[mengatasi stres]]></category>
		<category><![CDATA[stres]]></category>
		<category><![CDATA[terapi tertawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harmonihidup.com/?p=328</guid>
		<description><![CDATA[Tertawa tidak hanya memunculkan kegembiraan, tapi juga bermanfaat dalam penyembuhan penyakit. Tapi tertawa bagaimana? Kapan terakhir kali Anda bisa tertawa lepas bebas, tanpa diganggu oleh beban pikiran sama sekali? Rutinitas... <span class="meta-more"><a href="http://harmonihidup.com/terapi-tertawa/">Read more &#187;</a></span><p><a href="http://harmonihidup.com/terapi-tertawa/">Terapi Tertawa</a> adalah Artikel dari <a href="http://harmonihidup.com">Menghilangkan Stres</a></p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://harmonihidup.com/wp-content/uploads/2012/06/laughing_kitten.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-329" title="Terapi Tertawa" src="http://harmonihidup.com/wp-content/uploads/2012/06/laughing_kitten.jpg" alt="cara menghilangkan stres" width="150" height="150" /></a></p>
<p>Tertawa tidak hanya memunculkan kegembiraan, tapi juga bermanfaat dalam penyembuhan penyakit. Tapi tertawa bagaimana?</p>
<p>Kapan terakhir kali Anda bisa tertawa lepas bebas, tanpa diganggu oleh beban pikiran sama sekali? Rutinitas yang kita jalani setiap hari, terkadang membuat kita lupa bahwa sekedar tertawa lepas pun perlu kita lakukan setiap hari. Karena tertawa bisa membuat kita tetap gembira, lepas dari ketegangan, dan jauh dari <strong><a href="http://harmonihidup.com/things-that-make-me-stress/" target="_blank">stres</a></strong>, meskipun sedang menghadapi berbagai kesulitan.</p>
<p>Tahukah Anda bahwa banyak tertawa tidak hanya membuat kita merasa rileks, tapi juga menyembuhkan? Dengan tertawa, penyakit yang berat pun bisa diatasi. Dan salah satu cara adalah penggunaan terapi humor, yaitu seni tertawa untuk mengobati penyakit, yang ternyata sudah dikenal sejak lama.</p>
<p>Pada abad ke-18, Voltaire telah mencatat bahwa,”Seni penyembuhan adalah membuat pasien terus merasa gembira, sementara alam menyembuhkan penyakitnya”. Para ahli meneliti efek dari humor pada psikis dan fisik seseorang sejak tahun 1930-an. Namun orang yang pertama yang dikenal melakukan penyembuhan penyakit dengan tertawa adalah seorang pria bernama Norman Cousins.</p>
<p><strong>Sembuh dari rematik dengan tertawa</strong></p>
<p>Pada tahun l964 seorang editor dari Saturday Review Magazine bernama Norman Cousins, didiagnosa dokter menderita ankylosing spondylitis, suatu bentuk penyakit rematik yang melumpuhkan dan sangat menyakitkan. Meskipun para dokter mengatakan bahwa peluangnya untuk sembuh sepenuhnya kecil sekali, tapi Cousins memutuskan untuk mengatasi sendiri penyakitnya.</p>
<p>Norman Cousins bisa mengambil keputusan begitu karena ia merasa terinspirasi sesudah membaca buku karangan Hans Selye berjudul The Stress of Life yang isinya antara lain bahwa mengatasi emosi negatif bisa menyembuhkan penyakit. Hans Selye adalah pelopor penelitian dalam bidang pengobatan psikosomatis. Cousins memutuskan untuk mencoba apakah emosi yang positif seperti tertawa bisa memberikan hasil sebaliknya, yaitu membantunya sembuh.</p>
<p>Norman Cousins lalu mencoba menemukan hal-hal yang membuatnya tertawa setiap saat. Satu hal yang selalu terjadi adalah bahwa setelah 30 menit nonton film lucu di TV di kamar rumah sakit, ia bisa tidur nyenyak selama dua jam tanpa rasa sakit lama sekali. Dia lalu melakukan hal itu tiap hari sesering mungkin, dan mencatat detil dari proses tersebut. Dalam waktu 6 bulan, dia sembuh total.</p>
<p>Akhirnya Cousins menuangkan setiap detil pengalamannya dalam bukunya yang diterbitkan tahun 1979, dengan judul Anatomy of an Illness. Cousins percaya bahwa tertawa bisa memunculkan kegembiraaan, harapan, rasa percaya diri, dan rasa cinta. Cousins bahkan menghabiskan waktunya hingga 12 tahun di UCLA Medical School, di Department of Behavioral Medicine untuk menemukan pembuktian ilmiah dari keyakinannya itu. Cousins juga mendirikan The Humor Research Task Force yang mengkoordinasi dan mendukung penelitian klinis mengenai humor di seluruh dunia.</p>
<p>Langkah Cousins lalu ditiru oleh seorang dokter spesialis anak dari Virginia Barat bernama Hunter &#8220;Patch&#8221; Adams. Adams membawa nuansa humor dalam pengobatan secara ekstrim, yaitu dengan mengenakan kostum badut, lengkap dengan hidung karetnya setiap kali berkeliling mengunjungi pasien anak-anak di rumah sakit. Menurut Adams, kegembiraan itu jauh lebih penting dari pada obat-obatan.</p>
<p>Pada tahun 1999, cerita tentang Hunter “Patch” Adams tersebut difilmkan, sehingga kekuatan penyembuhan dari humor pun semakin dikenal orang.</p>
<p><strong>Tertawa membantu mengatasi rasa sakit menguatkan kekebalan</strong></p>
<p>Semenjak era Norman Cousins dan Hunter &#8220;Patch&#8221; Adams, sejumlah peneliti mulai menemukan bahwa tertawa bisa memicu pelepasan painkiller alami dalam tubuh kita, yaitu hormon endorfin. Hormon ini tidak hanya membantu menghentikan rasa sakit tetapi juga memproduksi sensasi sehat sejahtera (wellbeing).</p>
<p>Sementara itu para peneliti dari Israel melaporkan hasil penelitian yang dilakukan dengan mencelupkan tangan ke dalam air sedingin es. Hasilnya menunjukkan bahwa peserta penelitian yang menonton film lucu bisa menahan rasa sakit jauh lebih lama dibandingkan peserta lain yang menonton film dokumentasi yang membosankan, atau film lain yang membuat mereka merasa marah.</p>
<p>Sedangkan Lee Berk dan Stanley Tan, peneliti dari Loma Linda University School of Medicine di California telah menemukan manfaat tertawa pada imunitas sejak lama. Salah satu proyek penelitian mereka dipublikasikan pada tahun 1988. Hasil penelitian tersebut mendeteksi terjadinya penurunan secara nyata hormon <strong><a href="http://harmonihidup.com/stresor-psikososial-dan-kaitannya-dengan-self-esteem/" target="_blank">stres</a></strong> (yaitu hormon yang dilepaskan tubuh pada waktu seseorang mengalami stres) seperti kortisol dan adrenalin, setelah peserta menonton film lucu selama 60 menit.</p>
<p>Berkurangnya kadar hormon stres di dalam tubuh sangatlah penting, karena hormon tersebut dengan mudah bisa melumpuhkan sistem imun dan melemahkan kemampuan tubuh untuk memerangi penyakit. Jadi dengan kata lain, tertawa bisa mencegah efek buruk dari stres.</p>
<p>Tertawa bahkan bisa memiliki manfaat yang lebih dari sekadar mencegah kerusakan sistem kekebalan. Para peneliti menemukan bahwa tertawa bisa secara nyata memperkuat sistem kekebalan tubuh. Hal ini disebabkan karena tertawa bisa meningkatkan jumlah sel-sel yang bertugas mengatasi infeksi yang disebut sel T yaitu protein yang bertugas melawan penyakit yang disebut gamma-interferon dan sel B yang berfungsi memproduksi antibodi penghancur penyakit.</p>
<p>Tertawa juga meningkatkan kerja sistem pernapasan, penggunaan oksigen, dan detak jantung. Jadi tertawa pun bisa membantu menstimulasi sistem peredaran darah, membawa cairan limfatik sehat menuju sel-sel tubuh yang berpenyakit dan untuk sementara bisa menurunkan tekanan darah.</p>
<p><strong>Tertawa mempengaruhi tubuh &amp; pikiran</strong></p>
<p>Dalam bukunya yang berjudul Stress without Distress, Selye mengatakan bahwa interpretasi seseorang terhadap stres tidak sepenuhnya menyangkut hal-hal yang terjadi di luar dirinya, tetapi juga tergantung pada persepsi orang itu terhadap kejadian tersebut dan bagaimana dia memaknai kejadian itu. Sebuah situasi bisa memiliki arti yang berbeda bagi tiap orang: bisa dianggap menakutkan, bisa juga dianggap menantang.</p>
<p>Karena orang yang berbeda merespon situasi yang sama dengan cara yang berbeda, maka kemampuan setiap orang menangani stres juga berbeda-beda. Namun ada hal-hal yang bisa menguatkan kemampuan orang menangani stres, yaitu adanya komitmen, kontrol, dan tantangan. Artinya, bila kita memiliki komitmen yang kuat terhadap diri sendiri dan pekerjaan, bila kita percaya bahwa kita memiliki kontrol sepenuhnya pada pilihan-pilihan hidup yang kita ambil dan bila kita bisa melihat situasi itu lebih sebagai sesuatu yang menantang daripada sesuatu yang menakutkan atau mengancam, maka kita pasti lebih sukses mengatasi <strong><a href="http://harmonihidup.com/me-myself-and-i/" target="_blank">stres</a></strong>.</p>
<p>Dalam hal ini humor bisa sangat membantu. Humor membuat kita bisa melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda, dan membuat kita merasa terlindungi dan memiliki kontrol pada lingkungan kita. Memang kita tidak bisa mengontrol segala yang terjadi dalam hidup kita. Tapi setidaknya kita mampu mengontrol cara kita melihat masalah dan respon emosional yang kita pilih untuk kita tampilkan.</p>
<p>Humor juga mempengaruhi seluruh otak kita, membuat kedua belahan otak bisa bekerja sama secara aktif dan seimbang. Menurut penelitian Derks dari the College of William and Mary di Williamsburg, muncul pola gelombang otak yang unik ketika otak kita menangkap hal-hal yang mengandung humor. Ketika seseorang mendengarkan lawakan, belahan otak kita yang sebelah kiri memulai fungsi analitiknya dalam memproses kata-kata. Selanjutnya, sebagian besar dari aktivitas otak berpindah ke bagian frontal lobe yang merupakan pusat emosi.</p>
<p>Tak lama kemudian, belahan otak bagian kanan membantu bagian kiri memproses untuk menemukan polanya. Selanjutnya, sebelum kita berhenti tertawa, aktivitas gelombang otak yang meningkat menyebar ke bagian otak yang bertugas memproses sensor, yang disebut occipital lobe. Jadi humor tidak hanya mempengaruhi satu bagian otak saja, namun seluruh bagian otak kita secara bersamaan.</p>
<p>Sementara itu Locke, seorang peneliti dari Harvard menemukan bahwa aktivitas sel-sel pembunuh penyakit yang alami (natural killer cel, sel NK) di dalam sistem kekebalan tubuh kita menurun ketika dalam hidup kita muncul gejolak yang membuat emosi kita berubah-ubah. Hanya orang-orang yang pola hidupnya monoton dan kondisi emosionalnya sedikit berubah saja yang tetap normal aktivitas sel NK-nya. Irwin, peneliti dari VA Medical Center dari San Diego menemukan bahwa aktivitas sel NK menurun selama muncul reaksi depresi akibat perubahan kehidupan.</p>
<p>Jadi kondisi tubuh fisik dan pikiran kita memang berhubungan. Kondisi emosi dan mood kita pun secara langsung mempengaruhi sistem kekebalan tubuh.</p>
<p><strong>Bisa dilatih</strong></p>
<p>Dalam kenyataannya, tertawa tidaklah selalu mudah bagi setiap orang. Pada umumnya, orang terlalu tenggelam oleh masalah-masalahnya sendiri sehingga tidak bisa melihat sisi humor dari masalah itu. Bila kita bisa melihat permasa lahan kita dari sisi yang berbeda, sisi yang membuat kita tertawa, maka kita akan bisa melihat penyelesaiannya dengan lebih mudah.</p>
<p>Selain itu, kemampuan untuk mentertawakan situasi tak menyenangkan yang sedang dihadapi, juga membuat kita merasa lebih kuat, memunculkan perasaan positif dan harapan. Kita pun bisa lepas dari depresi dan perasaan tak berdaya bila mampu mentertawakan hal-hal yang biasanya membuat kita resah.</p>
<p>Salah satu cara untuk bisa lebih mudah tertawa adalah dengan lebih sering melihat hal-hal yang mudah membuat kita tertawa, contohnya yaitu kartun, parodi, lawakan, buku yang bersifat humor, hingga film komedi. Terkadang di sekeliling kita pun ada Qrang-orang yang bisa kita contoh karena selalu bisa melihat sisi humor dari setiap permasalahan hidup, sehingga hidupnya jauh dari ketegangan.</p>
<p>Jadi yang dimaksud dengan terapi humor di sini, sama sekali bukan dengan jenis humor yang sifatnya mengejek, agresif, atau bersifat melecehkan orang lain. Humor yang kasar atau yang menyakitkan hati tentu saja tidak akan bisa menyembuhkan bukan?</p>
<p>Sumber: Majalah Nirmala</p>
<p><a href="http://harmonihidup.com/terapi-tertawa/">Terapi Tertawa</a> adalah Artikel dari <a href="http://harmonihidup.com">Menghilangkan Stres</a></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><a href="http://harmonihidup.com/terapi-tertawa/" title="terapi tertawa">terapi tertawa</a>,<a href="http://harmonihidup.com/terapi-tertawa/" title="terapi tawa">terapi tawa</a>,<a href="http://harmonihidup.com/terapi-tertawa/" title="cara terapi tertawa">cara terapi tertawa</a>,<a href="http://harmonihidup.com/terapi-tertawa/" title="teknik terapi tertawa">teknik terapi tertawa</a>,<a href="http://harmonihidup.com/terapi-tertawa/" title="cara sembuh dari psikosomatis">cara sembuh dari psikosomatis</a>,<a href="http://harmonihidup.com/terapi-tertawa/" title="cara agar mudah tertawa">cara agar mudah tertawa</a>,<a href="http://harmonihidup.com/terapi-tertawa/" title="langkah-langkah terapi tertawa">langkah-langkah terapi tertawa</a>,<a href="http://harmonihidup.com/terapi-tertawa/" title="keyakinan untuk sembuh dari psikosomatis">keyakinan untuk sembuh dari psikosomatis</a>,<a href="http://harmonihidup.com/terapi-tertawa/" title="menghadapi ditinggal suami mati">menghadapi ditinggal suami mati</a>,<a href="http://harmonihidup.com/terapi-tertawa/" title="ankylosing spondylitis terapinya">ankylosing spondylitis terapinya</a>,<a href="http://harmonihidup.com/terapi-tertawa/" title="teknik tertawa sehat">teknik tertawa sehat</a>,<a href="http://harmonihidup.com/terapi-tertawa/" title="pengobatan psikosomatis">pengobatan psikosomatis</a>,<a href="http://harmonihidup.com/terapi-tertawa/" title="Tips agar dapat menjadi motivator terapi tertawa">Tips agar dapat menjadi motivator terapi tertawa</a>,<a href="http://harmonihidup.com/terapi-tertawa/" title="mengatasi hidup menjanda">mengatasi hidup menjanda</a>,<a href="http://harmonihidup.com/terapi-tertawa/" title="teknik terapi humor">teknik terapi humor</a></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harmonihidup.com/terapi-tertawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>36</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Things that Make Me Stress</title>
		<link>http://harmonihidup.com/things-that-make-me-stress/</link>
		<comments>http://harmonihidup.com/things-that-make-me-stress/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jun 2012 05:52:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[cara mengatasi stres]]></category>
		<category><![CDATA[hal yang membuat stres]]></category>
		<category><![CDATA[stres]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harmonihidup.com/?p=325</guid>
		<description><![CDATA[Stres sepertinya menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam hidup manusia. Manusia dari kalangan dan golongan manapun pasti pernah mengalami stres dalam hidupnya. Menurut Girdano (2005), stres dapat dibagi menjadi dua... <span class="meta-more"><a href="http://harmonihidup.com/things-that-make-me-stress/">Read more &#187;</a></span><p><a href="http://harmonihidup.com/things-that-make-me-stress/">Things that Make Me Stress</a> adalah Artikel dari <a href="http://harmonihidup.com">Menghilangkan Stres</a></p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://harmonihidup.com/wp-content/uploads/2012/06/harmoni-hidup-063.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-326" title="Things that Make Me Stress" src="http://harmonihidup.com/wp-content/uploads/2012/06/harmoni-hidup-063.jpg" alt="stress management" width="150" height="150" /></a></p>
<p><strong><a href="http://harmonihidup.com/stresor-psikososial-dan-kaitannya-dengan-self-esteem/" target="_blank">Stres</a></strong> sepertinya menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam hidup manusia. Manusia dari kalangan dan golongan manapun pasti pernah mengalami stres dalam hidupnya. Menurut Girdano (2005), stres dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu <strong><em>eustress</em></strong> dan <strong><em>distress</em></strong>. <em>Eustress</em> adalah stres yang positif, yaitu stres yang dapat memotivasi kita untuk mengoptimalkan stres yang kita alami dan meningkatkan kemampuan <em>coping</em> kita. Sedangkan, <em>distress</em> adalah stres yang bersifat negatif. Ketika kita mengalami stres ini, biasanya kita tidak dapat mengatasi stres yang kita alami dan performa kita menjadi tidak optimal. Saya sendiri pernah mengalami kedua jenis stres tersebut dalam kehidupan saya. Stres yang saya alami membuat saya belajar lebih banyak hal dalam hidup ini dan menjadikan saya lebih dewasa daripada sebelumnya.</p>
<p>Dibawah ini saya mencoba untuk menjelaskan mengenai peristiwa-peritiwa dalam hidup saya yang memicu terjadinya stres, reaksi saya terhadap stres tersebut serta <em>coping</em> yang saya lakukan saat saya mengalami stres:</p>
<p>Saya adalah mahasiswi Fakultas Psikologi angkatan 2006. Dari semester satu sampai dua, saya mulai mengetahui bahwa di fakultas ini mengharuskan saya untuk banyak berinteraksi dengan kelompok dalam mengerjakan tugas. Hal ini juga sudah saya ketahui sejak saya mengikuti Pramabim &amp; Mabim. Berbeda ketika saya duduk di SMA, saya mulai beradaptasi mengerjakan tugas kuliah dengan kelompok saya. Sejak semester satu, saya sudah memiliki teman dekat yang terdiri dari 6 orang. Mereka dapat diajak untuk belajar bersama, mengerjakan tugas kuliah, bahkan sampai <em>having fun</em> bersama. Saya pun menjadi lebih nyaman menjalani hari-hari saya sebagai mahasiswa Psikologi.</p>
<p>Setelah memasuki semester tiga, tugas kuliah menjadi semakin banyak dan sulit. Sebagai mahasiswa, saya merasa dituntut untuk lebih pandai dalam mengatur waktu saya. Untungnya saya tidak mengalami kewalahan dalam menjalani tugas kuliah saya. Diantara sekian banyak tugas, sebagian besar tugas-tugas tersebut harus dikerjakan dalam kelompok yang biasanya terdiri dari 3-4 orang. Saya pun selalu membuat kelompok bersama 2 teman saya yaitu ‘M’ dan ‘U’. Awalnya saya pikir, kami akan menjadi tim yang <em>solid</em> karena saya berpendapat bahwa kami sudah dekat sejak semester satu. Akan tetapi pemikiran saya tidak menjadi kenyataan. Seiring berjalannya waktu, saya pun semakin mengenali sifat kedua teman saya tersebut. Dengan M, saya merasa lebih nyaman karena saya lebih dekat dengannya. Mungkin hal ini disebabkan kami sama-sama saling terbuka. Sayangnya saya dan M tidak merasa demikian dengan U. U lebih tertutup daripada M. Ia memang memiliki kepribadian yang melankolis phlegmatis sehingga ia lebih introvert daripada kami berdua.</p>
<p>Awalnya saat mengerjakan tugas kelompok, kami bertiga dapat bekerja sama dengan baik. Tapi lama kelamaan, sifat asli U pun mulai terlihat. Seringkali saya dan M dibuat bingung oleh U. Ia sering sekali diam dalam mengerjakan tugas kelompok. Diam disini bukan seperti diam dalam semboyan <em>‘diam adalah emas’</em> melainkan diam karena ia sedang kesal atau sedang marah pada seseorang. Paras wajahnya pun sangatlah tidak enak dipandang, ia jarang sekali tersenyum. Kami berdua pun bingung dengan U. Ketika kami bertanya, U mengatakan bahwa ia sedang datang bulan, sehingga ia lebih mudah tersinggung dan cepat <em>bete</em>. Ia juga mengatakan kalau ia sedang tidak <em>mood</em>, lebih baik kami mendiaminya saja. Mulai sejak saat itu, saya dan M pun melakukan seperti yang ia katakan. Kami tidak bertanya terlalu jauh jika ia sedang <em>bete</em>.</p>
