“Suami yang cemburu tega membunuh istrinya.”
“Perceraian artis terjadi lagi!”
“Korban Lumpur Lapindo masih belum juga mendapat santunan.”
*****
Telah kita ketahui bahwa dalam setiap siaran berita –entah itu media elektronik maupun media cetak– terdapat porsi yang lebih besar untuk berita buruk dibandingkan berita baik. Sebagai pengikut berita, bagaimanakah tanggapan Anda tentang hal ini? Apakah Anda seorang pengikut setia berita-berita ini? Atau malah merupakan pembencinya? Di bawah ini, penulis akan menguraikan mengenai berita buruk yang dapat menjadi salah satu sumber stres dan bagaimanakah seharusnya menanggapi berita-berita buruk yang beredar tersebut. Haruskah dihindari? Atau adakah cara lain yang lebih bijak dalam menghadapinya?
Tanggapan Masyarakat Terhadap Bad News
Mau tidak mau, bad news atau berita buruk telah menjadi “makanan” kita sehari-hari. Berita itu pun muncul dari berbagai segi kehidupan, seperti: kecelakaan (segi transportasi), kenaikan harga barang kebutuhan pokok (segi ekonomi), kekalahan timnas Indonesia (segi olahraga), atau bahkan sampai pada berita yang tidak terlalu jelas harus digolongkan ke dalam berita baik atau berita buruk, seperti berita meninggalnya mantan presiden kedua RI.
Tanggapan setiap orang mengenai berita-berita semacam itu pun berbeda-beda, tergantung seberapa dekat isi berita tersebut dengan diri mereka masing-masing. Semakin dekat isi suatu berita (mungkin berlaku juga untuk berita baik) dengan kehidupan si pembaca, maka ia akan semakin memperhatikan isi berita tersebut secara mendetil, atau bahkan bereaksi “lebih” ketika membaca/ mendengarnya.
Sebagai contoh pertama, penulis akan mengambil contoh tentang berita buruk yang baru-baru ini terjadi, yaitu kenaikan harga kedelai. Bagi rakyat kalangan atas, bisa jadi berita ini tidak berarti apa-apa karena kebutuhan mereka sehari-hari selalu tercukupi, bahkan berlebihan. Namun, bagaimana dengan rakyat kalangan menengah ke bawah? Rakyat kalangan menengah mulai ada yang berkeluh kesah. Mereka yang biasa mengkonsumsi kedelai dalam berbagai bentuk, bisa susu kacang kedelai, tahu goreng, tempe bacem, dan aneka hidangan lainnya, mungkin harus mengeluarkan uang lebih jika ingin menikmati makanan yang biasa mereka konsumsi itu. Keluh kesah lainnya mungkin muncul karena hidangan-hidangan tersebut harus mereka nikmati dalam porsi yang lebih kecil karena produsen berusaha menyiasati kenaikan harga kedelai dengan mengurangi porsi barang produksi/ olahan mereka.
Melebihi semua itu, pihak yang paling menderita adalah rakyat kecil. Rakyat kecil yang dimaksud misalnya adalah penjual gorengan kaki lima atau keluarga miskin yang menjadikan tahu dan tempe sebagai lauk tetap mereka sehari-hari. Bagi mereka, berita mengenai naiknya harga kedelai seakan-akan merupakan “neraka”. Oleh karena itu, tidak heran bahwa berita-berita (buruk) lain yang muncul seiring dengan kenaikan harga kedelai antara lain penjual gorengan yang bunuh diri karena terus merugi, pabrik tahu yang merumahkan setengah karyawannya karena tingginya biaya produksi, narapidana yang dulunya mengkonsumsi tempe sebagai lauk tetap namun kini harus berganti menu yang lebih murah, sampai kepada sebutan “Generasi Tempe” yang konon diperkirakan dapat berubah menjadi “Generasi Kerupuk”.