<p>Suatu saat, kami bertiga menginap di rumah M. Selama perjalanan ke rumah M, U hanya duduk diam dan memasang wajah <em>bete</em>. Awalnya kami berdua berusaha untuk tidak bertanya atau menggubrisnya. Tetapi perjalanan ke rumah M ternyata cukup jauh dan memakan waktu kira-kira selama 2 jam. Kami berdua menjadi tidak nyaman dengan suasana ini, maka kami bertanya pada U. Akan tetapi U hanya menjawab bahwa ia baik-baik saja. Sesampai di rumah M, M mengajak kami makan siang. Akan tetapi, ajakan M pun tidak disambut oleh U. Ia berkata tidak lapar dan tidak mau makan. Lalu, kami bertiga mulai mengerjakan tugas di kamar M. Disana saya dan M menjadi diam, karena U sama sekali tidak mengajak kami mengobrol. Ia hanya duduk di depan komputer, memasang raut muka kesal, dan mengetik dengan cepat. Akhirnya karena tidak tahan, saya dan M mengobrol dan bercanda seperti biasa. Malamnya, saya dan M berpikir bahwa kami akan tidur agak larut karena ingin bercerita mengenai banyak hal. Tetapi U malah langsung tidur tanpa berbicara apapun. Kami berdua pun berpikir bahwa U sangat tertutup. Esoknya, saya dan M berusaha untuk membahas masalah ini dengan U, karena saya melihat U sudah terlihat lebih ‘ramah’ dibandingkan kemarin. U pun tidak menceritakan masalah yang ia hadapi, dan berkata lagi-lagi bahwa ia sedang datang bulan.</p>
<p>Di kampus pun sifat U tidak berubah, ia menjadi lebih galak terhadap kami berdua. Anehnya, jika ia bertemu dengan senior atau junior, ia langsung memasang muka ramah dan menyapa seceria mungkin. Tetapi jika senior atau junior itu pergi, maka ia pun kembali <em>jutek</em>. Sebenarnya kami berdua tidak mempermasalahkan jika U tidak mau terbuka kepada kami. Kami hanya bingung dengan ungkapannya yang berkata bahwa U senang menjadi teman kita, tetapi ia hampir tidak pernah menceritakan mengenai kehidupannya layaknya seorang teman. Kami mencoba untuk menerima sifatnya itu. Tetapi, sifatnya yang mudah <em>bete</em> sangatlah mengganggu jika kami sedang mengerjakan tugas. Ia menjadi lebih cepat tersinggung jika pendapatnya tidak diterima oelh kami berdua. Ia menginginkan keinginannya selalu dipenuhi. Selain itu, jika di depan dosen, ia selalu ‘tampil’ seolah-olah kami berdua tidak mengerjakan apa-apa. Padahal dalam pertemuan kelompok, ia jarang mengemukakan pendapat, karena ia terlalu sibuk dengan <em>ke-bete-annya</em> yang tidak jelas.</p>
<p>Ketika UAS, biasanya saya dan teman-teman sering belajar bersama. Saya sering mengajari teman-teman saya. Biasanya jika saya salah dalam menerangkan suatu hal, U langsung berkata dengan <em>jutek</em>, “Bukan begitu kali!!”, dan langsung menjelaskan kepada teman saya. Suatu kali, saya pernah melakukan latihan ujian komprehensif dengan teman-teman saya dari kelompok lain. Saat itu terlihat sekali ia sangat ingin terlihat hebat. Ia selalu mau menjelaskan semua hal dalam tugas observasi kami dan selalu ingin mengkritik pekerjaan teman saya yang lain dengan gaya bicaranya yang <em>jutek</em>. Jika saya melakukan kesalahan, ia langsung membentak saya. Jujur saja, saya sudah tidak nyaman lagi berteman dengannya dan saya berencana dengan M untuk tidak sekelompok lagi dengannya di semester depan. Tetapi U memang tidak memiliki teman lain selain saya dan M, alhasil semester depan ia kembali satu seksi dengan saya.</p>
<p>Hal inilah yang membuat saya stres. Mengingat semester depan, lebih banyak mata kuliah penting yang harus dikerjakan dalam kelompok. Saya tidak ingin fokus saya terhadap kuliah terganggu dengan kehadirannya. Selain itu, saya tidak menyukai sikapnya yang dominan dalam ujian komprehensif, yang membuat anggota kelompok lain tidak dapat mengungkapkan pendapatnya dalam ujian.</p>
<p>Reaksi stres yang timbul saat saya mengalami stres adalah saya menjadi lebih diam. Hal ini saya lakukan karena saya berpikir mengapa U dapat menjadi seperti itu dan berusaha mencari kesalahan saya yang mungkin tidak saya sadari. Selain itu, saya menjadi tidak bersemangat jika bertemu dengan U. Akan tetapi karena saya sudah terbiasa dengan sifat U, saya menjadi tidak terlalu stres akan sifatnya itu. Yang saya takuti adalah menghadapi U kembali di semester depan. Secara fisik, saya tidak mengalami perubahan apapun. Hal yang berubah mungkin dalam hal kognitif. Saya merasa malas menjalani semester depan jika harus sekelompok bersama U. Saya berpikir bahwa pasti di semester depan, sifat U tidak akan berubah.</p>
<p>Dulu saya pernah mencoba untuk menghindari U jika ia bersikap menyebalkan. Menurut Zeidner (1996), sikap saya ini termasuk dalam <em>avoidant coping</em>, yaitu cara untuk mengatasi stres dengan menghindari sumber stres tersebut. Saya bersikap seperti itu karena saya sudah merasa putus asa. Saya sudah mencoba berbagai cara untuk berbicara dan memberi saran kepada U untuk mengatasi sifatnya yang sangat sensitif. Akan tetapi, cara itu tidak berhasil. Lama kelamaan saya merasa bahwa <em>coping</em> saya ini kurang efektif, sehingga saya memutuskan untuk melakukan cara lain untuk mengatasi stres saya. Saya berpikir bahwa mungkin saya tidak dapat mengubah sikap U terhadap saya, tetapi saya dapat mengubah sikap saya terhadap U. Saya mulai untuk berpikir positif terhadap kemungkinan-kemungkinan yang terjadi jika saya harus menghadapi U kembali di semester depan. Saya berpikir jika memang saya harus bertemu dia kembali berarti Tuhan akan memberikan saya kekuatan untuk menghadapinya. Hal ini sesuai dengan teori Albert Ellis mengenai <strong>RET </strong>(<strong><em>Rational Emotive Theory</em></strong>), dimana kita dapat mengubah perasaan kita terhadap sesuatu hal dengan mengubah persepsi kita. Hal ini cukup membantu saya dalam menghadapi stres.</p>
<p>Selain dengan mengubah cara berpikir saya, saya juga mencari <em>emotional support</em> dari teman saya yang lain. Saya dan teman dekat saya, M sering berbagi cerita mengenai U. Menurut saya, <em>coping</em> ini cukup efektif, karena setelah bercerita dan menumpahkan kekesalan, perasaan saya pun menjadi lebih baik. Menurut Zeidner (1996), <em>coping</em> ini termasuk dalam <em>coping strategies</em> yang berfokus pada emosi (<em>emotion focus</em>). Namun apabila cara ini kurang efektif, maka saya merencanakan menggunakan <em>problem focus</em>, yaitu menghadapi stres yang saya alami dengan berfokus pada masalah yang membuat saya stres. Saya berencana untuk berbicara langsung dengan U mengenai sikapnya yang menyebalkan dan menyarankan untuk berubah. Apabila ia tidak dapat merubah sikapnya, maka saya akan meninggalkannya.</p>
<p>Ternyata tidak hanya kehadiran U yang membuat saya stres. Masih ada hal-hal lain yang membuat saya stres dalam hidup saya. <em>Stressor</em> saya yang kedua muncul dari pekerjaan yang baru akhir-akhir ini saya jalani. Sejak semester 3 yang lalu, saya menjadi asisten dosen mata kuliah Statistik I. Awalnya saya melamar pekerjaan ini karena coba-coba saja. Tak pernah terpikir bahwa saya akan diterima menjadi asisten. Setelah pengumuman ditempel di sekretariat, ternyata saya diterima menjadi asisten dosen. Pikiran-pikiran negatif pun mulai bermunculan dalam otak saya. Saya merasa tanggung jawab menjadi asisten dosen ternyata cukup besar, saya harus bertanggung jawab pada mahasiswa serta dosen saya. Saya merasa tidak percaya diri akan materi yang akan saya ajarkan. Saya merasa tidak betul-betul menguasai mata kuliah ini. Selain itu, yang paling membuat saya stres adalah saya tidak dapat mengajar bersama teman dekat saya. Saya dipasangkan dengan teman seangkatan yang belum saya kenal secara dekat. Saya panik karena takut tidak dapat bekerja sama dengan baik. Saya mulai tidak bisa tidur sehari sebelum saya mulai mengajar. Bahkan beberapa hari sebelumnya saya sampai tidak nafsu makan karena saya khawatir saya tidak dapat mengajar dengan baik.</p>
<p>Menurut Girdano (2005), <em>stressor</em> saya ini bersumber dari pekerjaan yaitu sebagai asisten dosen. Selain itu, <em>stressor</em> ini juga dapat dilihat dari segi psikososial. Dari sudut pandang ini, <em>stressor</em> saya berasal dari perubahan yang terjadi dalam hidup saya. Saya harus beradaptasi dengan peran baru saya sebagai asisten dosen, karena saya belum pernah menjadi asisten sebelumnya. Hal inilah yang membuat saya stres.</p>
<p>Setelah mengikuti kelas Statistik pertama kali, <em>stressor</em> saya pun bertambah. Saya baru menyadari bahwa saya harus mengajar mahasiswa yang seangkatan dengan saya bahkan mahasiswa senior. Saya merasa takut jika saya dianggap sepele saat saya mengajar. Selain itu, jumlah mahasiswa yang saya ajar juga cukup banyak, yaitu sekitar 60 orang. Saya menjadi semakin tidak tenang. Menurut Girdano (2005), <em>stressor</em> ini juga bersumber dari pekerjaan (<em>job stress</em>) khususnya berasal dari lingkungan pekerjaan. Saya merasa masih belum terbiasa untuk mengajar mahasiswa dengan kapasitas yang begitu banyak serta mengajar teman sengkatan dan senior.</p>
<p>Akan tetapi setelah mengajar beberapa kali, saya telah dapat menguasai kelas dan mengajar dengan maksimal. Saya juga mendapat pengalaman baru karena lingkungan sosial saya menjadi bertambah luas. Tidak hanya dapat mengenal teman seangkatan, junior serta senior, saya mendapat teman baru dari sesama asisten serta dosen. Saya juga dapat mengenal bapak dan ibu yang bekerja di sekretariat, karena saya juga harus berinteraksi dengan mereka dalam hal absen, menerima gaji bulanan, dsb.</p>
<p>Stres saya yang berkurang ini mungkin disebabkan karena <em>coping</em> saya yang berhasil. Saya melakukan <em>coping</em> dengan dua cara yaitu <em>emotion</em> dan <em>problem focus</em>. Dari segi <strong><em>emotion focus</em></strong><em>,</em> saya selalu mencurahkan stres saya pada teman-teman di kampus. Saya juga sering <em>sharing</em> dengan ibu saya. Hal ini membuat perasaan saya lebih baik. Sedangkan dari segi <strong><em>problem focus</em></strong>, saya berusaha untuk menguasai materi yang saya ajarkan dengan sebaik-baiknya. Saya membaca buku cetak dan kembali mengerjakan latihan soal yang akan saya berikan pada mahasiswa saya. Hal ini saya lakukan agar saya dapat mengajar dengan maksimal dan tidak salah menjelaskan materi tersebut.</p>
<p>Hal lain yang membuat saya <strong><a href="http://harmonihidup.com/me-myself-and-i/" target="_blank">stres</a></strong> saat menjadi asisten dosen adalah saat memberikan penilaian pada tugas-tugas mahasiswa. Saya cukup dekat dengan beberapa mahasiswa, dan saya mengetahui usaha mereka yang cukup keras dalam belajar. Akan tetapi seringkali, nilai tugas mereka ternyata tidak terlalu memuaskan. Hal inilah yang membuat saya terkadang merasa serba salah dalam memberikan nilai. Tetapi saya mengubah cara pandang saya dalam mengatasi masalah ini. Saya berpikir bahwa usaha mereka dalam belajar mungkin belum maksimal sehingga hasilnya kurang memuaskan. Saya juga melakukan evaluasi diri dengan mencoba mengajar lebih baik lagi. Saya juga mendengar masukan-masukan yang diberikan dari mahasiswa saya. Setelah UTS dan UAS, saya menyebarkan kertas agar mereka dapat menuliskan <em>feedback</em> untuk saya. Dengan begitu, saya dapat mengevaluasi cara mengajar saya. Menurut Girdano (2005), <em>coping strategies</em> yang saya lakukan dapat disebut <em>problem focus</em>, dimana saya berusaha untuk mengatasi stres saya dengan memfokuskan diri pada masalah saya.</p>
<p>Selain aktif dalam kuliah dan mengajar sebagai asisten dosen, saya juga aktif dalam organisasi gereja. Saya aktif sebagai Sekreteratis dari Komisi Remaja di gereja saya. Selain menjabat sebagai sekretaris, saya juga bertugas menjadi Divisi Kerohanian, yang bertugas menentukan tema tahunan, tema bulanan serta tema mingguan. Saya juga bertugas menentukan jadwal doa &amp; puasa, serta membuat komsel untuk organisasi ini. Organisasi gereja saya terdiri dari 10 orang, yang tersebar di berbagai divisi. Sayangnya, tidak kesepuluh orang tersebut berperan aktif dalam organisasi ini. Pekerjaan kesepuluh orang ini sebenarnya hampir dikerjakan hanya oleh 3 orang yaitu saya dan kedua teman saya.</p>
<p>Apabila ditinjau lebih dalam lagi, sebenarnya saya tidak hanya bertugas sebagai sekretaris dan divisi kerohanian. Kami bertiga mengurus acara serta mempersiapkan acara itu. Kami bertiga bekerja sama mulai membuat konsep acara, membeli perlengkapan untuk acara serta hal-hal kecil lainnya. Sebenarnya inilah yang membuat saya stres. Saya merasa sebenarnya kesepuluh orang tersebut mungkin tidak ingin lagi melayani di gereja sebagai pengurus. Saya beserta kedua teman saya tidak dapat memaksa mereka, karena kami sadar bahwa melayani sebagai pengurus gereja tidak dapat dipaksa. Pelayanan di gereja bersifat sosial, oleh karena itu kami tidak berhak memaksa mereka untuk mengerjakan tugas mereka.</p>
<p>Akhir-akhir ini, kami baru saja membuat acara <em>outing</em> untuk merayakan acara <em>Valentine’s Day</em>. Acara ini akan diselenggarakan di Cibubur dan konsep acaranya adalah games yang tersebar dalam pos-pos. Dalam acara ini lagi-lagi hanya kami bertiga yang mengerjakan segala sesuatu yang berhubungan dengan acara ini, mulai dari persiapan acara sampai ketika acara tersebut diselenggarakan. Saya dan teman saya melakukan <em>survey</em> tempat ke Cibubur. Selain itu, kami juga yang membeli peralatan untuk games, hadiah, serta peralatan lainnya. Kami juga yang memesan bus serta membuat publikasi untuk acara ini. Bahkan kami bertiga membuat peralatan untuk games sampai merencanakan acara apa yang akan dilakukan di Cibubur. Yang membuat saya kesal adalah teman-teman pengurus saya yang lain tidak pernah sekalipun bertanya mengenai acara ini. Padahal mereka tahu bahwa acara ini akan semakin dekat. Ketika perlengkapan serta acara sudah siap, teman-teman pengurus lain pun diundang untuk melakukan briefing sebelum hari H. Mereka sama sekali tidak bertanya mengenai siapakah yang mempersiapkan acara ini. Akan tetapi, saya berusaha untuk tidak kesal dan melakukan tugas saya sampai acara berakhir. Kejadian ini sebenarnya bukan hanya terjadi kali ini saja, situasi seperti ini sudah nampak sejak kami membuat acara Natal tahun lalu.</p>
<p>Reaksi stres saya muncul ketika saya menjadi lebih mudah tersinggung ketika saya lelah mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan acara ini. Saya menjadi lebih cepat marah ketika pulang dari rapat. Selain itu, saya sempat tidak dapat tidur karena memikirkan apakah segala sesuatunya sudah beres atau belum. Untuk mengatasi stres ini, saya mencari <em>emotional support</em> dari beberapa teman saya. Saya menceritakan masalah ini kepada teman saya di kampus, karena menurut saya mereka lebih netral untuk dimintai pendapat. Selain itu, saya juga menceritakan masalah ini kepada ibu saya. Saya mengakui bahwa ibu saya adalah salah satu sahabat saya. Ia dapat memberikan saya solusi yang tepat dan dapat membuat saya tenang. Setelah itu, saya juga berdoa kepada Tuhan agar saya diberikan kesabaran serta kebijaksanaan dalam menentukan langkah.</p>
<p>Selain mencari <em>emotional support</em>, saya dan kedua teman saya ini membuat sebuah acara untuk mempersatukan dan menyemangati kembali anggota pengurus kami. Dalam acara ini, kami memutar foto-foto ketika kami melakukan kaderisasi (semacam pelatihan pengurus) yang berkesan bagi kami semua. Selain itu, dalam sharing (khotbah), kami menentukan tema mengenai <em>recommitment</em>. Hal ini dilakukan agar mengingatkan mereka mengenai komitmen mereka untuk melayani sebagai pengurus di gereja. Acara ini pun cukup berhasil. Hal ini terbukti setelah acara ini selesai, teman-teman pengurus saya yang lain mulai berpartisipasi kembali dalam acara-acara yang akan kami adakan di bulan-bulan mendatang seperti Paskah, ulang tahun Komisi Remaja, serta Retret. Menurut Zeidner (1996), <em>coping</em> yang saya lakukan ini dapat disebut <em>problem focus</em>, dimana saya menyelesaikan masalah yang membuat saya stres dengan memfokuskan diri pada masalah yang membuat saya stres dan  mencari cara untuk menyelesaikannya.</p>
<p>Masalah sepertinya terus menghampiri kehidupan saya. Akhir semester lalu, seperti mahasiswa lainnya, saya menerima KHS (Kartu Hasil Studi). Saya sempat <em>shock</em> melihat nilai beberapa mata kuliah saya, khususnya mata kuliah Psikologi Organisasi dan Psikologi Kepribadian 2. Nilai yang saya peroleh dari kedua mata kuliah tersebut adalah B+. Mungkin bagi sebagian orang, sikap saya ini agak berlebihan. Mungkin saya dinilai kurang mensyukuri hasil yang saya peroleh pada kedua mata kuliah tersebut. Jujur saja, saya kecewa dengan nilai saya tersebut.</p>
<p>Saya berusaha untuk menenangkan hati saya. Saya berusaha menerima kenyataan tersebut. Tetapi tetap saja, saya tidak puas dengan nilai tersebut. Saya merasa saya memahami kedua mata kuliah tersebut dengan baik. Nilai UTS saya juga cukup baik. Bahkan saya mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dosen dengan baik dan tepat waktu. Hal lain yang membuat saya stres, nilai saya paling rendah diantara teman-teman sekelompok saya. Rata-rata mereka mendapat nilai A- atau A. Saya mulai merasa rendah diri. Kebetulan pada mata kuliah Psikologi Kepribadian 2, setiap mahasiswa ditugaskan untuk membuat karya tulis mengenai analisis film. Tiba-tiba pikiran negatif pun terlintas dalam otak saya. Saya merasa bahwa saya tidak dapat menulis karya tulis ilmiah dengan baik. Apalagi nilai mata kuliah Penulisan Ilmiah saya hanya B-. Hal ini seakan-akan mendukung pernyataan saya bahwa saya tidak dapat menulis karya ilmiah dengan baik. Saya merasa bahwa teman-teman saya lebih baik daripada saya dalam hal menulis. Saya sempat khawatir bagaimana jika saya harus menulis skripsi nantinya. Saya takut gagal dan tidak dapat lulus sebagai Sarjana Psikologi.</p>
<p>Pikiran-pikiran negatif ini terus menghantui saya selama beberapa hari. Beberapa teman saya berusaha menelepon dan mengirimi sms untuk menghibur saya. Akan tetapi, sms dan telepon mereka tidak saya gubris. Saya berusaha untuk menenangkan hati saya dulu, setelah itu saya baru menghadapi teman-teman saya. Dapat dikatakan, saat itu saya menarik diri dari teman-teman kuliah saya. Saya tidak berkomunikasi dengan mereka selama beberapa hari. Bahkan ketika teman dekat saya menelepon saya, saya tidak menjawabnya. Selama beberapa hari itu, saya menyibukkan diri saya dengan mengurus beberapa acara di gereja saya.</p>
<p>Dapat dikatakan, reaksi stres yang timbul dilihat dari segi emosi adalah adanya penarikan diri dari lingkungan sosial saya, khususnya teman-teman kampus. Hal ini mungkin disebabkan, keberadaan mereka mengingatkan saya akan masalah yang membuat saya stres. Selain itu, saya juga mengalami penurunan <em>self-esteem</em>. Saya merasa tidak percaya diri khususnya dalam bidang menulis. Saya merasa tidak mampu menulis dengan baik seperti teman-teman saya. Dilihat dari segi kognitif, reaksi stres yang muncul adalah adanya pandangan yang negatif terhadap diri. Saya merasa tidak mampu menulis karya ilmiah dengan baik. Selain itu dari segi tingkah laku, saya menghabiskan waktu untuk mengurus beberapa acara di gereja. Jika sedang di rumah, saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan tidur untuk melupakan masalah yang sedang saya alami.</p>
<p>Menurut saya, saya telah melakukan <em>avoidant coping </em>ketika saya menghabiskan waktu dengan tidur dan menyibukkan diri dengan kegiatan gereja untuk melupakan masalah yang sedang saya hadapi. Menurut Zeidner (1996), <em>avoidant coping</em> adalah salah satu jenis coping yang dilakukan dengan menghindar dari masalah yang membuat stres. <em>Avoidant coping</em> ini merupakan ‘<em>unhealthy way to cope with stress’</em>, jika dilakukan secara terus menerus.</p>
<p>Akan tetapi, setelah mengikuti kuliah <em><strong><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Stress" target="_blank">Stress</a></strong> Management</em>, saya memperoleh cara untuk <em>coping</em> yang lebih baik. Pandangan negatif yang saya lakukan disebut sebagai <em>irrational belief</em>. Saya mengatakan pada diri saya sendiri bahwa saya tidak mampu mengerjakan karya tulis dengan baik. Inilah yang disebut dengan <em>self-talk</em> yang negatif pada diri saya. Setelah melihat bahwa saya memperoleh nilai B+ pada mata kuliah tersebut, saya menarik diri dari lingkungan sosial saya dan depresi akan nilai saya tersebut. Hal ini disebabkan karena saya melakukan <em>self-talk</em> yang negatif pada diri saya. Saya berkata bahwa saya tidak dapat mengerjakan karya tulis dengan baik, dan hal ini membuat saya tidak percaya diri. Inilah yang membuat saya menjadi stres. Seharusnya saya mengubah tidak melakukan <em>self-talk</em> yang negatif pada diri saya, karena hal itu akan membuat saya semakin stres.</p>
<p>Hal ini juga didukung oleh pernyataan dalam buku <em>The Secret</em> karangan Rhonda Byrne bahwa kita harus mengirim pesan yang positif pada alam semesta. Jika saya mengirim pesan yang negatif pada alam semesta, maka alam semesta akan mewujudkannya untuk saya (<em>‘your wish is my command’</em>). Setelah mengetahui mengenai hal ini, maka saya mengubah pandangan yang negatif terhadap diri saya dan melakukan self-talk yang positif pada diri saya, <em>“Ok, mungkin saya gagal memperoleh nilai yang maksimal pada mata kuliah ini. Tetapi ini bukan akhir dari segalanya. Saya dapat belajar dari kesalahan saya dan memperbaikinya di masa yang akan datang”</em>.</p>
<p>Setelah mengikuti mata kuliah <em>Stress Management</em>, saya mengetahui bahwa stres tidak selalu membawa dampak yang negatif pada seseorang. Stres itu baik jika kita mengetahui bagaimana mengatasinya dan memberi motivasi untuk mengoptimalkan performa kita. Jadi, hadapilah <strong><a href="http://harmonihidup.com/pengaruh-pertengkaran-orangtua-pada-anak-dan-berbagai-cara-mengatasinya/" target="_blank">stres</a></strong> anda dengan menggunakan <em>coping strategies</em> yang tepat sehingga performa anda menjadi optimal.</p>
<p>Oleh: <strong>Hannakhe Putri </strong></p>
<p><a href="http://harmonihidup.com/things-that-make-me-stress/">Things that Make Me Stress</a> adalah Artikel dari <a href="http://harmonihidup.com">Menghilangkan Stres</a></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><a href="http://harmonihidup.com/things-that-make-me-stress/" title="cara menghilangkan stres pada kepala">cara menghilangkan stres pada kepala</a>,<a href="http://harmonihidup.com/things-that-make-me-stress/" title="banyaknya mahasiswa baru yang mengalami stress karena tidak punya teman">banyaknya mahasiswa baru yang mengalami stress karena tidak punya teman</a>,<a href="http://harmonihidup.com/things-that-make-me-stress/" title="mengelola stres kehidupan manusia">mengelola stres kehidupan manusia</a>,<a href="http://harmonihidup.com/things-that-make-me-stress/" title="menghindari stress semester akhir">menghindari stress semester akhir</a>,<a href="http://harmonihidup.com/things-that-make-me-stress/" title="metode mengatasi stres mahasiswa">metode mengatasi stres mahasiswa</a>,<a href="http://harmonihidup.com/things-that-make-me-stress/" title="saya stress kti">saya stress kti</a>,<a href="http://harmonihidup.com/things-that-make-me-stress/" title="sifat sumber stres ada distress and eustress">sifat sumber stres ada distress and eustress</a>,<a href="http://harmonihidup.com/things-that-make-me-stress/" title="sikap mengerjakan tugas kelompok di sma">sikap mengerjakan tugas kelompok di sma</a>,<a href="http://harmonihidup.com/things-that-make-me-stress/" title="sipat sumberstres ada dua yaitu distress dan eustress">sipat sumberstres ada dua yaitu distress dan eustress</a>,<a href="http://harmonihidup.com/things-that-make-me-stress/" title="stress hidup">stress hidup</a>,<a href="http://harmonihidup.com/things-that-make-me-stress/" title="sumber stres dan cara mengatasi stres">sumber stres dan cara mengatasi stres</a>,<a href="http://harmonihidup.com/things-that-make-me-stress/" title="kenapa disemester akhir kuliah terjadi penurunan motivasi">kenapa disemester akhir kuliah terjadi penurunan motivasi</a>,<a href="http://harmonihidup.com/things-that-make-me-stress/" title="hidup introvert stres">hidup introvert stres</a>,<a href="http://harmonihidup.com/things-that-make-me-stress/" title="cara hadapi dosen marah">cara hadapi dosen marah</a>,<a href="http://harmonihidup.com/things-that-make-me-stress/" title="cara kita bekerja jika dilihat dari distres dan eustress">cara kita bekerja jika dilihat dari distres dan eustress</a></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harmonihidup.com/things-that-make-me-stress/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Stresor Psikososial dan Kaitannya Dengan Self Esteem</title>
		<link>http://harmonihidup.com/stresor-psikososial-dan-kaitannya-dengan-self-esteem/</link>
		<comments>http://harmonihidup.com/stresor-psikososial-dan-kaitannya-dengan-self-esteem/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 May 2012 10:15:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[cara mengatasi stres psikososial]]></category>
		<category><![CDATA[self esteem]]></category>
		<category><![CDATA[stres psikososial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harmonihidup.com/?p=311</guid>
		<description><![CDATA[Menurut Girdano (2005) terdapat tiga jenis sumber stres yaitu faktor psikososial, bioekologikal, dan personal. Seseorang dapat mengalami stres yang berasal dari salah satu faktor yang disebutkan diatas atau mengalami ketiganya... <span class="meta-more"><a href="http://harmonihidup.com/stresor-psikososial-dan-kaitannya-dengan-self-esteem/">Read more &#187;</a></span><p><a href="http://harmonihidup.com/stresor-psikososial-dan-kaitannya-dengan-self-esteem/">Stresor Psikososial dan Kaitannya Dengan Self Esteem</a> adalah Artikel dari <a href="http://harmonihidup.com">Menghilangkan Stres</a></p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://harmonihidup.com/wp-content/uploads/2012/05/harmoni-hidup-062.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-312" title="Stresor Psikososial dan kaitannya dengan Self Esteem" src="http://harmonihidup.com/wp-content/uploads/2012/05/harmoni-hidup-062.jpg" alt="Harmoni Hidup" width="150" height="150" /></a></p>
<p>Menurut Girdano (2005) terdapat tiga jenis sumber <strong><a href="http://harmonihidup.com/me-myself-and-i/" target="_blank">stres</a></strong> yaitu faktor psikososial, bioekologikal, dan personal. Seseorang dapat mengalami stres yang berasal dari salah satu faktor yang disebutkan diatas atau mengalami ketiganya disaat yang bersamaan. Stres yang saya alami kebanyakan bersumber dari faktor psikososial dan personal. Dari faktor psikososial, stresornya adalah <em>overload </em>dan frustasi.</p>
<p><em>Overload</em> yang sering saya alami dimanifestasikan dengan banyaknyanya tugas-tugas kuliah yang dibarengi dengan kegiatan mengajar privat sehingga membuat saya terkadang merasa kewalahan membagi waktu dan tak jarang saya pun akhirnya mengalami stres ringan yang biasanya langsung direspon oleh tubuh saya berupa sakit kepala. Ditambah lagi dengan les piano dirumah guru saya yang bertempat di bogor yang lumayan jauh jaraknya. Pernah suatu ketika saya merasa sangat <em>overload</em> ketika saya harus les piano ditambah dengan mengerjakan paper ujian dihari yang bersamaan sementara keesokan harinya merupakan deadline jadwal pengumpulan paper dan minggu depannya saya harus menghadapi ujian praktek pianonya. Wah seminggu penuh saya merasa sangat sibuk bahkan waktu tidur yang saya miliki hanya empat jam saja karena rumah saya berdomisili di depok jadi cukup jauh dari kampus, tempat les, dan tempat mengajar saya.  Tugas-tugas kuliah saya yang terkadang datang disaat yang bersamaan memaksa saya untuk tidak tidur sepanjang malam sehingga mengganggu body-clock saya. Saya menjadi sulit tidur di malam hari karena rasa cemas berlebih akan tugas-tugas yang belum selesai saya kerjakan. Tak jarang saya jadi sering dimarahi oleh guru les saya karena tidak sempat latihan dan sering disindir ‘anak tak mampu’ dan mendapat nilai tugas yang pas-pasan. Terlintas dipikiran saya jangan-jangan memang perkataan guru saya itu benar dan saya benar-benar bodoh makanya mendapat nilai rata-rata. Namun saya tahu sebenarnya itu karena saya suka menunda-nunda pekerjaan. Jika saya mengalami hal ini, kegiatan rutin yang biasanya saya lakukan adalah berdoa karena dengan begitu dapat memberikan sedikit ketenangan batin bagi saya. Selain kegiatan tersebut, adakalanya saya mendengarkan musik klasik ciptaan Mozart yang mengalun lembut dan halus sehingga memberikan kesan damai bagi jiwa saya yang gelisah. Untuk mengatasi <em>time-management</em> saya yang kurang baik terkadang saya membuat jadwal mingguan, sayangnya karena terkadang saya punya jadwal mendadak seperti murid yang tiba-tiba berhalangan hadir atau kuis dadakan maka saya jadi tidak rutin membuat jadwal tersebut dan akhirnya malas untuk membuat jadwal lanjutannya. Teknik <em>coping</em> tipe ini termasuk dalam teknik <em>coping emotion-focused</em> (Larazarus&amp;Folkman, 1984; Pearlin&amp; Schooler, 1978) dan membuat jadwal termasuk ke dalam teknik <em>coping problem-directed </em>tipe<em> planful problem solving. </em></p>
<p>Sumber stres dari kelompok frustasi yang paling membuat saya stres dan menimbulkan stres-stres berikutnya adalah diskriminasi yang saya alami ketika saya masih remaja. <em>Event</em> yang saya alami ketika saya masih kelas IV SD adalah <em>bullying.</em> Cacat fisik yang saya alami waktu itu membuat peer group saya menjauhi saya dan enggan untuk bermain bersama saya. <em>Event </em>ini merupakan stres yang amat berat bagi saya dan karena terjadi secara terus-menerus hingga saya menginjak bangku SMA maka peristiwa ini membentuk kepribadian saya yang sekarang dengan berbagai distorsi kognitif yang ada. Hal ini jugalah yang membuat <em>self-esteem</em> dan <em>self-concept</em> saya menjadi rendah dan terganggu.</p>
<p>Kejadian itu berawal ketika aku berpindah ke sebuah sekolah SD baru yang bertempat di belakang rumahku. Ketika itu aku akan menginjak kelas 4 SD. Saat itu sungguh hari yang menyenangkan bagiku karena aku berpikir bahwa aku akan mempunyai sahabat-sahabat yang baru lagi. Aku berjalan ke sekolah dengan hati yang senang dan bersemangat. Perkenalanku di kelas berjalan dengan baik-baik saja dan aku mendapatkan teman sebangku yang cantik dan baik hati. Ketika bel istirahat berbunyi akupun keluar kelas bersama teman sebangkuku. Disinilah kejadian itu berawal. Seorang anak lelaki mengejekku dan berteriak padaku di depan orang-orang lain mengata-ngatai ‘si tengleng’ padaku. Aku malu sekali, aku juga memperhatikan kalau teman sebangkuku wajahnya memerah karena malu padaku, orang-orang yang ada di sekitarku tertawa sekeras-kerasnya. Aku tidak tau harus berbuat apa akhirnya aku berlari ke kelasku sendirian meninggalkan sahabat baruku itu. Dikelas aku menangis sendirian, sampai bel masuk berbunyi aku menangis saja dan sahabat baruku itu pergi entah kemana. Ketika bel msuk berbunyi, entah kenapa sahabatku itu pindah tempat duduk ke tempat duduk lain. Dan sepanjang hari itu aku merasa bahwa banyak sekali yang berbisik dan tertawa di belakangku. Bel pulang sekolah berbunyi dan aku pulang paling akhir, kebetulan di sekolah ada sebuah taman yang ditengahnya terdapat kolam ikan. Biasanya setelah pulang sekolah aku hanya duduk disana sambil bercermin ke kolam tersebut memikirkan semua kejadian yang sudah terjadi padaku sepanjang hari itu. Sore hari baru aku pulang kerumah. Di rumah aku tidak pernah sekalipun bercerita kepada Mama tentang kejadian disekolah. Begitu pulang sekolah aku langsung masuk kamar untuk tidur siang, mengerjakan PR di kamar, mandi dan makanpun di kamar. Aku jadi jarang keluar kamar. Kamarku adalah Motherlandku dimana aku bisa ngapa-ngapain sekehendak hatiku. Hanya kamarkulah yang tahu apa yang terjadi. Dinding dan langit-langit kamarku menjadi saksi dari semua kesedihan yang kualami. tidak pernah ada yang tahu mengenai semua kejadian ini sampai aku bercerita pada sahabatku ketika kuliah dan mamakupun baru tahu aku di bullied karena tidak sengaja membaca diariku beberapa bulan yang lalu.</p>
<p>Dikata-katai, dimaki, dihindari seperti virus, kakinya dijegal, ditimpuki dengan tas atau barang sekolah lainnya seperti kapur tulis, spidol dan lain-lainnya menjadi makanan harianku di sekolah. Aku sudah terbiasa dengan kesemua hal itu. Aku hanya bisa memperhatikan dari jauh sendirian di kolam ikan, memperhatikan teman-temanku yang sedang bermain bersama anak-anak lainnya. Adayang bermain bola bekel, main karet, main bola sepak, dan bercanda ria. Hanya satu anak yang duduk terdiam dengan murung dan tak ada orang yang meyadari keberadaan dirinya di sekolah itu. Ya, itulah aku. Sekolah merupakan sebuah siksaan bagiku. Tapi aku harus tetap bertahan. Aku harus lulus dengan nilai yang baik karena aku sayang Mama. Ketika aku menginjak kelas 5 SD aku mulai belajar perkalian dan pembagian. Semua perkalian dari angka 1-9 harus dihapalkan. Entah mengapa aku sulit sekali menghapal. Sampai Mama harus turun tangan untuk membantuku. Mamaku sangat keras dalam mendidikku. Satu hal yang membuat aku sedih adalah ketika aku tidak dapat mengerjakan beberapa soal mamaku berkata, “Dasar anak bodoh, masa begini saja tidak bisa dikerjain sih? Kamu bukan anak mama kali ya, mungkin ketuker di rumah sakit waktu dulu kamu dilahirkan”. Saat itu sepertinya seluruh dunia menolakku. Tidak apa-apa jika teman-teman dan seluruh dunia menolakku, tapi jangan mamaku satu-satunya yang kusayangi. Saat itu aku merasa bahwa mama amat membenciku tapi keesokan harinya ketika aku bisa menjawab pertanyaan Pak guru padaku di depan kelas sampai semua teman-teman heran dan kagum padaku, aku baru mengerti bahwa mama melakukan hal itu karena Mama sayang padaku. Namun tetap saja kejadian indah hari itu tak bisa membuat teman-temanku berhenti untuk menggencetku. Mereka selalu mengata-ngataiku tiap kali aku lewat di depan mereka sampai-sampai rasanya aku tuli dan ga ingin mendengar lagi apa yang dikatakan mereka. Akupun tidak pernah mau bicara pada siapapun juga dikelas selain Guru. Sebisa mungkin aku tidak berbicara dan bergerak. Aku berakting layaknya sebuah tembok yang tidak pernah bersuara, bergerak, atau diperhatikan siapapun juga. Kejadian yang sama ini berulang terus hingga aku lulus kelas 6 SD dengan nilai yang pas-pasan mendekati buruk. Kenapa? Aku juga tidak tahu apa yang menyebabkan hal tersebut. Entah karena nilai yang buruk atau karena kondisi badanku yang sering sakit-sakitan sehingga tidak bisa masuk sekolah. Setiap kali aku menanyakan soal yang tidak kumengerti pada teman sebelahku, pasti dia langsung pura-pura bicara dengan teman kelasku yang lain dan tidak mendengarkan apalagi memperhatikan aku yang sedang kesulitan. Aku merasa sangat bersalah pada Mama dan Papa karena aku mendapat nilai yang buruk tidak seperti apa yang mereka harapkan. Namun betapa beruntungnya diriku karena Mama dapat menerima aku apa adanya. Beliau hanya menyemangati aku untuk belajar lebih keras lagi dan mengatakan kalau kegagalan adalah sebuah sukses yang tertunda. Ah, alangkah lembutnya perkataan tersebut sehingga <em>somehow </em>perkataan itu bisa membuat lega dan keluar dari rasa bersalah yang amat besar. <em>Aku takut, aku merasa bersalah, aku tidak ingin ditolak oleh mama. Aku ingin buktikan bahwa aku adalah anak Mama yang pintar dan baik. </em>Itu adalah apa yang kupikirkan pada saat itu.</p>
<p>Pada awalnya aku mengalami stres yang belum terlalu berat. Disini <em>peer pressure</em> menjadi penyebab stres utamaku, selain itu terdapat pula <em>boredom and loneliness</em> yang menjadi efek dari <em>peer pressure</em> yang kualami. Hal ini membuat <em>distres</em> yang berkepanjangan dan merusak sehingga lama-kelamaan stres tersebut berubah menjadi depresi. Reaksi <strong><a href="http://harmonihidup.com/pengaruh-pertengkaran-orangtua-pada-anak-dan-berbagai-cara-mengatasinya/" target="_blank">stres</a></strong> yang kualami itu bermacam-macam. Dari segi emosi aku menjadi sering menangis dan bersedih hati, cuek dan pendiam dari segi tingkah laku, dan negative-thinking dari segi kognitif ditambah dengan rasa pusing dan demam yang sering kualami dari segi biologis.  Akhirnya akupun mengalami <em>psychophysiological disorders</em> (Levy &amp; others,1990), dimana aku seringkali jatuh sakit dan tidak masuk sekolah. Aku menduga bahwa penyakitku adalah salah satu bentuk <em>psychophysiological disorders</em> karena rasanya hal itu adalah salah satu bentuk pelarianku dimana jika aku sakit aku tidak perlu sekolah karena bagiku sekolah adalah sebuah tempat siksaan, dan sakitku itu dikarenakan suatu manifestasi dari masalah psikis yang tidak terselesaikan. Lagipula dokter mengatakan bahwa tidak ada penyebab signifikan dari penyakitku tersebut. Teknik <em>coping</em> yang biasa kupakai semasa SD adalah <em>escape-avoidance</em> dimana aku lebih suka untuk melarikan diri dari masalah yang ada. Masa ini adalah masa awal dimana aku merasa depresi dan merasa bahwa diriku tidak berharga. Rasa <em>desorted</em> yang begitu besar membawa dampak yang buruk bagi <em>self-esteem</em> dan <em>self-conceptku.</em>  Aku menjadi seorang anak yang menarik diri dari lingkungan.</p>