Tanggapan masyarakat terhadap berita buruk juga bergantung pada pengetahuan/ kognisi yang dimiliki seseorang. Seorang anak yang belum mengerti apa artinya kenaikan harga atau apa akibat yang mungkin mereka alami jika harga-harga naik, mungkin tidak akan bereaksi ketika mendengar berita yang sama. Mereka hanya akan bereaksi ketika mereka lapar dan lauk tempe atau tahu yang biasa mereka konsumsi tidak tersedia. Berbeda halnya dengan remaja atau orang dewasa yang tanpa mengalami suatu hal secara konkret pun sudah dapat membayangkan apa yang akan terjadi sebagai akibat dari kenaikan harga.
Bad News sebagai Sumber Stres
Bagaimana reaksi tubuh Anda ketika mendengar berita kenaikan harga kedelai tersebut? Apakah Anda merasa pusing, sakit kepala, panik, dan khawatir? Atau Anda merasa biasa-biasa saja? Memang telah disebutkan sebelumnya bahwa tanggapan setiap orang terhadap suatu berita memang berbeda-beda. Namun cobalah ingat kembali bagaimana tanggapan Anda atau bagaimana reaksi tubuh Anda ketika mendengar berita yang bagi orang-orang berperikemanusiaan jelas-jelas merupakan berita buruk, seperti Bom Bali, Tragedi World Trade Centre (WTC) 9/11, atau Tsunami? Masih ingatkah Anda apa yang Anda rasakan saat mendengar berita tersebut, menonton kejadiannya di televisi, melihat foto-fotonya di koran, atau mengikuti perkembangannya di radio? Apakah Anda masih merasa biasa-biasa saja dan tidak merasakan perubahan apapun pada tubuh atau perasaan Anda?
Jika tubuh Anda mulai bereaksi tidak enak dalam bentuk apapun ketika mendengar berita-berita tersebut, hal ini berarti berita yang Anda saksikan tersebut telah menjadi sebuah sumber stres bagi Anda. Reaksi tidak enak ini tidak harus muncul hanya ketika Anda menyaksikan tragedi besar saja, namun mungkin juga muncul ketika Anda mendengar berita pencopetan. Sekilas, mungkin berita ini terdengar remeh bagi sebagian orang, namun bagi sebagian orang yang lain berita ini mungkin dapat membuatnya berdebar-debar atau berkeringat dingin. Hal ini bisa jadi karena ia pernah menjadi korban pencopetan sehingga ia teringat akan pengalaman buruknya yang lalu atau mungkin ia sering melewati lokasi terjadinya pencopetan, dan alasan-alasan lainnya. Dengan demikian, sama halnya seperti berita-berita tragedi tadi, berita pencopetan ini telah menjadi sumber stres bagi sebagian orang.
Sebelum berbicara lebih lanjut mengenai reaksi tubuh ketika mengalami stres, penulis akan mulai terlebih dahulu dari pengertian stres. Dalam penyebutan mengenai stres, sebenarnya ada dua istilah, yaitu distress dan eustress. Menurut Hans Selye (1974), distress adalah jenis stres yang merusak dan tidak menyenangkan. Istilah distress inilah yang digunakan semua orang untuk menggambarkan stres pada umumnya, yaitu stres yang negatif, sementara eustress adalah stres dalam bentuk positif yang kadang diterjemahkan sebagai kejadian yang diinginkan di dalam kehidupan seseorang. (htttp://en.wikipedia.org/wiki/Eustress). Suatu event dapat diterjemahkan menjadi kejadian distress maupun eustress dan hal ini berbeda-beda bagi setiap orang. Suatu kejadian yang bagi A merupakan distress, mungkin bagi B adalah eustress.
Setelah mengetahui pengertian stres, dalam pembicaraan mengenai stres ini dikenal pula istilah stressor atau sumber stres. Untuk lebih jelasnya, Girdano, et al. (2005) menyebutkan bahwa stressor adalah kondisi/ kejadian yang dapat menyebabkan munculnya respon stres. Jika kita kembali membicarakan topik utama kita, maka dengan jelas dapat kita ketahui bahwa sumber stress yang akan kita bicarakan adalah bad news atau berita buruk itu sendiri.