<p>Lulus dari sekolah SD yang kelam aku memasuki sebuah sekolah SMP yang tidak terlalu terkenal dan merupakan tempat sekolah dimana Mamaku bersekolah dahulu. Hari pertama aku bersekolah aku cukup senang karena aku berpikir bahwa aku bisa memulai “hidup baru” dan membuka lembaran baru dan tidak mengingat-ingat lagi kasus bullying yang kualami waktu SD dulu. Meskipun begitu, sifat dan sikapku yang seperti “tembok” itu tetap tidak bisa hilang dari diriku. Dan aku jadi tidak suka untuk mulai bergaul dengan teman-teman yang ada disitu karena aku takut hal yang dulu kualami akan terjadi lagi padaku. <em>Teman adalah makhluk yang menyusahkan. </em>Itu adalah mottoku saat itu. Aku selalu memasang tampang ‘jutek’ agar tidak ada orang yang berani menindasku lagi. Tapi <em>somehow</em> ada seorang cewek yang masih ingin berteman denganku. Aku senang menjadi sahabatnya dan itu adalah pertamakalinya aku menjalin hubungan persahabatan yang sesungguhnya. Semuanya berjalan dengan baik sampai hari itu terjadi. Seorang siswa berkata, “Ihh.. si olin tuh aneh ya kepalanya miring.. ahahhaha” dan dia menirukangaya kepala miringku itu dan teman-temanku tertawa. Anehnya teman siswi  ini tidak merespon dan hanya berkata “ahh ya udahlah cuekin aja dasar dia yang gila”. Ini sih namanya keluar dari mulut buaya masuk ke mulut harimau. Dan kebetulan di kelas yang sama itu juga terdapat siswi yang namanya sama denganku dan ketika ada yang mengatakan bahwa dia kembaranku dia malah berkata, “Ihh.. amit-amit jabang bayi, kembaran sama dia? Please deh mending gue mati daripada disamain sama dia, ga level banget deh.” Begitulah keadaannya. Temen sesama siswiku itu ternyata bukannya malah jadi temanku malah menjadikanku budaknya. Membelikan dia makanan ke kantin, mengambilkan bukunya yang jatuh ke lantai, dan mengikatkan tali sepatunya yang lepas adalah kesiatanku sehari-hari. Semua itu berlangsung terus hingga suatu saat ada orang yang berkata, “ihh.. liat tuh si tengleng sekarang udah jadi babunya F”. akhirnya aku meninggalkan temanku itu ke kelas dan tidak pernah mau menyapanyanya lagi sampai aku  SMA. Itupun karena ia udah pindah ke SMA yang lain. Tapi tetap saja aku selalu melakukan apa yang temanku suruh hanya agar aku memperoleh Social acceptance. Menjadi budak, menjadi kurir atau apapun itu akan aku lakukan demi untuk mendapatkan social acceptance. Aku tidak pernah mengeluh ataupun marah karena hal tersebut. Nilai-nilaiku di SMP jelek sekali sampai ada nilai 4 di raportku. Yahh.. semangat untuk hidup hilang apalagi untuk mendapat nilai. Akupun sering jarang masuk seolah karena aku sering sakit kepala sebelah dan demam tinggi. Tapi ketika dibawa ke dokter, Dokter tidak menemukan penyebab aapun yang menyebabkan tubuhku panas mendidih seperti itu. Dokter hanya bilang kalau aku terlalu kecapekan. Sangking aku putus asa dan mengalami tekanan yang begitu berat aku berpikir untuk bunuh diri. Namun aku terlalu takut untuk melakukannya. Aku tak pernah bercerita pada siapapun juga mengenai hal ini. Mungkin inilah yang membuat masalah ini terasa sangat berat sekali. Untuk menghindari teman-teman biasanya aku menyibukkan diriku sendiri misalnya dengan membaca, mendengarkan lagu, atau yang lainnya. Akupun mulai sibuk dalam keseharianku untuk mengisi waktu-waktu luang sehingga aku tidak punya waktu untuk berpikir bunuh diri.Sangking sibuknya sampai-sampai aku lupa makan dan istirahat dan aku terkena maag yang akut dan harus perawatan di rumah. Aku mulai menjadi seorang yang suka menyalahkan diri sendiri kalau aku punya nilai yang jelek dan tidak sesuai dengan apa yang kuharapkan. Biasanya kalau aku merasa bersalah aku mulai menghukum diriku sendiri. Misalnya seperti harus detention di kamar atau membaca novel. Kalau aku sudah merasa depresi begitu biasanya aku hanya tidur, nonton, bernyanyi sambil teriak-teriak atau kadang kalau moodnya lagi bagus aku biasanya membersihkan kamar dan berkata dalam hati, “Oke, kejadian kemarin udah terjadi dan aku tidak bisa mengulang waktu lagi, kalo gitu aku harus jadi lebih baik lagi lain kali dan tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi seperti kemarin.”</p>
<p>Dimasa SMA ini stres dan depresi yang aku alami kian besarnya sampai-sampai aku mengalami distorsi kognitif. Karena terlalu perfeksionisnya, aku merasa bahwa kegagalan atau kesalahan yang kecil membuatku menjadi seorang yang gagal total. Tak jarang juga aku mengalami overgeneralisasi, filter mental, dan pemberian cap dalam beradaptasi dan menjalin hubungan interpersonal (Santrock,2006). Contohnya, ketika aku merasa bahwa diriku tak berguna dan teman-teman adalah mahluk yang menyusahkan aku sedang melakukan pencapan dan overgeneralisasi tanpa memikirkan tanggapan rasional terlebih dahulu. Terkadang aku juga melakukan personalisasi dimana aku merasa bahwa bila kesalahan atau kerusakan terjadi itu semua adalah salahku.. Dengan tidak adanya kepercayaan diriku pada orang lain, tidak menghargai diri sendiri, susah menjalin relasi dengan teman, dan rentan terhadap penolakan orang lain membuatku sadar bahwa aku memiliki self-esteem yang rendah. Selain itu aku juga mengalami <em>dysfunctional attitude</em>, antara lain rentan terhadap penilaian orang lain karena <em>locus of control</em>ku eksternal, <em>workaholic</em>, dan perfeksionis. Aku tak bisa mentolerir kesalahan sedikitpun hingga menyebabkan aku stres sendiri. Disini terlihat bahwa faktor personal juga ikut memberikan kontribusi dalam menyebabkan seseorang menjadi stres.  Teknik <em>coping</em> yang aku pakai ketika aku sedang stres masih sama ketika aku masih SD, yaitu <em>escape-avoidance</em>. Aku hanya mencari tempat pelarian dimana aku bisa merasa sedikit tenang walaupun masalahku sama sekali tidak terselesaikan. Lagi-lagi teknik yang dipakai adalah <em>emotion focused</em>  yang tidak membawa penyelesaian masalah. Akhirnya karena terjadi secara terus-menerus maka membuatku merasa depresi berat</p>
<p>Pada waktu menginjak bangku SMA aku tumbuh menjadi seorang pribadi yang pendiam, introvert, perfeksionist, dan omnipotensial. Semua tugas aku kerjakan sebaik-baiknya dan tiap kali mendapat nilai buruk aku tidak pernah menyalahkan pihak luar semua itu terjadi karena kelalaian aku sendiri. aku yang mengemban tugas dan aku pulalah yang harus menyelesaikan tugas tersebut dengan baik. Di bangku SMA ini tidak ada lagi teman yang bullying padaku. akupun mendapat nilai dan prestasi yang baik di masa SMA ini. Meskipun begitu, jika ada saja seseorang yang mencela dan mengkritik aku, aku langsung sedih dan depresi. aku merasa kalau aku adalah orang yang gagal. Semua tindakan dan pikiranku  selalu bergantung atas pendapat orang lain. Aku tidak pernah puas dengan apa yang sudah aku dapatkan. Aku sulit untuk menentukan sesuatu bahkan hal-hal terkecil sekalipun seperti  membeli sebuah tas. Dan sulit sekali bagiku untuk berpikir positif. Tiap kali melakukan kesalahan kecil saja sudah cukup membuatku merasa sebagai loser dan aku pasti akan memikirkan hal tersebut sepanjang hari sampai tidak bisa tidur. Dan cukup sulit bagiku untuk menghilangkan pendapatku bahwa teman adalah makhluk jahat yang menyusahkan sampai suatu saat aku menemukan seorang sahabat yang baik sekali padaku. Namanya Dian, dia murid baru pindahan ke sekolahku. Bahkan ketika aku sakit dan tidak masuk sekolah, dia mau meminjamkan buku catatan pelajaran sepanjang hari itu padaku. Dia juga tidak pernah memanfaatkanku seperti teman-temanku yang lain. Aku baru merasakan arti persahabatan yang sebenarnya. Yang tadinya aku sangat sulit untuk percaya pada orang lain, aku mulai untuk percaya padanya dan menceritakan masalah sehari-hari padanya. Aku mulai sharing padanya dan untuk pertamakalinya aku tertawa dan merasa ada sesuatu yang terangkat dari dalam dadaku ini sepertinya perasaanku jadi lebih ringan setelah bercerita padanya. Aku senang bersahabat padanya. Apalagi kebetulan kami memiliki hobi dan kesukaan yang sama yaitu menggambar karakter anime. Kamipun saling membantu sama lain jika ada kesulitan dalam hal apapun seperti mengerjakan soal, menggambar karakter, bahkan kesulitan financial juga. Hari-hari yang menyenangkan berlalu begitu cepatnya. Aku dan dia selalu mendapat kelas yang sama dan jadilah kami selalu duduk sebangku dan kemana-mana selalu berdua bahkan sampai ada yang bilang aku lesbi. Tapi aku sudah tidak peduli lagi dengan omongan orang.. yah.. bisa dibilang sudah tuli terhadap ejekan orang. Oh ya, pas SMA tenglengku memang udah tidak separah waktu dulu karena aku menggunakan alat penyangga leher tiap kali pulang kerumah. Nah ketika aku menginjak kelas 3 SMA IPA, aku punya 1 teman baru lagi. Dan akupun mulai akrab dengan A si teman baruku itu. Tapi entah mengapa si Dian marah padaku dan bersikap bermusuhan denganku sampai membocorkan semua rahasia yang sudah kupercayakan sama dia. Hancur sudah! Kenapa disaat aku mulai percaya sama orang malah dikhianati kepercayaan tersebut. Usut punya usut ternyata Dian merasa tersisih jika aku berteman dengan A. Yah… sekali lagi aku merasa sangat bersalah atas kejadian tersebut dan meminta maaf duluan walaupun bukan salahku. Tapi sepertinya Dian masih belum bisa memafkanku sampai detik ini juga. Ditahun yang sama ini juga aku mempunyai seorang kekasih yang menurutku lumayan baik dan pengertian. Walaupun usia kami terpaut jauh, namun ia bisa menerimaku apa adanya. Aku yang hina, cacat, dan aneh ini. Aku juga tidak mengerti kenapa dia bisa naksir aku. Aku malah berpikir yang jelek tentang dia, bahwa dia mau memanfaatkankulah, dia mau mempermainkankulah, dll. Tiga bulan pertama kami pacaran aku sebisa mungkin tidak bicara kalau tidak ditanya sama dia, sehingga hal itu terkadang membuat dia kesal. Ketika aku bertanya kenapa dia bisa naksir aku dia hanya menjawab, “ya jelas dong.. kamukancantik, baik hati, jago main alat musik, dan anak pendeta lagi…” “Gila kali ni orang” begitu pikirku. Aku hanya menganggap perkataannya candaan bahkan kadang aku merasa tersindir karena ucapannya itu. Aku cantik? Buta kali.. Semua sikap dan pemikiranku ini sering sekali membuat pertengkaran-pertengkaran besar yang seharusnya tidak perlu terjadi. Dan percaya ato tidak kami masih suka bertengkar sampai sekarang. Walaupun begitu, semua kebaikan dan perhatiannya terhadapku membuat hatiku yang sedingin es mencair dan akupun mulai terbuka padanya, menceritakan semua masalahku  padanya.  Masa SMAku berakhir dengan baik, teman-temann sekelas yang tidak menyebalkan, nilai raport yang baik dan mencapai peringkat ketiga dalam memiliki rata-rata UAN yang baik.</p>
<p><em>Ok,</em> <em>being omnipotential is good, but not in that way</em> (Santrock,2006). Rasa bersalah atas kejadian buruk yang menimpa orang lain membuatku merasa sangat tidak nyaman. Karena aku merasa bahwa aku bisa melakukan segala sesuatunya maka aku sering merasa cemas. <em>Labelling</em> diri sendiri selalu saya lakukan apalagi jika ada masalah yang terjadi. Emosi negatif baru yang muncul pada tahap perkembangan ini adalah <em>jealousy</em>, dimana aku takut kehilangan perhatian dan kasih sayang dari pacarku itu. Namun ada juga emosi positif yang kualami yaitu <em>Love and tenderness</em>. Masa SMA adalah masa yang menyenangkan. Memang betul seperti itu. Namun tetap saja semua prestasi dan afeksi yang didapatkan tidak merubah kepribadianku karena aku menganggap bahwa semua hasil yang kudapat bukan berasal dari kemampuanku sendiri tapi lebih karena faktor keberuntungan. Teknik <em>coping</em> yang dipakai sudah agak lebih baik dari masa-masa dulu. Sekarang teknik <em>coping</em> sudah berubah kearah <em>accepting responsibility</em> dan <em>seeking for social support</em>.</p>
<p>Dari deskripsi pengalaman hidup diatas dapat terlihat dinamika perkembangan teknik <em>coping</em> yang dipakai dalam menghadapi stres yang bersumber dari lingkungan social (psikososial) dan personal. Keseluruhan teknik yang dipakai kebanyakan merupakan kelompok  teknik <em>emotion-focused</em> ketimbang <em>problem focused</em>. Teknik <em>coping</em> yang sering dipakai pertamakali adalah teknik <em>escape-avoidance</em> yang <em>prolonged </em>berlaku semenjak SD hingga SMP yang akhirnya mengalami perubahan teknik menjadi teknik seeking for <em>social support</em> dan<em> accepting the responsibility</em>.  Dengan menggunakan teknik <em>coping</em> yang terakhir ini saya jadi lebih bisa membuka diri terhadap lingkungan dan perlahan-lahan mengikis distorsi kognitif yang saya punya meskipun perkembangannya tergolong lambat. Sampai sekarang saya masih agak canggung jika harus berhubungan dengan orang lain tapi saya tetap berusaha dengan dorongan keluarga serta teman-teman untuk menjadi lebih baik lagi. Saya sangat bersyukur dapat mengikuti kelas <em>stress management</em> dimana saya mendapatkan lebih banyak lagi teknik-teknik menanggulangi stres lebih baik lagi dan mendapatkan lebih banyak pengetahuan mengenai <strong><a href="http://harmonihidup.com/1001-stres/" target="_blank">stres</a></strong>.</p>
<p>Oleh: <strong>Carolina.M.</strong></p>
<p><a href="http://harmonihidup.com/stresor-psikososial-dan-kaitannya-dengan-self-esteem/">Stresor Psikososial dan Kaitannya Dengan Self Esteem</a> adalah Artikel dari <a href="http://harmonihidup.com">Menghilangkan Stres</a></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><a href="http://harmonihidup.com/stresor-psikososial-dan-kaitannya-dengan-self-esteem/" title="stresor">stresor</a>,<a href="http://harmonihidup.com/stresor-psikososial-dan-kaitannya-dengan-self-esteem/" title="stres psikososial">stres psikososial</a>,<a href="http://harmonihidup.com/stresor-psikososial-dan-kaitannya-dengan-self-esteem/" title="Psikososial">Psikososial</a>,<a href="http://harmonihidup.com/stresor-psikososial-dan-kaitannya-dengan-self-esteem/" title="stressor psikososial">stressor psikososial</a>,<a href="http://harmonihidup.com/stresor-psikososial-dan-kaitannya-dengan-self-esteem/" title="stresor psikososial">stresor psikososial</a>,<a href="http://harmonihidup.com/stresor-psikososial-dan-kaitannya-dengan-self-esteem/" title="pengertian stresor psikososial">pengertian stresor psikososial</a>,<a href="http://harmonihidup.com/stresor-psikososial-dan-kaitannya-dengan-self-esteem/" title="stress psikososial">stress psikososial</a>,<a href="http://harmonihidup.com/stresor-psikososial-dan-kaitannya-dengan-self-esteem/" title="psikososial adalah">psikososial adalah</a>,<a href="http://harmonihidup.com/stresor-psikososial-dan-kaitannya-dengan-self-esteem/" title="pengertian stresor">pengertian stresor</a>,<a href="http://harmonihidup.com/stresor-psikososial-dan-kaitannya-dengan-self-esteem/" title="psikososial stres">psikososial stres</a>,<a href="http://harmonihidup.com/stresor-psikososial-dan-kaitannya-dengan-self-esteem/" title="stres psikososial mahasiswa">stres psikososial mahasiswa</a>,<a href="http://harmonihidup.com/stresor-psikososial-dan-kaitannya-dengan-self-esteem/" title="jenis stressor psikososial">jenis stressor psikososial</a>,<a href="http://harmonihidup.com/stresor-psikososial-dan-kaitannya-dengan-self-esteem/" title="teknik coping">teknik coping</a>,<a href="http://harmonihidup.com/stresor-psikososial-dan-kaitannya-dengan-self-esteem/" title="sumbes stressor psikososial">sumbes stressor psikososial</a>,<a href="http://harmonihidup.com/stresor-psikososial-dan-kaitannya-dengan-self-esteem/" title="stress psikososial adalah">stress psikososial adalah</a></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harmonihidup.com/stresor-psikososial-dan-kaitannya-dengan-self-esteem/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Me, Myself, and I</title>
		<link>http://harmonihidup.com/me-myself-and-i/</link>
		<comments>http://harmonihidup.com/me-myself-and-i/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 May 2012 02:24:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[cara mengatasi stres]]></category>
		<category><![CDATA[cara mengelola stres]]></category>
		<category><![CDATA[cara menghilangkan stres]]></category>
		<category><![CDATA[stres]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harmonihidup.com/?p=283</guid>
		<description><![CDATA[Bayangkan anda adalah seorang pria paruh baya yang memiliki keluarga yang harmonis dengan istri yang cantik dan dua anak yang sangat lucu dan pintar. Anda memiliki rumah yang sangat baik,... <span class="meta-more"><a href="http://harmonihidup.com/me-myself-and-i/">Read more &#187;</a></span><p><a href="http://harmonihidup.com/me-myself-and-i/">Me, Myself, and I</a> adalah Artikel dari <a href="http://harmonihidup.com">Menghilangkan Stres</a></p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://harmonihidup.com/wp-content/uploads/2012/05/harmoni-hidup-061.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-284" title="Me, Myself, and I" src="http://harmonihidup.com/wp-content/uploads/2012/05/harmoni-hidup-061.jpg" alt="cara menghilangkan stres" width="150" height="150" /></a></p>
<p>Bayangkan anda adalah seorang pria paruh baya yang memiliki keluarga yang harmonis dengan istri yang cantik dan dua anak yang sangat lucu dan pintar. Anda memiliki rumah yang sangat baik, fasilitas yang cukup lengkap, serta beberapa kendaraan yang siap dipakai setiap saat. Anda bekerja di suatu perusahaan swasta yang cukup besar dengan ratusan karyawan lain di dalamnya. Anda telah bekerja cukup lama di perusahaan tersebut dan memiliki posisi yang cukup tinggi dan bergengsi. Anda juga mendapatkan gaji yang cukup besar, sehingga anda tidak pernah memiliki masalah dengan keuangan keluarga anda. Semuanya terasa begitu sempurna di dalam hidup anda, sehingga anda merasa sangat bahagia dalam menjalani hidup dan rutinitas keseharian. Hingga suatu saat, nilai tukar mata uang negara anda tiba-tiba turun secara drastis karena negara anda memiliki konflik politik internal. Akibat penurunan nilai tukar mata uang tersebut, perusahaan tempat anda bekerja mendapatkan dampak yang luar biasa besar. Perusahaan tersebut terancam bankrut dalam waktu dekat, sehingga para komisaris perusahaan memutuskan untuk mengurangi jumlah pegawai di dalam perusahaan. Secara tidak disangka, nama anda terdapat dalam nama-nama karyawan yang harus diberhentikan. Setelah anda berhenti bekerja, anda sama sekali tidak memiliki sumber pemasukan yang dapat dipergunakan untuk menutupi pengeluaran keluarga. Tiba-tiba anda membutuhkan dana yang cukup besar untuk pengobatan penyakit kronis istri anda serta untuk membayar biaya masuk anak anda dalam suatu sekolah unggulan. Anda telah berusaha untuk melamar di beberapa perusahaan yang lain, namun anda selalu ditolak dengan alasan umur anda yang tidak muda lagi.</p>
<p>Apa yang anda rasakan jika anda dihadapkan didalam situasi dan kondisi seperti demikian? Apakah anda akan marah? Anda akan depresi? Ataukah anda justru tidak merasa tertekan sama sekali? Reaksi dan perasaan anda pun belum tentu sama dengan reaksi dan perasaan orang lain, termasuk penulis sendiri. Sepenggal cerita tersebut bertujuan untuk menggambarkan bahwa dalam suatu kasus yang sama, setiap orang memiliki reaksi <strong><a href="http://harmonihidup.com/pengaruh-pertengkaran-orangtua-pada-anak-dan-berbagai-cara-mengatasinya/" target="_blank">stres</a></strong> yang berbeda pada suatu <em>stressor</em>. <em>Stressor sendiri </em> ialah suatu keadaan atau stimulus yang dapat memicu timbulnya stres pada seseorang <sup>[1]</sup>. Dengan demikian, setiap orang juga memiliki kemampuan dan cara untuk mengelola stres yang berbeda antara satu individu dengan individu yang lain.</p>
<p>Girdano, dalam bukunya yang berjudul ”<em>Controlling stres and tension</em>” (2005) mengatakan bahwa usaha untuk mengelola stres / <em>stress management </em>pada seorang manusia secara umum dapat dibagi menjadi empat tahapan besar, yaitu <sup>[2]</sup> :</p>
<ol start="1">
<li><strong>Mengenali reaksi stres yang kita miliki.</strong></li>
<li><strong>Mengidentifikasi <em>stressor-stressor</em> yang ada.</strong></li>
<li><strong>Mencari dan melakukan teknik <em>coping stress</em> yang sesuai.</strong></li>
<li><strong>Melakukan seluruh tahap 1 – 3 secara rutin pada kehidupan sehari-hari kita.</strong></li>
</ol>
<p>Berdasarkan teori diatas, saya akan berusaha untuk menguraikan reaksi stres dan <em>stressor</em> yang terdapat dalam diri saya sendiri. Selain beberapa hal tersebut, saya juga akan berusaha menguraikan teknik-teknik <em>coping stress</em> apa saja yang telah saya terapkan, serta teknik-teknik <em>coping</em> lainnya yang akan saya coba untuk terapkan dalam kehidupan saya sehari-hari.</p>
<ol>
<li><strong>1.   </strong><strong>Tahap I : Mengenali Reaksi Stres</strong></li>
</ol>
<p>Reaksi dan gejala dari stres sangat bervariasi antara satu individu kepada individu lainnya. Reaksi stress berguna bagi kita sebagai “sistem peringatan awal” agar kita tidak terseret kedalam “zona stres negatif” atau yang lebih sering dikenal sebagai <em>distre</em><em>s</em><em>s</em>. Dengan mengenali reaksi-reaksi stres yang kita miliki, kita akan mampu untuk mengambil tindakan lebih lanjut seperti pemilihan teknik <em>coping stress</em> yang tepat.</p>
<p>Secara umum, reaksi / gejala stres dapat dibedakan menjadi 4 klasifikasi besar, yaitu : reaksi kognitif, reaksi emosional, reaksi fisik, dan perubahan pada tingkah laku <sup>[3]</sup>. Berikut ialah reaksi-reaksi stres yang umumnya terjadi pada diri saya.</p>
<ol>
<li><strong>a.    </strong><strong>Reaksi Kognitif</strong></li>
</ol>
<p>Tidak banyak reaksi kognitif yang sering saya alami dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini karena saya selalu dibiasakan oleh orangtua agar dapat selalu berpikir dengan jernih di dalam segala jenis kondisi. Meskipun demikian, beberapa kali saya mengalami reaksi kognitif berupa rasa cemas yang berlebihan dan <em>negative thinking</em> ketika saya dihadapkan pada situasi yang benar-benar membuat diri saya merasa tertekan, seperti pada saat ingin mengetahui nilai rapor kelas 2 SMP. Hal tersebut sangat membuat diri saya tertekan, karena saya tahu bahwa pada saat itu saya tidak belajar secara maksimal sehingga membuat diri saya terancam tidak naik kelas.</p>
<ol>
<li><strong>b.    </strong><strong>Reaksi Emosional</strong></li>
</ol>
<p>Beberapa reaksi emosional seperti perubahan <em>mood, </em>tidak bisa sabar, dan hiperaktif cukup sering saya alami. Reaksi &#8211; reaksi emosional tersebut umumnya terjadi bukan karena saya mendapatkan tekanan yang besar dari luar maupun dalam diri saya sendiri, tetapi justru karena saya merasa kurang adanya tekanan / tantangan pada diri saya sendiri. Keadaan tersebut umumnya berupa suatu kondisi dimana saya tidak memiliki suatu hal apapun untuk dikerjakan sehingga hal tersebut membuat saya bosan dan cenderung memunculkan reaksi-reaksi emosional seperti yang telah disebutkan diatas.</p>
<ol>
<li><strong>c.    </strong><strong>Reaksi fisik</strong></li>
</ol>
<p>Reaksi fisik merupakan reaksi stres yang paling sering muncul atau terlihat pada diri saya ketika saya berada di dalam situasi yang cukup membuat diri saya tertekan<em>.</em> Reaksi – reaksi yang umumnya muncul seperti : pusing, maag, sakit perut, jantung berdetak cepat, serta menggoyang-goyangkan kaki. Umumnya reaksi – reaksi stres tersebut muncul ketika saya dihadapkan pada suatu keadaan yang menuntut saya untuk tampil di depan umum atau menuntut saya untuk menampilkan performa yang optimal, seperti membawakan pidato atau / berlomba di suatu turnamen olahraga.</p>
<ol>
<li><strong>d.    </strong><strong>Perubahan tingkah laku</strong></li>
</ol>
<p>Seperti hal nya dengan reaksi kognitif, saya tidak banyak mengalami reaksi stres berupa perubahan tingkah laku. Hanya terdapat satu perubahan tingkah laku yang sangat jelas terlihat apabila saya sedang mengalami stres, yaitu perubahan pola makan. Ketika saya mengalami stres, pola makan saya menjadi tidak teratur. Saya seringkali lupa untuk makan tepat waktu, dan seringkali hanya mengkonsumsi makanan 1 kali sehari dalam jumlah yang banyak apabila sedang mengalami stres.</p>
<ol>
<li><strong>2.   </strong><strong>Tahap II : Mengidentifikasi <em>stressor-stressor</em> yang ada.</strong></li>
</ol>
<p>Telah disebutkan sebelumnya bahwa arti kata <em>stressor </em>yaitu suatu keadaan atau stimulus yang dapat memicu timbulnya stres pada seseorang<sup>[1]</sup>. Permasalahan yang selanjutnya timbul ialah, tidaklah mudah untuk mengenal dan mengidentifikasi <em>stressor</em> yang ada dalam kehidupan kita. Kita sebagai manusia cenderung lebih mudah untuk mengenali reaksi stres yang terjadi dibanding dengan <em>stressor </em>pada dirinya.</p>
<p>Girdano, dalam bukunya yang berjudul ”<em>Controlling stres and tension</em>” mengklasifikasikan <em>stressor</em> menjadi 3 kategori, yaitu : <em>Bioecological stressor</em>, <em>psychosocial stressor ,dan  Jobstres / occupational stressor. </em> Kategori-kategori tersebut dilengkapi dengan tambahan kategori oleh Philip L. Rice dalam bukunya yang berjudul “<em>Stres &amp; Health, 2<sup>nd</sup> edition” </em>yaitu tipe kepribadian sebagai<em> stressor.</em></p>
<p>Berikut, saya akan mencoba untuk menguraikan <em>stressor-stressor </em>yang saya temui dalam kehidupan sehari-hari saya dan dikaitkan dengan ke-empat kategori <em>stressor</em> tersebut.</p>
<ol>
<li><strong><em>a.    </em></strong><strong><em>Bioecological stressor</em></strong></li>
</ol>
<p><em>Bioecological stressor</em> ialah suatu keadaan atau kondisi yang berasal dari lingkungan di sekitar kita yang dapat memicu munculnya respon stres. Ciri-ciri utama dari <em>bioecological stressor </em>yaitu tidak dipengaruhi oleh apa yang kita pikirkan dan memiliki efek yang kurang lebih sama pada semua orang. <em>Bioecological stressor</em> juga dibagi menjadi beberapa kelas, yaitu : <em>Time and body rhythms, Eating and drinking habits, noise pollution, climate and altitude.</em></p>
<p>Tidak banyak bioecological <em>stressor</em> yang saya temui dalam kehidupan saya sehari-hari. <em>Stressor</em> tersebut hanya berupa <em>time and body rhythms</em> yang kurang baik.<em> </em>Dengan adanya beberapa tugas yang memiliki waktu deadline yang cukup dekat, saya berinisiatif untuk menyelesaikan tugas tersebut secepat mungkin sebelum waktu deadline. Dengan demikian, saya terbiasa untuk mengerjakan tugas hingga larut malam bahkan hingga dini hari. Hal tersebut secara tidak disadari ternyata merubah ritme <em>body clock</em> yang ada dalam diri saya. Saya semakin sulit untuk bangun di pagi hari, walaupun tidur sebelum pukul 10 malam. Selain itu, saya kerap kali merasa sedikit lemas ketika harus mulai beraktivitas pada pagi hari, walaupun sudah tidur dalam jumlah yang cukup.</p>
<ol>
<li><strong><em>b.    </em></strong><strong><em>Psychosocial stressor</em></strong></li>
</ol>
<p><em>Psychosocial stressor </em> terdiri atas berbagai peristiwa-peristiwa sosial yang ada di sekitar kita dan dapat memicu munculnya respon stres. Masalah-masalah yang tergabung dalam  <em>Psychosocial stressor </em>antara lain : perubahan / <em>change</em>, frustasi, <em>overload</em>, <em>boredom and loneliness</em>, serta dinamika hubungan antar ke empat masalah tersebut.</p>
<p>Berbeda dengan <em>bioecological stressor, </em>saya lebih mudah untuk menemukan <em>stressor-stressor</em> psikososial di dalam kehidupan saya sehari-hari. <em>Stressor </em>psikososial yang paling sering saya temukan ialah <em>urban overload</em> dan<em> academic overload</em>.  <em>Urban overload</em> yang saya alami hadir dalam bentuk kemacetan jalan yang selalu muncul setiap saat. Dengan bertambahnya penduduk yang datang ke Jakarta, jutaan kendaraan bermotor tersebar rata di setiap sudut-sudut jalan ibukota. Tidak jarang, kemacetan yang saya alami tiap hari itu membuat saya semakin stres ketika saya harus mengejar waktu untuk hadir di suatu tempat. Sedangkan <em>academic overload </em>yang saya temukan umumnya berupa tugas-tugas yang cukup menyita waktu, sehingga saya merasa kurang memiliki waktu istirahat dalam jumlah yang cukup.</p>
<ol>
<li><strong><em>c.    </em></strong><strong><em>Job stress / occupational stressor</em></strong></li>
</ol>
<p><em>Occupational stressor </em>ialah <em>stressor</em>-<em>stressor</em> yang berasal dari lingkungan kerja atau berasal dari pekerjaan yang kita jalani. <em>Occupational stressor</em> sendiri dapat dibagi lagi menjadi : <em>organizational stressor, individual stressor, environmental stressor, </em>dan <em>bioecological factors in workplace.</em></p>
<p>Hanya beberapa <em>occupational stressor</em> yang dapat saya temukan, hal ini tidak terlepas dari status saya yang belum bekerja. Meskipun demikian, saya juga mengalami <em>occupational stressor</em> di dalam kehidupan saya, seperti <em>decision making</em> / pengambilan keputusan. Saya memang belum bekerja pada sebuah institusi, tetapi saya sangat menggemari dan cukup aktif dalam kegiatan-kegiatan organisasi di universitas. Di dalam setiap kegiatan tersebut, ada masa-masa dimana saya merasa cukup tertekan untuk mengambil sebuah keputusan. Hal tersebut dapat terjadi karena keputusan yang akan diambil memiliki dampak yang besar kepada suatu kegiatan / institusi, serta saya sendiri yang akan bertanggung jawab atas keputusan tersebut.</p>
<ol>
<li><strong>d.    </strong><strong>Tipe kepribadian sebagai <em>stressor</em></strong></li>
</ol>
<p>Suatu hal yang bisa membuat seseorang menjadi sangat <strong><a href="http://harmonihidup.com/1001-stres/" target="_blank">stres</a></strong>, belum tentu berlaku pada orang lain. Perbedaan tersebut terletak pada bagaimana kita mempersepsikan berbagai peristiwa tersebut.  Para ahli selanjutnya menemukan bahwa tipe kepribadian seseorang memainkan peranan penting dalam proses mempersepsi sebuah <em>stressor </em><sup>[5]</sup>.</p>
<p>Tipe kepribadian yang umumnya dikaitkan dengan stres yaitu kepribadian Tipe A dan kepribadian Tipe B. Individu-individu yang memiliki kepribadian tipe A merupakan seseorang yang sangat ambisius, terburu-buru, sangat tepat waktu, dan termotivasi. Sedangkan secara kontras, individu-individu yang memiliki kepribadian Tipe B merupakan seseorang yang lebih rileks, tidak terburu-buru dan mementingkan kualitas dibanding kuantitas. Hasil penelitian para ahli membuktikan bahwa individu-individu yang memiliki kepribadian Tipe A cenderung lebih mudah untuk mengalami stres dibandingkan dengan individu-individu yang memiliki kepribadian Tipe B<sup>[5]</sup>.</p>
<p>Hasil <em>assessment</em> yang saya lakukan beberapa waktu yang lalu memperlihatkan bahwa saya memiliki 50% Tipe kepribadian A dan 50% Tipe kepribadian B. Saya sendiri merasa bahwa tidak banyak pengaruh kepribadian yang saya miliki dengan stres, pengaruh kepribadian saya yang paling jelas terlihat umumnya hanya berupa manajemen waktu. Saya selalu berusaha untuk tepat waktu dalam berbagai tindakan maupun kegiatan, sehingga saya cukup sering merasa stres apabila hal tersebut tidak bisa saya penuhi dengan baik.</p>
<ol>
<li><strong>3.           </strong><strong>Tahap III :</strong><strong> </strong><strong>Mencari dan melakukan teknik <em>coping stress</em> yang sesuai.</strong></li>
</ol>
<p>M. Zeidner dalam bukunya yang berjudul “<em>Handbook of coping: Theory, research and applications” </em>mengatakan bahwa <em>coping</em> ialah faktor-faktor yang dapat membuat seorang individu menjaga adaptasi psikososial dirinya selama periode stres. Ia juga mengungkapkan bahwa teknik / strategi <em>coping stress</em> dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu : <em>Problem-focused coping</em>, <em>Emotion-focused coping</em>, dan <em>Avoidant</em>.</p>
<ol>
<li><strong><em>a.    </em></strong><strong><em>Problem-focused coping</em></strong></li>
</ol>
<p><em>Problem-focused coping strategies</em> ialah jenis <em>coping stress</em> yang responnya ditujukan kepada <em>external event, </em>bertujuan untuk aktif menyelesaikan masalah, serta berhadapan langsung dengan <em>controllable problems</em>. Beberapa <em>problem-focused coping strategies</em> yang saya gunakan sehari-hari antara lain :</p>
<ul>
<li>Asertif</li>
</ul>
<p>Asertivitas adalah suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain. Dalam bersikap asertif, seseorang dituntut untuk jujur terhadap dirinya dan jujur pula dalam mengekspresikan perasaan, pendapat dan kebutuhan secara proporsional, tanpa ada maksud untuk memanipulasi, memanfaatkan atau pun merugikan pihak lainnya <sup>[7]</sup>.</p>
<p>Saya pertama kali mengenal istilah asertif melalui salah satu materi mata kuliah aktualisasi diri. Dengan menerapkan asertivitas dalam kehidupan sehari-hari, saya menyadari bahwa kita dapat menghindari berbagai macam masalah yang dapat mengakibatkan stres apabila kita dapat menyampaikan sesuatu dengan cara yang baik dan tepat.<strong> </strong></p>
<ul>
<li><em>Social support</em></li>
</ul>
<p><em>Social support</em> ialah bantuan fisik maupun emosional yang diberikan oleh orang-orang sekitar (seperti : keluarga, teman, dll) yang dapat membuat seorang individu merasa lebih nyaman <sup>[8]</sup>.</p>
<p>Pada saat saya menghadapi suatu masalah yang bersifat teknis, saya seringkali meminta bantuan teman-teman yang lebih menguasai masalah tersebut untuk membantu saya atau memberi masukan kepada saya. Dengan demikian, saya dapat lebih mudah menyelesaikan / menangani masalah-masalah tersebut.</p>
<ul>
<li><em>Time management</em></li>
</ul>
<p><em>Time management </em>dapat diartikan sebagai segala bentuk usaha yang dilakukan oleh seorang individu agar dapat memanfaatkan waktu yang ia miliki dengan baik. <em>Time management </em>juga dapat dikatakan sebagai sebuah prinsip dan sistem yang digunakan oleh seorang individu untuk mengambil keputusan secara sadar mengenai aktivitas-aktivitas yang membutuhkan waktu <sup>[9]</sup>.</p>
<p>Tidak jarang saya mengalami stres diakibatkan oleh masalah-masalah yang menyangkut masalah waktu. Sehingga, saya selalu berusaha untuk mengatur waktu saya dengan baik agar kemungkinan stres tersebut muncul semakin kecil. Salah satu usaha yang sering saya lakukan untuk mengatur waktu yang saya miliki dengan baik ialah dengan mencatat segala kegiatan yang akan dijalankan pada sebuah agenda kecil. Dengan demikian saya akan lebih mudah melihat dan mengatur kegiatan-kegiatan yang akan saya jalani.<strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong><em>b.    </em></strong><strong><em>Emotion-focused coping</em></strong></li>
</ol>
<p><em>Emotion</em><em>-</em><em>focus</em><em>ed </em><em>coping</em> ialah jenis <em>coping stress</em> yang responnya ditujukan kepada reaksi emosional seorang individu, cenderung untuk berhubungan dengan <em>uncontrollable problems</em>, serta bertujuan untuk mengatur konsekuensi emosional dari peristiwa-peristiwa <em>stressful</em>. Beberapa <em>emotion-focused coping strategies</em> yang sering saya gunakan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain :</p>
<ul>
<li><em>Social support</em></li>
</ul>
<p><em>Social support </em>yang dimaksud di sini memiliki pengertian yang berbeda dengan <em>social support</em> dalam kategori <em>problem focus</em>. <em>Social support</em> (<em>emotion focus)</em> lebih bertujuan untuk menanangani emosi dari individu tersebut sendiri.</p>
<p><em>Social support</em> (<em>emotion focus)</em> yang sering saya lakukan antara lain dengan menceritakan masalah yang sedang dihadapi kepada sahabat dan keluarga. dengan demikian saya merasa lebih tenang dan mendapat lebih banyak masukan untuk menghadapi masalah yang sedang dihadapi.</p>
<ul>
<li>Berpikir positif / <em>Positive thinking</em></li>
</ul>
<p><em>Positive thinking</em> ialah suatu kepercayaan yang dapat meningkatkan hasil yang dicapai oleh seorang individu melalui proses berpikir optimis <sup>[10]</sup>.</p>
<p>Dengan berpikir positif, saya dapat mengurangi tekanan-tekanan yang umumnya muncul secara tiba-tiba seperti saat menunggu hasil ujian / tugas. Selain itu, <em>positive thinking</em> membantu saya untuk lebih dapat menguasai diri pada saat saya berada di dalam kondisi <em>stressful</em>.</p>
<ol>
<li><strong><em>c.    </em></strong><strong><em>Avoidant</em></strong></li>
</ol>
<p><em>Avoidant</em> ialah suatu tindakan yang  menghantarkan seseorang pada sebuah aktivitas (seperti merokok dan minum alcohol) atau keadaan mental (seperti <em>withdrawal</em>) yang membuat individu tersebut merasa terhindar dari peristiwa-peristiwa <em>stressful</em>.</p>
<p><em>                        </em><em>S</em>alah satu tindakan <em>avoidant</em> yang kerap kali saya lakukan ketika saya stres yaitu berkumpul dan berekreasi bersama teman-teman. Saya cukup sering melakukan hal tersebut agar saya dapat sejenak mengalihkan perhatian saya dari masalah yang dapat membuat saya merasa stres.</p>
<p>Dengan mengikuti kelas <em>stre</em><em>s</em><em>s-management, </em>saya semakin diperkaya dengan berbagai teknik-teknik <em>coping stress</em> lainnya yang dapat saya gunakan sebagai alternatif / tambahan teknik <em>coping</em> yang telah saya lakukan sebelumnya.</p>
<p>Salah satu teknik menarik yang diperkenalkan pada kuliah <em>stress-management </em>tersebut ialah teknik relaksasi. Teknik relaksasi (atau sering dikenal sebagai latihan relaksasi) ialah sebuah metode, proses, prosedur, atau aktivitas yang dapat membantu seseorang untuk merasa lebih rileks ; mencapai tahap ketenangan tertentu; atau membantu seorang individu untuk menurunkan tingkat kecemasan dan stres <sup>[11]</sup>. Dengan teknik relaksasi ini, saya diajarkan agar dapat mencapai kondisi rileks dengan cara yang cukup mudah dan cepat. Hal ini sangat bermanfaat, karena teknik relaksasi ini dapat saya lakukan di berbagai kesempatan.</p>
<p>Selain itu, saya juga diperkenalkan sebuah konsep “<em>healthy living</em>” yang dapat membantu seorang individu untuk mengelola stres dalam kehidupan sehari-hari. Konsep “<em>healthy living” </em>tersebut mencakup berbagai aspek, seperti : pola makan yang sehat, pola tidur yang baik, serta olahraga secara teratur. Hal-hal tersebut merupakan masukan yang sangat berharga, karena selain dapat membantu mengelola stres, konsep “<em>healthy living</em>” tersebut juga memberikan informasi mengenai cara menjaga kesehatan tubuh dengan baik.<strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>Tahap IV : </strong><strong>Melakukan seluruh tahap </strong><strong>I</strong><strong> – </strong><strong>III</strong><strong> secara rutin pada kehidupan sehari-hari</strong></li>
</ol>
<p>Tahap ini merupakan tahap yang paling penting dari keseluruhan konsep “<em>stress management</em>” yang diungkapkan oleh Girdano. Pada tahap ini, tahap 1 (mengenali reaksi stres), tahap 2 (mengenali <em>stressor</em>), dan tahap 3 (Mencari dan melakukan teknik <em>coping stress</em>) harus dilakukan secara rutin dalam kehidupan sehari-hari. Kata kunci pada tahap ini yaitu adanya konsistensi di dalam melakukan tahap 1 sampai dengan tahap 3. Dengan melakukan hal tersebut secara konsisten, diharapkan stres yang timbul juga dapat diminimalisir dengan baik.</p>
<p><em>Stress management</em> merupakan suatu kemampuan yang harus terus menerus dipraktekkan agar dapat berkembang dengan baik. Dengan adanya tambahan informasi-informasi baru mengenai <strong><a href="http://harmonihidup.com/perjuangan-dalam-menentukan-masa-depan/" target="_blank">stres</a></strong>, saya semakin diperkaya untuk dapat mengembangkan kemampuan <em>stress management </em>yang saya miliki. Seperti halnya kutipan “Manusia tidak ada yang sempurna”, saya pun menyadari banyak kelemahan dan kekurangan pada diri saya, tetapi hal tersebut tidak menghalangi saya untuk mengembangkan diri  agar mencapai suatu tahap yang lebih baik</p>
<p>Oleh: <strong>Kelvin Kristarto</strong></p>
<p><a href="http://harmonihidup.com/me-myself-and-i/">Me, Myself, and I</a> adalah Artikel dari <a href="http://harmonihidup.com">Menghilangkan Stres</a></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><a href="http://harmonihidup.com/me-myself-and-i/" title="buku coping stres">buku coping stres</a>,<a href="http://harmonihidup.com/me-myself-and-i/" title="gamatluxor biz">gamatluxor biz</a></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harmonihidup.com/me-myself-and-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengaruh Pertengkaran Orangtua Pada Anak dan Berbagai Cara Mengatasinya</title>