Dalam Girdano, et al. (2005), diungkapkan secara terpisah bahwa stres psikososial mencakup limahal, yaitu perubahan yang terjadi dalam kehidupan, frustasi, overload, kebosanan dan kesepian, serta bisa jadi merupakan gabungan dari hal-hal di atas. Bad news sebagai stressor dapat digolongkan ke dalam frustation, khususnya dalam bagian faktor sosial ekonomi, karena hal-hal yang dibicarakan dalam berita buruk itu umumnya terkait dengan bidang sosial dan ekonomi. Disebut terkait dengan bidang sosial misalnya karena kita turut prihatin dengan keluarga korban suatu kecelakaan yang kita baca di koran, atau kita bersedih dan panik karena merupakan salah satu kerabat dari korban. Terkait dengan bidang ekonomi, contohnya adalah jika kita orang yang menderita karena kenaikan harga barang, sehingga untuk memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari saja sangat kesulitan. Apabila digolongkan ke dalam kategori lain, mungkin bad news sebagai stressor dapat masuk ke kategori overload, yaitu apabila seseorang merasa sangat “lelah” atau jenuh karena terus-menerus mendengar/ menyaksikan berita buruk setiap harinya.
Dalam menghadapi suatu sumber stres, setiap orang dapat mengalami reaksi tubuh/ gejala yang sama ataupun berbeda. Gejala tersebut dapat berupa gejala fisik, emosi, kognitif, maupun tingkah laku. Gejala fisik misalnya jantung berdetak dengan cepat, tangan berkeringat, sakit kepala/ pening, sakit perut, tenggorokan kering, dll. Sementara itu, gejala emosi dapat mencakup emosi yang tidak stabil, marah besar, rasa khawatir yang berlebihan, rasa sedih, menangis, insomnia, bermimpi buruk, dan banyak gejala lainnya. Menjadi pelupa, kurang konsentrasi, sulit berpikir, sulit mendapat ide, dan menurunnya produktivitas merupakan beberapa contoh dari gejala kognitif dari stres. Yang terakhir, gejala dalam bentuk tingkah laku, dapat terlihat antara lain dalam perilaku makan yang berubah, meningkatnya konsumsi minuman keras/ merokok, perilaku tidak sabar, tawa yang tidak terkontrol, kecenderungan melakukan kekerasan, kecerobohan yang tidak perlu, dan lain-lain.
Apakah gejala-gejala semacam ini pernah muncul pada diri Anda ketika sedang mengikuti suatu berita? Apabila iya, maka seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, berita yang Anda saksikan ketika Anda merasakan reaksi tubuh tersebut merupakan sumber stres bagi Anda. Jika demikian, apakah yang harus Anda lakukan? Berikut ini adalah beberapa cara untuk mengurangi atau mengatasi stres (yang sering disebut coping stress strategies).
Good News or No News At All (Berita Baik atau Tanpa Berita Sama Sekali)
Jika berita buruk adalah sumber stres, apakah lantas sebaiknya kita hanya mengikuti berita baik saja? Atau justru tidak usah mengikuti berita sama sekali karena lebih sulit menemukan berita baik dibandingkan berita buruk?
Beberapa tahun yang lalu, penulis pernah mendiskusikan hal ini dengan teman-teman yang kira-kira berjumlah tiga puluh orang. Kami semua sepakat bahwa berita buruk telah menjadi santapan kami sehari-hari, bahkan media massasering memuat porsi yang lebih besar untuk berita buruk dibandingkan berita baik. Namun, ketika kami dihadapkan pada pilihan apakah kami mau mengikuti berita baik saja atau apakah baik mendengarkan good news saja, pada akhirnya kami tetap beranggapan bahwa mengetahui berita buruk itu perlu. Kami merasa bahwa hidup dengan mengikuti berita baik saja seakan-akan hidup dalam kebohongan, atau mencoba mengalihkan perhatian dari kenyataan (tindakan coping stress yang disebut avoidance).
Menurut kami, seburuk apapun berita itu, tetap saja hal-hal yang diberitakan merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari. Suka atau tidak suka, memang itulah yang terjadi. Jika kita menutup diri pada kenyataan tersebut, maka akan terjadi hal buruk lainnya, yaitu kita tidak tahu apa-apa dan hanya hidup di dalam dunia yang seakan-akan aman, damai, sentosa, padahal tidak sebenarnya begitu.