		<link>http://harmonihidup.com/pengaruh-pertengkaran-orangtua-pada-anak-dan-berbagai-cara-mengatasinya/</link>
		<comments>http://harmonihidup.com/pengaruh-pertengkaran-orangtua-pada-anak-dan-berbagai-cara-mengatasinya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 May 2012 05:21:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[stres]]></category>
		<category><![CDATA[stres karena pertengkaran]]></category>
		<category><![CDATA[stres karena pertengkaran orang tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harmonihidup.com/?p=278</guid>
		<description><![CDATA[Dalam kehidupan sehari-hari selalu ada saat di mana saya merasa tidak pasti dan tidak aman terhadap situasi yang saya hadapi. Situasi ini membawa saya kepada suatu keadaan dimana saya akan... <span class="meta-more"><a href="http://harmonihidup.com/pengaruh-pertengkaran-orangtua-pada-anak-dan-berbagai-cara-mengatasinya/">Read more &#187;</a></span><p><a href="http://harmonihidup.com/pengaruh-pertengkaran-orangtua-pada-anak-dan-berbagai-cara-mengatasinya/">Pengaruh Pertengkaran Orangtua Pada Anak dan Berbagai Cara Mengatasinya</a> adalah Artikel dari <a href="http://harmonihidup.com">Menghilangkan Stres</a></p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://harmonihidup.com/wp-content/uploads/2012/05/harmoni-hidup-060.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-279" title="harmoni-hidup-060" src="http://harmonihidup.com/wp-content/uploads/2012/05/harmoni-hidup-060.jpg" alt="menghilangkan stres" width="150" height="150" /></a></p>
<p>Dalam kehidupan sehari-hari selalu ada saat di mana saya merasa tidak pasti dan tidak aman terhadap situasi yang saya hadapi. Situasi ini membawa saya kepada suatu keadaan dimana saya akan bereaksi sedemikian rupa sehingga menimbulkan <strong><a href="http://harmonihidup.com/1001-stres/" target="_blank">stres</a></strong>.Ada3 peristiwa dalam kehidupan saya yang cukup membuat saya merasakan stres. Salah satunya adalah pertengkaran orangtua. Dari sekian banyak jenis stresor psikososial yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, para pakar memberikan beberapa contoh antara lain perkawinan, problem orangtua, hubungan interpersonal (antar pribadi), pekerjaan, lingkungan hidup, keuangan, hukum, perkembangan, penyakit fisik atau cidera, faktor keluarga dan trauma (Hawari, 2001). Stres yang saya alami termasuk ke dalam stres psikososial dimana sumber stres saya berasal dari keluarga. Berikut ini akan dijelaskan apa yang membuat saya stres, reaksi-reaksi apa saja yang saya keluarkan saat menghadapi peristiwa tersebut dan bagaimana saya menangani peristiwa tersebut.</p>
<p>Pertengkaran orangtua saya terjadi sejak saya duduk di bangku SMP sampai menjelang lulus SMA. Peristiwa yang berlangsung cukup lama ini membuat saya bingung menghadapinya. Keluarga saya pindah ke Jakartaketika saya kelas 6 SD. Sebelumnya kami tinggal di Surabaya. Sejak pindah ke Jakarta, berbagai konflik pun dimulai. Ayah dan Ibu saya lebih sering bertengkar, meributkan hal-hal kecil yang menurut saya tidak penting untuk diributkan. Saya yang masih duduk di bangku SMP merasakan adanya perubahan drastis dari keadaan harmonis ketika kami masih berada di Surabayakemudian berubah menjadi keadaan yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan dalam pikiran saya. <em>Even though change is a necessary element in societal behaviour, if it is too intense or too massive, the participants may cease reaping its rewards and begin realizing how devastating it can be</em> (Toffler, 1970). Itulah yang saya rasakan. Perubahan tersebut saya rasakan sebagai kehancuran karena terlalu kuat dan membawa perubahan yang cukup besar dalam keluarga saya.</p>
<p>Hari-hari yang saya jalani selama 6 tahun dipenuh dengan kebingungan dan ketegangan. Ketika saya masih SMP dan ditanya tempat apa yang paling tidak saya sukai, saya selalu menjawab “rumah”. Rumah bagi saya saat itu adalah tempat yang tidak menyenangkan dan dipenuhi dengan ketegangan. Hampir setiap hari saya harus mendengar orangtua saya saling berteriak, menyetel televisi atau radio keras-keras serta melempar dan memecahkan barang-barang. Ini merupakan stresor yang paling kuat bagi saya. Tidak jarang saya menangis setiap malam dan berdoa terus menerus. Saya memiliki rasa tidak aman di dalam rumah sendiri. Walaupun pertengkaran tersebut tidak berlangsung setiap hari, saya tetap merasakan adanya ketidaknyamanan ketika berada di rumah. Jika tidak perang mulut, mereka mengadakan perang dingin dengan tidak berbicara satu sama lain.</p>
<p>Tidak jarang juga saya dan kakak-kakak saya menjadi perantara bagi mereka berdua ketika mereka sedang bertengkar. Pertengkaran mereka membawa saya berada di posisi yang serba salah. Ibu saya ingin menyampaikan pesan kepada Ayah saya, tetapi tidak ingin berbicara langsung, begitu juga sebaliknya. Maka yang menjadi korban adalah saya dan kakak-kakak saya. Ini menjadi beban tersendiri bagi saya ketika berada dalam situasi ini. Saya tidak mau terlibat dan ambil pusing terhadap masalah mereka, tetapi di satu sisi saya dilibatkan secara tidak langsung. Ketika pertengkaran itu sudah sampai puncaknya, bahkan Ibu saya mengeluarkan kata-kata “ingin bercerai”. Perasaan saya saat itu sudah tidak dapat dijelaskan lagi. Saya pusing dan pikiran saya sudah lelah memikirkan keadaan keluarga saya. Tetapi saya bersyukur kata-kata Ibu saya itu tidak terjadi sampai saat ini.</p>
<p>Hal lain yang menjadi sumber stres saya adalah tidak adanya komunikasi antar masing-masing anggota keluarga. Sejak kecil, saya tidak terbiasa bercerita kepada kedua orangtua saya dan kebiasaan itu terbawa sampai besar. Begitu juga dengan kakak-kakak saya. Seringkali para orangtua dan pendidik sudah siap dengan resep, nasehat dan teguran. Sebelum angkatan muda selesai berbicara, orangtua dan pendidik sudah menyela, menyambar dan menjatuhkan penilaian (Riberu, 1984). Hal itu pun saya alami. Saya selalu malas berbicara dengan Ibu saya karena beliau selalu siap dengan berbagai nasehat dan berbagai larangan-larangan. Hal ini juga terjadi antara saya dan kakak-kakak saya. Saya juga tidak memiliki komunikasi yang baik kepada mereka. Saya 4 bersaudara dan saya anak keempat. Saya tidak melihat adanya sosok kakak yang dapat menjadi contoh yang baik. Mereka bersikap tidak peduli dan santai dalam menghadapi masalah ini. Hal ini menjadi stresor bagi saya karena saya tidak dapat bercerita ketika saya berada di rumah dan saya cenderung diam.</p>
<p>Beberapa stresor tersebut akhirnya membentuk saya menjadi seseorang yang pendiam dan <em>moody</em>. Emosi saya tidak dapat saya kendalikan jika sedang dalam suasana hati yang buruk. Bila perselisihan diikuti dengan penghancuran benda-benda tertentu, pengalaman ini dapat mengecewakan anak Anda dan sama sekali tidak membantu anak Anda ketika ia sedang dihinggapi rasa marah dalam dirinya sendiri (Salk, 1979). Hal itu sangat jelas saya rasakan. Saya tidak pernah belajar dari kedua orangtua saya untuk menjadi seseorang yang dewasa, baik dalam menyikapi segala sesuatu ataupun berpikir. Di tengah keadaan yang menurut saya hancur itu, saya justru di bentuk, di ajar dan di tegur dalam lingkungan gereja saya. Beberapa teman saya berkata bahwa saya beruntung tidak terbawa ke arah yang buruk dimana sebagian besar remaja jika mengalami konflik dalam keluarga, mereka akan lari kepada hal-hal yang buruk. Kadang-kadang orang tua menciptakan lebih banyak problem daripada hal yang diperlukan untuk medukung proses pertumbuhan anak (Keating, 1987).</p>
<p>Setelah melihat apa saja yang menjadi stresor bagi saya ketika pertengkaran orang tua saya terjadi, berikut ini akan dipaparkan reaksi-rekasi yang saya keluarkan ketika menghadapi peristiwa tersebut. Hampir semua reaksi yang saya keluarkan adalah reaksi emosional, selebihnya berupa reaksi fisik yaitu jantung berdebar-debar. Reaksi emosional yang saya alami antara lain tegang, cemas, dan cenderung menangis ketika mendengar orangtua saya berteriak.</p>
<p>Pertengkaran orangtua, apapun alasan dan bentuknya, akan membuat anak merasa takut. Anak tidak pernah suka melihat orangtuanya bertengkar karena hal tersebut hanya membuatnya merasa takut, sedih dan bingung. Jika sudah terlalu sering melihat dan mendengar pertengkaran orangtua, anak dapat mulai menjadi pemurung. Ketakutan yang saya alami sedemikian besarnya bahkan sampai membuat saya takut untuk keluar kamar. Reaksi ini sering muncul ketika saya sudah mendengar teriakan dari kedua orangtua saya. Jika saya keluar kamar, saya takut teriakan itu akan terlontar kepada saya. Hal ini juga terjadi ketika saya pulang dari sekolah dan hendak masuk ke dalam rumah. Saya memiliki perasaan tidak tenang ketika masuk ke dalam rumah.</p>
<p>Ketegangan juga sering saya rasakan ketika saya mulai mendengar suara barang-barang pecah dari luar kamar. Reaksi ini biasanya diiringi dengan jantung berdegup kencang karena terkejut. Otot-otot tubuh saya mulai menegang dan biasanya saya tidak tenang. Saya langsung berhenti dari pekerjaan saya seperti mengerjakan tugas sekolah lalu duduk diam. Tidak jarang juga ketika saya sudah tidur, saya terbangun karena mendengar pertengkaran mereka. Ketika semua hal itu terjadi, saya hanya dapat menangis. Keluarga yang tegang dan adanya kesulitan-kesulitan pribadi orangtua turut menentukan terbentuknya kecemasan anak. Anak dapat mengalami suatu perasaan takut yang hebat sebelum serangan tersebut dimulai (Gunarsa, 1976). Dari sini dapat dikatakan bahwa kecemasan yang saya alami terbentuk karena adanya situasi menegangkan tersebut. Saya dapat mengalami suatu perasaan takut yang hebat sebelum serangan tersebut dimulai. Hal ini terlihat jelas ketika saya takut untuk masuk ke dalam rumah, padahal belum tentu orang tua saya di dalam sedang bertengkar.</p>
<p>Setelah muncul reaksi-reaksi tersebut, saya melakukan berbagai cara untuk mengurangi tingkat <strong><a href="http://harmonihidup.com/perjuangan-dalam-menentukan-masa-depan/" target="_blank">stres</a></strong> yang saya alami. Sebagian besar<em> coping</em> yang saya lakukan lebih berfokus kepada emosi saya. Berikut ini adalah hal-hal yang saya lakukan ketika berada dalam situasi tersebut :</p>
<ul>
<li>Menyibukkan diri dengan lebih sering berada di luar rumah</li>
</ul>
<p>Hal ini sebenarnya bukan termasuk ke dalam pengelolaan stres yang baik, tetapi lebih ke arah menghindar. Perilaku menghindar ini tidak sampai ke tahap destruktif dan berjalan ke arah yang negatif. Bagi saya, dengan adanya kesibukan di luar rumah, hal tersebut sangat membantu saya untuk tidak merasakan kesedihan yang mendalam dibandingkan ketika saya harus berada di rumah. Kesibukan yang saya lakukan di luar rumah adalah menjadi pengurus di gereja maupun di sekolah dan juga jalan-jalan bersama dengan teman saya. Aktivitas-aktivitas tersebut cukup membantu saya dalam mengurangi stres yang saya hadapi. Saya dapat mengalihkan perhatian saya kepada hal-hal yang positif dan berguna bagi saya.</p>
<ul>
<li>Menyalurkan hobi saya dengan bermain musik</li>
</ul>
<p>Selain menjadi pengurus, saya juga aktif dalam bermain musik di gereja dan sekolah. Bermain musik adalah salah satu kegiatan yang paling saya senangi. <em>Music therapy can reduce heartrate, blood pressure, pain, and anxiety </em>(Girdano, 2005, p.195). Saya menjadikan musik sebagai salah satu terapi untuk menenangkan saya ketika saya menghadapi stres. Saya tergabung dalam sebuah band rohani di gereja maupun di sekolah. Karena lagu-lagu yang saya bawakan bertemakan rohani, seringkali juga saya dikuatkan melalui kata-kata dari lagu tersebut ketika teringat konflik yang sedang saya alami. Bagi saya, musik sangat membantu saya mengurangi stres. Ketika saya berada di rumah pun, saya sering mendengarkan musik ataupun bermain gitar di kamar. Tentu saja lagu-lagu yang saya dengarkan bukan lagu yang asal-asalan. Saya lebih memilih lagu-lagu yang dapat menguatkan saya, dalam hal ini adalah lagu rohani, sehingga saya memiliki kekuatan untuk menjalani masalah yang saya hadapi dan yakin bahwa Tuhan pasti mempunyai rencana yang terbaik.</p>
<ul>
<li>Mencari social support</li>
</ul>
<p><em>Social Support is associated with how networking helps people cope with stressful events</em> (House, 1981). Hal lain yang saya lakukan ketika menghadapi masalah tersebut adalah bercerita kepada teman sekolah, teman gereja dan kakak pembimbing saya di gereja. Dalam mencari social support, saya tidak memilih orang secara sembarangan untuk dapat mengetahui masalah saya. Saya hanya memilih beberapa teman dekat yang saya anggap dapat menyemangati dan memberi saya kekuatan. Ketika saya sedang benar-benar berada dalam keadaan yang terpuruk bahkan berencana untuk kabur dari rumah, merekalah yang selalu mengingatkan saya, menyemangati saya dan memberikan kata-kata yang membangun. Bahkan ketika saya menangis di sekolah, mereka duduk diam di samping saya, menyanyikan lagu rohani yang menguatkan saya dan berdoa untuk saya. Bagi saya, adanya teman sangatlah penting saat itu. Begitu juga dengan kakak pembimbing saya di gereja. Dia selalu membantu saya, memperhatikan saya dan menanyakan kondisi saya secara berkala. Hal ini sangat membantu saya dalam menangani masalah-masalah emosi saya.</p>
<ul>
<li>Berdoa</li>
</ul>
<p>Pentingnya doa secara psikologis adalah agar kita mendapat ketenangan dan dapat melewati suatu kelepasan dari ketegangan dan pergumulan (Gintings, 1999). Salah satu hal yang membuat saya yakin akan selesainya suatu masalah adalah dengan berdoa. Sejak kecil, saya tumbuh di lingkungan rohani dan lingkungan itu banyak sekali membantu saya untuk menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan. Dengan berdoa, saya memiliki ketenangan dan percaya bahwa masalah saya sudah di tangan Tuhan. Dengan berdoa pula, saya mendapatkan suatu kekuatan baru ketika saya menjalani hari-hari ke depan. Doa sangatlah besar kuasanya dan hal tersebut sudah terbukti. Saya berdoa selama 1 tahun penuh untuk keluarga saya dan Tuhan menjawab doa saya setelah itu. Walaupun masalah tidak sepenuhnya selesai, tetapi pertengkaran orangtua yang sempat membuat saya stres tersebut berkurang kapasitasnya. Tuhan juga mengabulkan doa saya agar menjadikan orangtua saya lebih dewasa. Berangsur-angsur keadaan keluarga kami mulai membaik dan orangtua saya sudah dapat semakin dewasa dalam bersikap.</p>
<ul>
<li>Mengubah cara pikir saya terhadap masalah yang saya alami</li>
</ul>
<p>Awalnya ketika saya menghadapi situasi pertengkaran orangtua, saya berpikir bahwa masalah ini tidak mungkin dapat selesai. Saya termasuk orang yang cenderung pesimis dalam berpikir. Tetapi setelah saya mendapat beberapa masukan dan semangat dari orang-orang sekitar saya, saya mulai mengubah cara pandang saya terhadap masalah ini. Begitu juga setelah saya menyerahkan masalah ini kepada Tuhan, saya belajar untuk yakin bahwa suatu saat masalah tersebut akan selesai. Mengubah cara pandang saya ternyata tidak segampang yang saya perkirakan.Adakalanya saya pesimis lagi ketika keadaan mulai memburuk, tetapi pikiran saya itu segera berganti ketika saya mendapat semangat dari orang-orang sekitar saya. Karena itu, sangat penting peran teman bagi saya agar tetap membuat saya berpikir positif.</p>
<p>Beberapa hal diatas sudah saya lakukan untuk mengelola <strong><a href="http://harmonihidup.com/stres-pada-diri/" target="_blank">stres</a></strong> yang saya alami. Tetapi ada satu hal yang belum sepenuhnya saya jalankan, yaitu memperbaiki komunikasi dalam keluarga. Saya bukan seorang pembicara yang baik dan saya lebih suka mendengarkan. Hal itu menjadi tantangan tersendiri bagi saya saat ini. Sejak memasuki tahun yang baru ini, saya bertekad untuk memperbaiki komunikasi saya dengan keluarga, entah itu dengan orangtua saya mau pun dengan kakak saya. Keadaan tidak terbiasa untuk berbicara dengan keluarga ini ternyata membutuhkan keberanian dari dalam diri saya. Sempat beberapa kali ada kesempatan untuk berbicara dengan Ibu saya, tetapi beberapa kali pula saya gagal mengeluarkan kata-kata dari dalam mulut saya. Seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa keadaan tidak terbiasa ini harus dibiasakan pelan-pelan. Saat ini, walaupun saya belum dapat berbicara hal-hal yang mendalam, saya mulai mencoba berbicara hal-hal kecil seperti kuliah dan berita-berita terkini.</p>
<p>Begitu juga komunikasi saya dengan kakak-kakak saya. Bagi saya, lebih mudah memperbaiki komunikasi saya dengan kakak-kakak saya daripada dengan orangtua saya. Sekarang saya sudah dapat berbagi cerita dan pengalaman hidup dengan kakak saya. Bahkan di beberapa kesempatan, kakak saya meminta masukan dari saya. Perubahan ini membuat motivasi saya untuk terus memperbaiki komunikasi dalam keluarga meningkat. Saya akan terus berusaha agar komunikasi dengan keluarga saya membaik.</p>
<p>Order: <strong>Enda Khristiana Ivena</strong></p>
<p><a href="http://harmonihidup.com/pengaruh-pertengkaran-orangtua-pada-anak-dan-berbagai-cara-mengatasinya/">Pengaruh Pertengkaran Orangtua Pada Anak dan Berbagai Cara Mengatasinya</a> adalah Artikel dari <a href="http://harmonihidup.com">Menghilangkan Stres</a></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><a href="http://harmonihidup.com/pengaruh-pertengkaran-orangtua-pada-anak-dan-berbagai-cara-mengatasinya/" title="pertengkaran orang tua">pertengkaran orang tua</a>,<a href="http://harmonihidup.com/pengaruh-pertengkaran-orangtua-pada-anak-dan-berbagai-cara-mengatasinya/" title="orang tua sering bertengkar">orang tua sering bertengkar</a>,<a href="http://harmonihidup.com/pengaruh-pertengkaran-orangtua-pada-anak-dan-berbagai-cara-mengatasinya/" title="Contoh konflik pada anak SD">Contoh konflik pada anak SD</a>,<a href="http://harmonihidup.com/pengaruh-pertengkaran-orangtua-pada-anak-dan-berbagai-cara-mengatasinya/" title="dampak pertengkaran orang tua terhadap anak">dampak pertengkaran orang tua terhadap anak</a>,<a href="http://harmonihidup.com/pengaruh-pertengkaran-orangtua-pada-anak-dan-berbagai-cara-mengatasinya/" title="cara mengatasi orang tua bertengkar">cara mengatasi orang tua bertengkar</a>,<a href="http://harmonihidup.com/pengaruh-pertengkaran-orangtua-pada-anak-dan-berbagai-cara-mengatasinya/" title="cara menyelesaikan masalah dengan orang tua">cara menyelesaikan masalah dengan orang tua</a>,<a href="http://harmonihidup.com/pengaruh-pertengkaran-orangtua-pada-anak-dan-berbagai-cara-mengatasinya/" title="pengaruh pertengkaran orang tua terhadap anak">pengaruh pertengkaran orang tua terhadap anak</a>,<a href="http://harmonihidup.com/pengaruh-pertengkaran-orangtua-pada-anak-dan-berbagai-cara-mengatasinya/" title="cara mengatasi orang tua yang bertengkar">cara mengatasi orang tua yang bertengkar</a>,<a href="http://harmonihidup.com/pengaruh-pertengkaran-orangtua-pada-anak-dan-berbagai-cara-mengatasinya/" title="cara menghadapi masalah dengan orang tua">cara menghadapi masalah dengan orang tua</a>,<a href="http://harmonihidup.com/pengaruh-pertengkaran-orangtua-pada-anak-dan-berbagai-cara-mengatasinya/" title="menghadapi pertengkaran orang tua">menghadapi pertengkaran orang tua</a>,<a href="http://harmonihidup.com/pengaruh-pertengkaran-orangtua-pada-anak-dan-berbagai-cara-mengatasinya/" title="cara mengatasi masalah dengan orang tua">cara mengatasi masalah dengan orang tua</a>,<a href="http://harmonihidup.com/pengaruh-pertengkaran-orangtua-pada-anak-dan-berbagai-cara-mengatasinya/" title="pertengkaran anak dan orang tua">pertengkaran anak dan orang tua</a>,<a href="http://harmonihidup.com/pengaruh-pertengkaran-orangtua-pada-anak-dan-berbagai-cara-mengatasinya/" title="menghadapi orang tua yang bertengkar">menghadapi orang tua yang bertengkar</a>,<a href="http://harmonihidup.com/pengaruh-pertengkaran-orangtua-pada-anak-dan-berbagai-cara-mengatasinya/" title="orang tua bertengkar">orang tua bertengkar</a>,<a href="http://harmonihidup.com/pengaruh-pertengkaran-orangtua-pada-anak-dan-berbagai-cara-mengatasinya/" title="cara mengatasi masalah sama orang tua">cara mengatasi masalah sama orang tua</a></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harmonihidup.com/pengaruh-pertengkaran-orangtua-pada-anak-dan-berbagai-cara-mengatasinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>1001 Stres</title>