Tindakan coping stress lain yang juga tidak baik dilakukan adalah tindakan withdrawal atau melarikan diri dari kenyataan dengan cara tidak mau mengikuti berita sama sekali. Banyak orang yang pada dasarnya tidak begitu suka membaca koran (namun mungkin suka membaca komik atau novel), sering memakai alasan bahwa koran hanya berisi berita buruk saja sehingga hal ini membuat mereka muak. Memang pendapat ini tidak dapat disalahkan, namun jika Anda merupakan salah satu orang ini, cobalah berpikir kembali.
Kita semua hidup di dalam lingkungan masyarakat. Dalam pergaulan dan kehidupan di masyarakat, perilaku mengikuti berita tetaplah diperlukan. Hanya saja, kita harus pandai-pandai memilah-milah setiap berita yang ada. Apakah berita tersebut memang tergolong ke dalam berita penyebab distress atau justru dapat dikategorikan ke dalam berita penyebab eustress? Apakah mungkin sebuah berita buruk masuk ke dalam eustress? Tentu saja mungkin. Berikut ini contohnya dalam berita Tragedi WTC 9/11.
Selintas, memang mungkin kita merasa tidak ada hal baik yang dapat dilihat dari tragedi ini. Namun, bila Anda mengikuti perkembangan berita ini, akan ada sebuah sisi positif yang dapat diambil, sekecil apapun itu. Salah satu hal positif yang penulis maksud adalah ketika munculnya berita lanjutan mengenai sebagian besar rakyat Amerika, khususnya wargaNew Yorkyang bersedia menjadi sukarelawan. Mengapa hal ini termasuk hal positif? Karena dalam hal ini, kita dapat melihat bahwa rakyat Amerika yang selama ini dianggap sebagai orang-orang dengan individualisme tinggi, ternyata ketika menghadapi sebuah bencana besar seperti ini, tetap mau ikut membantu walaupun mungkin tidak ada anggota keluarga atau kerabatnya yang menjadi korban. Mereka bertindak murni karena tergerak hatinya atau karena ingin meringankan beban para tim penyelamat. Dalam hal lainnya, kita juga dapat melihat bahwa hampir seluruh dunia turut berbelasungkawa atas tragedi kemanusiaan ini dan banyak orang yang mengirimkan bantuannya, baik secara moral maupun material kepada pihak Amerika.
Jadi, jika kita bukan korban langsung dari sebuah berita buruk, janganlah terlalu memikirkan sisi buruknya saja. Cobalah melihat dari sisi lain, apakah ada hal positif yang mungkin Anda dapatkan dari berita tersebut atau apakah Anda justru dapat berada dalam posisi membantu orang yang sedang menghadapi bencana. Dengan demikian, Anda tidak hanya membantu diri Anda sendiri, namun juga berbuat baik untuk sesama.
Sekarang kita akan beralih menuju berita-berita buruk yang mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari, seperti pencopetan, kecelakaan (misalnya Bus Transjakarta menabrak seorang pejalan kaki), kalahnya Timnas Indonesia, dan lain-lain. Mungkin Anda bukan korban atau kerabat korban, namun berita semacam ini dapat membuat Anda lebih waspada. Ketika mendengar sebuah berita pencopetan, mungkin Anda dapat mengetahui di mana tempat kejadian, mengapa orang tersebut sampai dicopet, atau bagaimana ciri-ciri pelaku. Jika sudah mengetahui hal ini, Anda dapat sebisa mungkin menghindari tempat kejadian, lebih hati-hati jika membawa barang berharga, atau waspada terhadap orang dengan ciri-ciri seperti yang telah disebutkan.
Jika menghadapi berita Bus Transjakarta menabrak seorang pejalan kaki, mungkin Anda dapat melihat terlebih dahulu, apakah yang salah bus-nya atau si pejalan kaki yang menyeberang tidak pada tempatnya sehingga ditabrak bus? Dengan demikian, Anda dapat lebih hati-hati ketika menyeberang jalan. Hindarilah perilaku yang mungkin dapat menyebabkan Anda celaka.