		<link>http://harmonihidup.com/1001-stres/</link>
		<comments>http://harmonihidup.com/1001-stres/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 14:21:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[cara mengatasi stres]]></category>
		<category><![CDATA[stres]]></category>
		<category><![CDATA[stres dalam kehidupan sehari-hari]]></category>
		<category><![CDATA[tips mengatasi stres]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harmonihidup.com/?p=272</guid>
		<description><![CDATA[Setiap orang mengalami stres, tidak peduli kaya atau miskin, tidak peduli pintar atau bodoh. Intinya stres menyerang semua orang tanpa pandang bulu. Ia tidak membeda-bedakan dan ia juga tidak pilih... <span class="meta-more"><a href="http://harmonihidup.com/1001-stres/">Read more &#187;</a></span><p><a href="http://harmonihidup.com/1001-stres/">1001 Stres</a> adalah Artikel dari <a href="http://harmonihidup.com">Menghilangkan Stres</a></p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://harmonihidup.com/wp-content/uploads/2012/05/harmoni-hidup-059.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-273" title="harmoni-hidup-059" src="http://harmonihidup.com/wp-content/uploads/2012/05/harmoni-hidup-059.jpg" alt="menghilangkan stres" width="150" height="150" /></a></p>
<p>Setiap orang mengalami <strong><a href="http://harmonihidup.com/perjuangan-dalam-menentukan-masa-depan/" target="_blank">stres</a></strong>, tidak peduli kaya atau miskin, tidak peduli pintar atau bodoh. Intinya stres menyerang semua orang tanpa pandang bulu. Ia tidak membeda-bedakan dan ia juga tidak pilih kasih. Semua orang mengenal kata stres. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar orang mengeluh bahwa dirinya sedang stres. Seringkali tentang pekerjaan, tugas kuliah, masalah keluarga ataupun masalah finansial. Stres, sebuah istilah yang dikenali semua orang, namun belum tentu dipahami dengan benar. Untuk mencapai suatu pemahaman yang sama, ada baiknya dibahas terlebih dahulu apa sebenarnya stres itu.</p>
<p>Stres ialah respon seorang individu terhadap <em>stressor, </em>dimana <em>stressor </em> ialah suatu keadaan, situasi atau peristiwa yang dirasa mengancam yang memerlukan kemampuan <em>coping</em> dalam menghadapinya. Hans Selye, seorang peneliti stres, mengemukakan bahwa stres dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu <em>distress</em> dan <em>eustress </em>(1985). <em>Distress</em> yaitu bentuk negatif dari stres, yang merusak dan menyakitkan sedangkan <em>eustress</em> ialah bentuk positif dari stres, yang menguntungkan dan konstruktif. Sekarang kita tahu bahwa tidak hanya peristiwa menyedihkan saja yang dapat mengakibatkan stres, peristiwa membahagiakan seperti naik kelas atau pernikahan ternyata juga mendatangkan stres.</p>
<p>Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang mengalami berbagai macam stres. Dapat dikatakan stres membantu mematangkan manusia melalui proses belajar. Judul 1001 stres sengaja dipilih untuk menggambarkan betapa hidup dipenuhi berbagai macam stres, baik yang membuat sakit maupun stres yang membahagiakan. Stres datang tanpa memberitahu, namun bila kita memilih melihat stres dari sisi positif, hidup pun menjadi indah.</p>
<p>Mengenai stres yang saya alami, tidak akan ada habisnya bila dibahas satu persatu. Oleh karena itu, berikut ini saya hanya memilih sebanyak 4 hal/kejadian/peristiwa yang membuat saya mengalami stres.</p>
<ol start="1">
<li><strong>Supergirl</strong></li>
</ol>
<p>Saya tahu tidak ada manusia yang sempuna di dunia ini. Tetapi saya tetap ingin menjalani semua kegiatan saya dengan sempurna. Artinya, meski kegiatan saya cukup banyak, saya ingin semuanya dapat berjalan lancar dan tidak ada satupun yang harus dikorbankan. Orang bilang kita harus menentukan prioritas dari berbagai kegiatan yang ada. Tapi, sampai sekarang, saya tidak bisa seperti itu. Saya ingin semuanya berjalan beriringan, tidak ada yang ditinggalkan. Untuk itu, diperlukan tenaga dan waktu yang cukup, yang terkadang tidak tersedia. Saya merasa stres ketika tidak dapat memenuhi semua kegiatan tersebut. Kegiatan saya antara lain : kuliah, les piano, ngajar piano, bantu menjaga kasir rumah makan milik mama. Saya kasihan pada mama yang menjaga rumah makan sendiri, meskipun ada karyawan, tapi tetap saja, saya merasakan suatu keharusan untuk turut membantu. Oleh karena itu, saya selalu berada di rumah makan selain waktu kuliah, les dan ngajar. Masalahnya, kuliah dan les perlu ditekuni di rumah. Belajar piano perlu latihan setiap hari. Dilemanya disini, saya ingin dapat lebih banyak latihan tapi bagaimana dengan rumah makan?. Saya merasa egois bila menuruti keinginan saya sendiri. Saya ingin menyenangkan semua orang. Padahal mama tidak pernah mengharuskan atau memaksa apa yang tidak ingin saya lakukan, mama tidak pernah mengatur apa-apa saja yang harus saya lakukan. Semuanya dipercayakan pada diri saya sendiri. Bahkan mama selalu menyuruh saya untuk pulang lebih cepat supaya dapat tidur lebih lama. Namun tetap saja, saya menunggu sampai rumah makan ditutup jam 11.30 malam. Akibatnya saya sering terlambat atau tidak masuk kelas pagi. Saya tidak ingin memilih dan meninggalkan beberapa kegiatan, guru pianoku pernah menyarankan supaya saya mengurangi waktu ngajar. Tapi kupikir, dengan begitu, berarti saya menyerah pada keadaan. Saya ingin semuanya, tidak hanya beberapa. Kesemuanya itu juga harus berjalan baik, tidak hanya pas-pasan. Padahal saya menyadari untuk mendapat hasil yang benar-benar maksimal, saya perlu lebih fokus.</p>
<ol start="2">
<li><strong>Gila kontrol</strong></li>
</ol>
<p>Saya juga akan merasa stres apabila saya tidak dalam kontrol terhadap sesuatu. Ketika saya tahu bahwa saya tidak dapat berbuat banyak untuk mengubah situasi tersebut. Contohnya ketika mata kuliah wawancara mengharuskan tiap kelompok untuk membawa mahasiswa Atma Jaya non Psikologi untuk diwawancarai di ruang observasi. Pas hari H-nya, subjek tidak muncul dan tidak ada kabar apapun, ditelepon juga tidak dapat dihubungi. Padahal tugas tersebut adalah untuk nilai UTS. Wawancara akan berlangsung pukul 10 hingga 11 pagi. Subjek baru meminta maaf pada jam 11, bahwa sebelumnya ia ikut seminar di gedung Y yang tidak mendapat sinyal dan bahwa di luar dugaan seminar tersebut berlangsung lebih lama. Ketika itu, terbayang bagaimana stresnya saya. Tidak ada lagi yang dapat dilakukan, karena tiap kelompok telah mendapat jatah jadwal wawancara tersendiri. Tidak mungkin dapat mengubah jadwal seenaknya. Stresnya lebih dikarenakan saya menyadari bahwa hal tersebut penting, namun tidak ada yang dapat saya lakukan untuk menyelamatkan atau mengubah hal tersebut.</p>
<ol start="3">
<li><strong>Piano bergigi</strong></li>
</ol>
<p>Saya merasa stres setiap kali sehabis mengikuti ujian piano. Biasanya saya selalu merasa bahwa saya tidak akan lulus. Di dalam pikiran saya, saya akan memutar ulang apa yang terjadi di ruang ujian, dengan membayangkan saya menjadi salah satu penguji dan mendengarkan permainanku sendiri, mencoba untuk memberi nilai bagi diriku sendiri. Berkali-kali saya memutar ulang di dalam benak saya, awalnya mencari-cari kesalahan, lalu kemudian terlibat dengan pemikiran bahwa permainanku sebenarnya tidaklah seburuk yang kupikirkan sebelumnya. Berhari-hari setelah ujian, pikiran saya masih tetap gelisah. Membayangkan tidak lulus, bahwa saya harus menunggu dan mengulang di tingkat yang sama selama satu tahun, ditambah lagi dengan mahalnya biaya yang harus dikeluarkan, ditambah malunya. Lengkaplah sudah stresnya.</p>
<ol start="4">
<li><strong>Miss detik terakhir</strong></li>
</ol>
<p>Saya sering mengulur-ngulur waktu. Pekerjaan apapun pasti saya tunda sampai benar-benar <em>urgent, </em>baru dikerjakan. Seolah-olah kurang seru kalau tidak menunggu sampai detik-detik terakhir. Tapi di satu sisi, saya sadar bahwa waktu benar-benar berharga. Apalagi kegiatan saya yang cukup banyak membuat saya makin menyadari pentingnya mengatur waktu dengan baik. Saya selalu bertekad ingin belajar mengatur waktu dengan baik, bertekad akan menyicil pekerjaan bila sedang senggang. Tapi tetap saja, kebiasaan menunda belum juga hilang. Makanya saya sering merasa stres karena disonansi ini. Ketika ada tugas, tapi tidak <em>urgent </em>saya jadi cemas dan gelisah apabila tidak langsung mengerjakan tugas tersebut. Tapi di sisi lain, saya tergoda untuk menunda pekerjaan tersebut. Dua pikiran terus beradu, yang satu ingin menyicil agar nantinya tidak terburu-buru, juga untuk mengantisipasi apabila nanti ternyata tidak cukup waktu untuk mengerjakan, yang satunya lagi tidak ingin mengerjakan, karena ingin menikmati waktu santai. Rasanya tidak begitu adil, jarang ada waktu santai, tetapi begitu ada, malah tidak bisa tenang karena dua pikiran tersebut. Saya merasa khawatir jangan-jangan telah menyia-nyiakan waktu luang tanpa mengerjakan apapun. Ada juga rasa takut bahwa saya nantinya tidak akan ada lagi waktu untuk mengerjakan bila tidak dikerjakan sekarang juga.</p>
<p>Dilihat dari berbagai kisah di atas, boleh dikatakan sumber stres yang paling menonjol ialah datang dari dalam diri sendiri. Saya sendirilah yang menciptakan stres-stres itu. Sebenarnya saya cukup menyadari hal ini sejak lama, bukan peristiwa atau situasinya yang mengakibatkan stres, tapi bagaimana pikiran dan keyakinan saya mengambil peran dalam menciptakan stres untuk diri saya sendiri. Sesuai dengan teori Albert Ellis, ada 12 <em>irrational belief</em> yang biasanya dipegang orang pada umumnya, namun untuk menyederhanakannya, terdapat 3 poin utama mengenai <em>irrational belief, </em>yaitu:</p>
<p><em>1. “I must be outstandingly competent, or I am worthless.”<br />
2. “Others must treat me considerately, or they are absolutely rotten.”<br />
3. “The world should always give me happiness, or I will die.” </em></p>
<p>Dari kisah pertama, saya memiliki keyakinan bahwa saya harus menjadi seorang yang kompeten, dan jika saya tidak kompeten, maka saya tidak berarti apa-apa. Pemikiran inilah yang memicu <strong><a href="http://harmonihidup.com/stres-pada-diri/" target="_blank">stres</a></strong>, akibatnya saya jadi terkesan keras terhadap diri sendiri. Saya merasa tidak cukup baik dan ini membuat saya berusaha untuk menjadi sesuai dengan yang saya inginkan. Saya ingin menjadi sempurna, dan tidak ingin ada kesalahan sedikit pun, bahkan pernah terpikirkan untuk berhenti piano, sungguh-sungguh berhenti les, ngajar, semuanya yang berhubungan dengan piano. Intinya lupakan piano. Karena saya pikir lebih baik tidak sama sekali daripada tidak maksimal. Disini lagi-lagi ada keyakinan yang salah, nomor satu atau tidak sama sekali. Mungkin ini juga karena saya belum cukup menghargai diri sendiri. Seharusnya saya puas dengan usaha saya selama ini, seharusnya saya bisa bangga terhadap diri saya sendiri, seharusnya ada penghargaan terhadap diri sendiri. Mungkin terlalu banyak pernyataan harus yang tidak semestinya. Saya menganggap bahwa saya harus menjadi seorang yang super dan serba bisa, padahal orang lain tidak menuntut hal tersebut. Mungkin saya harus belajar untuk lebih memaafkan diri saya sendiri. Biasanya kalau sudah begini, saya berusaha mempertimbangkan kembali keyakinan tersebut, benarkah saya harus selalu super?.             Untungnya masih ada setengah dari diri saya yang membantah keyakinan tersebut.<em> </em>Yang saya lakukan ialah menggali kembali keyakinan yang lain tersebut bahwa tidak semua orang harus ideal seperti apa yang ia pikirkan. Idealitas ialah relatif, tidak seorang pun yang berhak menilai dan menentukan apa yang ideal dan seharusnya, termasuk diri kita sendiri. Apa yang saya lakukan disebut <em>coping</em>.</p>
<p><em>            Coping</em> ialah suatu proses yang mengatur keadaan yang mengancam, melibatkan usaha untuk memecahkan masalah, dan usaha yang dilakukan untuk mengurangi stres. Menurut Folkman dan Lazarus,<em> Coping</em> dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu <em>problem-focused</em> dan <em>emotion focused coping </em>(1980). Selanjutnya Folkman merevisi lagi dengan mengklasifikasikan <em>problem-focused</em> dan<em> emotion-focused coping</em>. Yang termasuk problem-focused coping yaitu <em>confrontative</em> dan <em>planful problem solving. </em>Sedangkan <em>emotion-focused coping</em> terdiri dari <em>distancing, self controlling, seeking social support, accepting responsibilities, escape avoidance</em>, dan <em>positive reappraisal </em>(1986)<em>. </em></p>
<p><em>            Coping</em> yang saya lakukan ialah disebut dengan <em>cognitive restructuring, </em>dimana merupakan proses mengganti pikiran, ide, ataupun keyakinan yang menyebabkan masalah bagi diri seseorang. Ide dan keyakinan bahwa saya harus super, diganti dengan ide bahwa tidak semua orang harus super. Hal ini tentu saja membuat saya merasa lega.</p>
<p>Dari kisah kedua, juga melibatkan keyakinan diri. <em>Self-efficacy</em> ialah suatu keyakinan bahwa diri sendiri dapat mengendalikan suatu situasi dan menghasilkan hal yang positif. Kenyataan maupun persepsi bahwa kita dapat melakukan sesuatu untuk mengontrol atau mengurangi stres dapat berpengaruh terhadap efek dari stres itu sendiri (Taylor, 2003; Wallston, 2001). Sayangnya, saya sering merasa tidak mempunyai kontrol terhadap suatu situasi. Hal inilah yang menyebabkan stres. Reaksinya bermacam-macam, dari hanya sekedar cuek sampai menangis. <em>Coping</em> yang dilakukan ialah mencari dukungan sosial. Saat itu, saya cerita kepada setiap teman yang saya temui. Isi ceritanya sama, hanya mengharapkan belas kasihan dari teman-teman. Begitu senangnya bercerita, hingga tidak mengindahkan jarak. Cerita nembus sampai kota Medan, melalui <em>Friendster. Coping</em> ini termasuk dalam<em> emotion-focused</em> disebut juga <em>seeking social support, </em>yaitu usaha untuk mencari bantuan yang dapat berupa informasional, dukungan nyata/ material, maupun dukungan emosional. Terkadang saya hanya ingin cerita, yang penting ialah mengeluarkan apa yang saya rasakan tersebut.</p>
<p>Kisah ketiga hampir sama seperti kisah pertama. Diri sendiri, pemikiran sendiri yang menciptakan stres tersebut. Peristiwa yang membuat stres belum terjadi (tidak lulus), karena hasil belum diketahui, tapi pikiran telah menciptakan bahwa seolah-olah itu telah terjadi, bahwa saya tidak lulus. Jauh sebelum hari pengumuman, saya telah mempercayai bahwa saya tidak akan lulus. Biasanya 3 hari sehabis ujian, pikiran saya penuh dengan kekhawatiran, kegelisahan. Nafsu makan pun berkurang. Itulah reaksi stresnya. Namun setelah lewat tiga hari, saya berhasil meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya tidak lulus. Saya benar-benar mempercayai hal tersebut seolah-olah memang begitu kenyataannya, seolah-olah saya telah memakai mesin waktu untuk melihat masa depan hasil ujian tersebut. Meyakini bahwa diriku tidak lulus, saya mulai memikirkan hal yang baik bila tidak lulus. Saya mempunyai kesempatan untuk melatih kemampuan saya dengan lebih baik lagi, karena saya mengulang. Saya bisa belajar lebih banyak lagu lain karena saya mengulang. Coping ini disebut juga<em> positive reappraisal</em>, yaitu usaha untuk  menciptakan makna positif yang lebih ditujukan untuk pengembangan pribadi. Setelah <em>coping</em> ini, saya merasa lebih senang tidak lulus daripada lulus. Karena ini pengalaman supaya saya bisa berlatih lebih keras. Oleh karena itu, setiap kali dikabari bahwa ternyata saya lulus ujian, ada juga rasa kecewa. Terlihat bagaimana saya selalu mencari hal atau sisi positif dari suatu kejadian yang tidak diinginkan, hingga hal yang tidak diinginkan tersebut menjadi cukup diinginkan. Saya melakukan hal tersebut jauh sebelum hal itu terjadi, sehingga ketika hal tersebut benar-benar terjadi, saya tidak perlu merasa sakit.</p>
<p>Kisah keempat lain lagi. <strong><a href="http://harmonihidup.com/stres-pada-masa-kuliah/" target="_blank">Stres</a></strong> terjadi karena ada konflik, dimana ketika saya harus memutuskan antara 2 atau lebih pilihan yang ada. Ada 3 macam tipe konflik (Neal Miller, 1959), yaitu:</p>
<ol>
<li><em>Approach/approach conflict</em>, yaitu konflik dimana seseorang harus memilih antara 2 stimulus atau keadaan yang menyenangkan</li>
<li><em>Avoidance/avoidance conflic</em>t, yaitu konflik dimana seseorang harus memilih antara 2 stimulus atau keadaan yang tidak menyenangkan</li>
<li><em>Approach/avoidance conflict</em>, yaitu konflik dimana seseorang dihadapkan pada stimulus atau keadaan yang mempunyai baik karakteristik negatif maupun positif.</li>
</ol>
<p>Dalam hal ini, konflik yang dialami ialah yang ketiga yaitu<em> Approach/avoidance conflict</em>, dimana menikmati waktu santai dapat mempunyai karakteristik negatif yaitu waktu menjadi terbuan, dan juga karakteristik positif yaitu <em>refreshing. </em>Bingung menentukan yang mana membuat <strong><a href="http://harmonihidup.com/stres-pada-masa-kuliah/" target="_blank">stres</a></strong>. Reaksinya gelisah, cemas, tidak tenang. Akhirnya <em>coping</em> yang saya lakukan ialah mengerjakan sesuatu yang lain, yang kurang penting namun dapat dinikmati seperti menyampul buku. Dengan begitu, saya merasa lebih tenang, karena setidaknya saya mengerjakan sesuatu. Teknik coping ini juga termasuk dalam<em> emotion-focused</em>, yaitu <em>distancing, </em>dimana merupakan usaha untuk tidak terlibat pada permasalahan, selain menciptakan pandangan positif. Dengan memfokuskan diri pada hal lain, saya tidak perlu terlibat dengan permasalahan yang ada. Teknik ini hampir mirip dengan<em> escape avoidance, </em>hanya saja, dengan teknik ini, saya tidak melarikan diri dan berpura-pura bahwa masalah tersebut tidak ada atau akan terselesaikan dengan sendirinya, saya masih menyadari bahwa masalah tersebut tidak akan selesai bila tidak dihadapi. Lain dengan teknik <em>escape avoidance</em>, yang merupakan usaha untuk tidak mengakui adanya permasalahan dan berharap masalah akan selesai dengan sendirinya.</p>
<p>Oleh: <strong>Cyntia</strong></p>