Di samping itu, tentunya membaca berita tetap bermanfaat untuk memperkaya wawasan. Apabila Anda tidak mau dicap sebagai orang yang antisosial (kurang memiliki pengetahuan tentang dunia sosial atau kurang bergaul), sebaiknya Anda mulai mengikuti berita sedikit demi sedikit. Anda tidak harus membaca keseluruhan berita. Hanya membaca paragraf-paragraf pertama di koran juga sudah cukup, mendengarkan cuplikan berita di radio/ televisi pun sudah baik. Satu lagi hal positif yang mungkin sering tidak Anda sadari yaitu berita dapat menjadi salah satu topik pembicaraan Anda dengan orang lain, baik orang yang sudah dikenal, maupun orang yang baru Anda kenal. Cara menghadapi stres dengan melihat sisi positif dari sebuah stressor ini adalah salah satu cara untuk beradaptasi dengan stres, karena kita berusaha mencari jalan keluar dari permasalahan yang ada, dan bukan justru menghindari atau melarikan diri darinya. Jadi, masihkah Anda enggan mengikuti berita?
Orang-Orang yang Sejak Awal Tidak Dapat Melarikan Diri dari Berita
Jika sebagian orang tidak merasa perlu bersentuhan setiap hari dengan berita, kita tidak boleh melupakan orang-orang yang pekerjaannya menuntut mereka untuk terus mengikuti setiap detil isi berita, misalnya berita tentang perkembangan saham, berita seputar dunia politik, dll. Bagaimana dengan mereka? Atau mungkin Anda termasuk orang-orang ini?
Untuk orang-orang ini, cara mengatasi stres yang paling baik adalah dengan mencari hiburan yang cukup. Sering kita dengar istilah dalam Bahasa Inggris, “work hard, play hard”. Jika Anda merasa sudah mengkonsumsi terlalu banyak berita buruk, maka hiburlah diri Anda sendiri dengan membaca berita-berita ringan, beristirahat (bisa dengan tidur atau memanjakan diri seperti pergi ke salon dan spa), membaca/ menonton hal-hal lucu, melakukan hobi, atau sekadar mengobrol serta berekreasi dengan anggota keluarga Anda. Seberapapun pentingnya pekerjaan Anda, tidak ada yang lebih penting dari kesehatan diri sendiri dan kebahagiaan keluarga Anda. Jika Anda terus menerus menunjukkan gejala-gejala stres, contohnya sering marah-marah, sering sakit kepala, insomnia, dan lain-lain, Anda tidak hanya merugikan diri sendiri, namun juga dapat menjadi sumber stres baru bagi anggota keluarga Anda.
Kesimpulan
Berita buruk mungkin menjadi sumber stres bagi sebagian besar orang. Namun, berita buruk tetaplah tidak perlu dihindari. Jika kita pandai-pandai melihat suatu berita dari sisi positifnya, maka kita akan dapat menjadikan berita buruk tersebut sebagai sumber eustress yang menjadikan hidup kita lebih berwarna. Jika Anda merupakan orang yang memang setiap hari harus berhubungan dengan berita (yang berpotensi menjadi berita buruk), Anda harus pandai-pandai mencari strategi coping stress yang baik demi kesehatan diri Anda sendiri dan juga kebahagiaan anggota keluarga Anda.
|
“The man who doesn’t relax and hoot a few hoots voluntarily, now and then, is in great danger of hooting hoots and standing on his head for the edification of the pathologist and trained nurse, a little later on.” (Elbert Hubbard) |
Incoming search terms:
- pengertian bad news,mengelola stress,MENGELOLA DAN BERSAHABAT DENGAN STESS,Reaksi apa yg dilakukan di saat mendengar berita buruk,tips mengelola stress,definisi berita buruk,contoh bad news di masyarakat,pengertian dan contoh bad news,pengertian distres dan eustres wikipedia,penjelasan dan contoh responding to good news,Reaksi apa ketika mendengar berita jelek,arti bed news,respon masyarakat ketika menonton dan membaca berita,Sikap positif yang dapat diambil dari penjual gorengan,stres haruskah di hindari?





hadapi aja gan