<p><a href="http://harmonihidup.com/1001-stres/">1001 Stres</a> adalah Artikel dari <a href="http://harmonihidup.com">Menghilangkan Stres</a></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><a href="http://harmonihidup.com/1001-stres/" title="peristiwa yang membuat stres">peristiwa yang membuat stres</a>,<a href="http://harmonihidup.com/1001-stres/" title="macam macam dis stres">macam macam dis stres</a>,<a href="http://harmonihidup.com/1001-stres/" title="menghilangkan mengeluh bingung dan gelisah dan cemas">menghilangkan mengeluh bingung dan gelisah dan cemas</a>,<a href="http://harmonihidup.com/1001-stres/" title="macam-macam stress masalah belajar">macam-macam stress masalah belajar</a>,<a href="http://harmonihidup.com/1001-stres/" title="Macam macam cerita dalam kegiatan di rumah">Macam macam cerita dalam kegiatan di rumah</a>,<a href="http://harmonihidup.com/1001-stres/" title="kegiatan menghilangkan stres">kegiatan menghilangkan stres</a>,<a href="http://harmonihidup.com/1001-stres/" title="harmoni hidup mencegah stress">harmoni hidup mencegah stress</a>,<a href="http://harmonihidup.com/1001-stres/" title="Cerita tentang seseorang yang mengalami stres">Cerita tentang seseorang yang mengalami stres</a>,<a href="http://harmonihidup.com/1001-stres/" title="cerita anak stres karna tidak lulus">cerita anak stres karna tidak lulus</a>,<a href="http://harmonihidup.com/1001-stres/" title="bagaimana seseorang dikatakan stres">bagaimana seseorang dikatakan stres</a>,<a href="http://harmonihidup.com/1001-stres/" title="1001 kata harmoni">1001 kata harmoni</a></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harmonihidup.com/1001-stres/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Stres Pada Diri</title>
		<link>http://harmonihidup.com/stres-pada-diri/</link>
		<comments>http://harmonihidup.com/stres-pada-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 05:23:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[cara mengatasi stres]]></category>
		<category><![CDATA[mengatasi stres]]></category>
		<category><![CDATA[menghilangkan stres]]></category>
		<category><![CDATA[stres]]></category>
		<category><![CDATA[stres diri]]></category>
		<category><![CDATA[stres diri sendiri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harmonihidup.com/?p=234</guid>
		<description><![CDATA[Sumber stres  Terdapat beberapa sumber stres yang terjadi secara konsisten dalam hidup saya, namun sumber stres yang paling dominan dalam hidup saya termasuk dalam stres psikososial. Dalam stres psikososial terdapat... <span class="meta-more"><a href="http://harmonihidup.com/stres-pada-diri/">Read more &#187;</a></span><p><a href="http://harmonihidup.com/stres-pada-diri/">Stres Pada Diri</a> adalah Artikel dari <a href="http://harmonihidup.com">Menghilangkan Stres</a></p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="text-decoration: underline;"><a href="http://harmonihidup.com/wp-content/uploads/2012/05/harmoni-hidup-057.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-235" title="harmoni-hidup-057" src="http://harmonihidup.com/wp-content/uploads/2012/05/harmoni-hidup-057.jpg" alt="menghilangkan stres" width="150" height="150" /></a></span></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Sumber stres</span></strong><strong> </strong></p>
<p>Terdapat beberapa sumber <strong><a href="http://harmonihidup.com/stres-pada-masa-kuliah/" target="_blank">stres</a></strong> yang terjadi secara konsisten dalam hidup saya, namun sumber stres yang paling dominan dalam hidup saya termasuk dalam stres psikososial. Dalam stres psikososial terdapat 5 masalah stres, diantaranya adalah perubahan, frustrasi, <em>over load, boredom and loneliness,</em> serta dinamika hubungan antara keempet masalah tersebut (Girdano, 2005). Dari kelima masalah tersebut saya mengalami frustrasi karena adanya diskriminasi. Diskriminasi dapat menjadi penyebab stres yang paling merusak, karena diskriminasi mengarah kepada tingkah laku-tingkah laku yang tidak menyenangkan yang dilakukan oleh seseorang terhadap yang lain karena agama, ras, status sosial, gender, karakterisrik fisik, atau gaya hidup (Girdano, 2005).</p>
<p>Diskriminasi yang saya alami berasal dari keluarga saya sandiri, yaitu dari nenek saya. Saya memiliki seorang saudara sepupu yang seusia dengan saya. Dalam keluarga besar hanya saya dan dialah yang benar-benar seusia, berada dalam angkatan yang sama dalam sekolah, serta memiliki kesamaan gender yaitu perempuan. Saya dan saudara pepupu saya tersebut sangat dekat sejak kecil. Kami sering saling bertukar cerita, menginap satu sama lain, serta memiliki hobi yang sama yaitu berenang dan bermain piano. Tak jarang dalam hobi tersebut kami saling melengkapi dan menjadi pasangan dalam berbagai perlombaan. Ketika kecil saya tidak pernah merasa adanya diskriminasi dalam hidup saya karena saya memang belum memperhatikan percakapan-percakapan serius yang ada dalam keluarga, hanya berpikir untuk bermain bersama saudara-saudara saya yang lainnya saat berkumpul bersama keluaraga besar, serta melakukan hal-hal yang saya suka seperti hobi saya.</p>
<p>Namun saat beranjak dewasa, saya mulai diikutsertakan dalam percakapan-percakapan dalam keluarga besar. Pada saat itu saya mulai merasakan adanya diskriminasi yang berasal dari nenek saya. Entah mengapa nenek saya salalu membandingkan diri saya dengan sepupu saya tersebut. Bahkan dalam berbagai percakapan nenek saya cenderung selalu membanggakan saudara sepupu saya, dan jarang membicarakan saya. Ketika berbicara dengan sayapun tak jarang nenek saya membicarakan saudara sepupu saya dengan segala keberhasilannya.</p>
<p>Saya tidak terlalu yakin termasuk dalam aspek apakah diskriminasi yang dilakukan oleh nenek saya, namun saya jelas merasa dibedakan atau didiskriminasi dengan saudara sepupu saya, karena sepertinya apapun yang saya lakukan dan saya usahakan selalu terlihat kurang atau bahkan salah di mata nenek saya. Berbeda dengan apapun yang saudara sepupu saya lakukan, selalu terlihat hebat dan baik di mata nenek saya. Mungkin salah satu aspek yang jelas berbeda dari saya dan saudara sepupu saya yang juga menjadi salah satu aspek pembanding oleh nenek saya adalah aspekgayahidup. Saya termasuk orang yang senang bersosialisasi. Saya senang berkegiatan diluar, bertemu banyak orang, dan bergaul. Sedangkan saudara sepupu saya merupakan seseorang yang lebih sering terlihat bersama keluarganya. Hal ini membuat nenek saya beranggapan bahwa saudara sepupu saya adalah anak baik-baik yang senang membantu dirumah, dan saya adalah anak yang nakal. Nenek saya tidak mau mengerti penjelasan-penjelasan yang selalu saya berikan bahwa saya bersosialisasi dalam hal hal positif. Baginya saudara sepupu saya tetap lebih baik.</p>
<p>Sebenarnya saya adalah orang yang selalu senang dan turut bangga atas keberhasilan orang lain, karena menurut saya semua orang akan mendapatkan keberhasilan dengan cara yang berbeda. Namun karena nenek saya selalu membandingkan keberhasilan saudara sepupu saya dengan saya maka saya cenderung menganggap bahwa keberhasilan saudara sepupu saya adalah sebuah <em>stressor</em> yang mengancam.</p>
<p>Adanya perbandingan dan diskriminasi yang nenek saya lakukan juga membuat saya berpikir mengenai hidup saya karena saya sudah merasa sangat tertekan dan sakit hati. Namun semakin saya berpikir, saya menyadari bahwa dalam kenyataannya saya memang kalah dalam segala bidang dengan sepupu saya tersebut. Hal tersebut membuat saya semakin stres dan kehilangan rasa percaya diri.</p>
<p>E.P Gintings (1999) mengatakan bahwa manusia memerlukan potensi untuk memenangkan persaingan, namun potensi tersebut dapat berkembang dan sebaliknya dapat mengecil. Semakin berat beban hidup yang dipikul oleh seseorang makin banyak ‘luka perasaan’ dan ‘kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi’ di dalam diri seseorang, maka potensi masusia itu akan semakin mengecil. Diskriminasi yang dilakukan nenek saya menimbulkan beban dan luka perasaan pada diri saya. Karena itu potensi sayapun semakin mengecil, karena semakin saya berpikir potensi apa yang saya miliki dan dapat membuat saya terlihat lebih baik dimata nenek saya, saya semakin merasa bahwa saya tidak memiliki potensi apa-apa.</p>
<p>Seperti juga yang telah diungkapkan Abraham Maslow, seorang psikolog dalam bukunya: <em>Motivation and Personality</em>, menyusun suatu teori yang disebut Maslow, <em>Holistic-Dynamic Theory</em>. Walaupun kebudayaan manusia berbeda-beda, kebutuhan utama manusia pada dasarnya adalah sama. Karena itu Maslow menyusun 5 urutan kebutuhan yaitu :</p>
<ol>
<li>Kebutuhan fisiologis</li>
<li>Kebutuhan keaman</li>
<li>Kebutuhan cinta</li>
<li>Kebutuhan penghargaan</li>
<li>Kebutukan mewujudkan diri atau aktualisasi diri</li>
</ol>
<p>Dalam hal ini saya merasa kebutuhan penghargaan saya tidak terpenuhi, karena apapun yang saya lakukan saya merasa nenek saya tidak ‘melihatnya’ atau dapat juga dikatakan tidak menghargai. Kebutuhan akan penghargaan seringkali diliputi oleh rasa frustrasi dan konflik pribadi, karena yang diinginkan bukan hanya perhatian dan pengakuan dari kelompok, tetapi juga kehormatan dan status yang melakukan standar moral, sosial, dan agama (Gintings, 1999). Hal ini yang terjadi pada saya karena kebutuhan penghargaan  yang saya rasa tidak terpenuhi membuat saya menjadi frustrasi dan terjadi konflik pribadi. Selain itu dijelaskan juga oleh Maslow bila seseorang kebutuhannya tidak terpenuhi pada urutan tertentu maka ia tidak dapat melanjutkan ke urutan yang selanjutnya. Bagitu pula dengan saya, karena merasa kebutuhan penghargaan belum terpenuhi, saya tidak dapat mengaktualisasikan diri dengan baik karena terus merasa bahwa saya tidak memiliki potensi apapun.</p>
<p>Jadi dapat disimpulkan selain adanya diskriminasi yang dilakukan oleh nenek saya, terdapat sumber <strong><a href="http://harmonihidup.com/how-to-be-a-happy-and-success-sales-promotion-girl/" target="_blank">stres</a></strong> lain yang memperkuat stres saya yaitu pikiran saya sendiri yang membuat saya semakin terjatuh.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Reaksi stres</span></strong></p>
<p>Reaksi stres terbagi dalam beberapa hal yaitu reaksi fisik, emosi, kognitif, dan tingkah laku. Dalam diri saya tejadi reaksi emosi seperti timbulnya perasaan yang sudah saya sebutkan sebelumnya seperti merasa terbebani, sakit hati, dan kehilangan rasa percaya diri. Hal lain yang menjadi reaksi emosi dari stres saya yaitu menjadi sangat sensitif bila ada orang lain dari keluarga saya yang membicarakan saudara sepupu saya tersebut. Saya menjadi punya anggapan bahwa semua orang di keluarga besar saya akan ikut membanggakan sepupu saya saat membicarakannya. Selain itu tidak jarang saya menangis untuk meluapkan emosi saya. Tangisan yang terjadi bisa hanya karena saya merasa terlalu kesal, namun juga dapat terjadi karena saya menangisi diri saya sendiri yang saya anggap tidak memiliki potensi yang lebih. Kehancuran hanyalah sekedar serangan gencar oleh reaksi emosional yang berlebihan, yang diiringi oleh jalan pikiran yang lambat serta membingungkan, dan penyebab semua itu adalah keletihan mental dan emosional (Weekes, 1991). Karena itulah rekasi emosi adalah reaksi yang paling benyak terjadi pada diri saya karena saya mengalami keletihan mental dan emosional karena selalu sering merasa terbebani dan terdiskriminasi.</p>
<p>Reaksi lain yang terjadi juga terdapat pada kognitif saya. Saya menjadi <em>preoccupation </em>atau tidak dapat berhenti memikirkan hal tersebut. Bahkan karena terlalu seringnya saya memikirkan hal tersebut membuat saya meyakini <em>belief </em>yang salah yaitu<em> </em>menganggap bahwa saya tidak memiliki potensi apapun untuk dikembangkan. Hal inilah yang membuat saya kehilangan rasa percaya diri saya.</p>
<p><strong><em><span style="text-decoration: underline;">Coping Strategies</span></em></strong></p>
<p>Cara mengatasi stres yang pertama kali saya lakukan adalah berusaha <em>avoidence</em> dari rasa sakit hati saya. Apabila nenek saya sedang membicarakan saudara sepupu saya, saya lebih memilih untuk pergi dari ruangan tersebut agar tidak banyak mendengar nenek saya membanggakan saudara saya tersebut sehingga sakit hati saya tidak bertambah. Selain itu saya juga cenderung menghindari saudara sepupu saya tersebut karena dengan begitu saya tidak perlu mendengar segala cerita keberhasilannya yang membuat saya semakin merasa kalah, takut dan terancam. Hal itu saya lakukan karena seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, keberhasilan saudara sepupu saya menjadi sebuah <em>stressor</em> tersendiri bagi saya.</p>
<p>Setelah beberapa waktu saya sadar bahwa saya tidak dapat terus menghindar dari masalah yang ada, selain itu <em>avoidence</em> merupakan <em>coping</em> yang sifatnya menjadi destruktif bila dilakukan secara bekelanjutan. Berdasarkan pemikiran ini, saya mencoba melakukan <em>coping strategies</em> yang sifatnya positif, diantaranya adalah;</p>
<ul>
<li>Melihat segala sesuatu dari berbagai sudut pandang.</li>
</ul>
<p>Untuk bisa menghadapi atau mengendalikan tekanan, kita harus mengatur cara menerjemahkan kejadian tersebut, dan apabila kejadian tersebut menimbulkan tekanan, kita harus mencoba dan berusaha mencari penjelasan atau interpretasi lain atas kejadian tersebut (Stephen Williams, 1997). Saya mencoba membicarakan dan mempertanyakan masalah ini pada ibu dan kakak saya, namun hal ini kurang berhasil karena merekapun melihat hal yang sama dengan saya. Menurut Stephen Willams (1997) menginterpretasikan sebuah kejadian dibagi menjadi 2, yaitu interpretasi positif sehingga meniadakan stres <em>(stress reducing</em>), dan interpretasi negatif yang menimbulkan stres <em>(stress inducing</em>). Karena itu saya mencoba menginterpretasikan kejadian ini secara positif dengan berpikir bahwa nenek saya membanggakan saudara sepupu saya karena ia memang pantas dibanggakan, dan saya akan terus berusaha menjadi sosok seseorang yang juga pantas ia banggakan.</p>
<ul>
<li>Mengendalikan perasaan dan emosi</li>
</ul>
<p>Untuk mengendalikan perasaan saya saat merasa tertekan, saya berupaya bersikap positif dengan cara mengatur nafas, dan mencoba tersenyum. Selain itu saya juga harus tetap berpikir secara positif, karena bila hal itu dapat dilakukan akan memunculkan respon yang positif juga seperti ada kekuatan yang membantu dan kita dapat berpikir dengan lebih jernih (Williams, 1997). Saya juga harus menjaga agar emosi selalu sesuai dengan situasi yang dihadapi.</p>
<ul>
<li>Belajar menerima diri sendiri</li>
</ul>
<p>Cara menerima diri sendiri adalah dengan menerima fakta bahwa apa yang kita pikirkan, rasakan, dan lakukan semuanya merupakan ungkapan diri ketika semuanya terjadi (Branden, 1999). Maka menerima berarti kita tidak boleh membayangkan atau menginginkan adanya perubahan atau perbaikan pada diri sendiri. Kita harus dapat menghayati tanpa penolakan atau pengingkaran bahwa kenyataan tetaplah kenyataan. Nathaniel Braden (1999) juga mengatakan bahwa bila kita merasakan perasaan yang tidak mengenakkan maka yang harus kita lakukan untuk menerima keadaan tersebut adalah;</p>
<ul>
<ol start="1">
<li>konsentrasikan perhatian pada pernafasan</li>
<li>pikirkan untuk membiarkan otot-otot anda melemaskan ketegangan itu</li>
<li>ingatkan diri anda sendiri bahwa kenyataan adalah kenyataan</li>
<li>merenungkan perasaan itu dan berpikir untuk mengizinkan itu tetap berada disana</li>
<li>jadikan diri anda saksi tanpa memberi sedikitpun kesempatan pada tekanan itu untuk menguasai anda</li>
</ol>
</ul>
<p>Cara ini memang sulit dipraktekkan, namun apabila kita berhasil melakukannya artinya kita sudah dapat menyelidiki secara lebih mendalam mengenai dunia penerimaan diri. Saya melakukan cara ini dalam mengahadapi sumber <strong><a href="http://harmonihidup.com/water-birth-menghapus-trauma-persalinan-ibu-dan-bayinya/" target="_blank">stres</a></strong> saya karena pada kenyataanya akan lebih baik bagi diri saya sendiri untuk menerima kenyataan dari pada berusaha melawan realitas yang tidak dapat saya ubah.</p>
<ul>
<li>Mengubah kekalahan menjadi kemenangan</li>
</ul>
<p>Manurut David J. Schwartz (1992), terdapat 5 pedoman untuk mengubah kekalahan menjadi kemenangan, yaitu;</p>
<ul>
<ol start="1">
<li>pelajari kemunduran untuk melicinkan jalan menuju keberhasilan. Ketika anda kalah, belajarlah, dan kemudian lanjutkan untuk menang pada kesempatan berikutnya.</li>
<li>miliki keberanian untuk menjadi kritikus diri sendiri yang konstruktif. Selidiki kesalahan dan kelemahan anda dan kemudian perbaiki.</li>
<li>berhanti menyalahkan nasib. Periksa setiap kemunduran, cari tahu apa yang berjalan keliru.</li>
<li>gabungkanlah ketekunan dengan eksperimen. Tetaplah dengan cita-cita, cobalah pendekatan baru.</li>
<li>ingatlah bahwa ada sisi baik dalam setiap situasi. Cari dan lihatlah sisi baik tersebut, dan tolaklah rasa frustasi.</li>
</ol>
</ul>
<p>Meskipun sulit dan membutuhkan waktu, saya menerapkan 5 cara ini dalam hidup saya. Karena adalah tidak mungkin untuk mencapai keberhasilan tanpa menjumpai perlawanan, kesukaran, dan kemunduran, namun adalah mungkin untuk menggunakan kemunduran sebagai pendorong untuk maju.</p>
<p>Kekalahan hanyalah keadaan pikiran, tidak lebih (Schwartz, 1992). Hal yang membuat saya merasa kalah adalah pikiran dari diri saya sendiri, karena itu saya berusaha mengendalikan pikiran saya menjadi lebih positif  dan berusaha untuk terus maju.</p>
<p>Oleh: <strong>Nurul Margi Astuti</strong></p>
<p><a href="http://harmonihidup.com/stres-pada-diri/">Stres Pada Diri</a> adalah Artikel dari <a href="http://harmonihidup.com">Menghilangkan Stres</a></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><a href="http://harmonihidup.com/stres-pada-diri/" title="penerimaan diri dan stres">penerimaan diri dan stres</a>,<a href="http://harmonihidup.com/stres-pada-diri/" title="beban hidup bersama sodara sepupu">beban hidup bersama sodara sepupu</a>,<a href="http://harmonihidup.com/stres-pada-diri/" title="subutkan deskriminasi dalam keluarga">subutkan deskriminasi dalam keluarga</a>,<a href="http://harmonihidup.com/stres-pada-diri/" title="stress kalah dalam segala hal">stress kalah dalam segala hal</a>,<a href="http://harmonihidup.com/stres-pada-diri/" title="stress dan penerimaan diri">stress dan penerimaan diri</a>,<a href="http://harmonihidup.com/stres-pada-diri/" title="stres terhadap diri sendiri">stres terhadap diri sendiri</a>,<a href="http://harmonihidup.com/stres-pada-diri/" title="Solusi untuk menghilangkan rasa diskriminasi">Solusi untuk menghilangkan rasa diskriminasi</a>,<a href="http://harmonihidup.com/stres-pada-diri/" title="sering dibedakan dengan saudara">sering dibedakan dengan saudara</a>,<a href="http://harmonihidup.com/stres-pada-diri/" title="Sepupu tidak menganggap kita saudara">Sepupu tidak menganggap kita saudara</a>,<a href="http://harmonihidup.com/stres-pada-diri/" title="sakit hati dibedakan dengan kakak">sakit hati dibedakan dengan kakak</a>,<a href="http://harmonihidup.com/stres-pada-diri/" title="mengendalikan diri saat tertekan">mengendalikan diri saat tertekan</a>,<a href="http://harmonihidup.com/stres-pada-diri/" title="mengatasi stress diri">mengatasi stress diri</a>,<a href="http://harmonihidup.com/stres-pada-diri/" title="mengatasi perasaan terhadap sepupu">mengatasi perasaan terhadap sepupu</a>,<a href="http://harmonihidup.com/stres-pada-diri/" title="content">content</a>,<a href="http://harmonihidup.com/stres-pada-diri/" title="cara mengendalikan emosi karena diskriminasi">cara mengendalikan emosi karena diskriminasi</a></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harmonihidup.com/stres-pada-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Served from: harmonihidup.com @ 2013-05-19 02:39:14 -->