stres kehidupan sehari-hari

cara menghilangkan stres

3

1001 Stres

menghilangkan stres

Setiap orang mengalami stres, tidak peduli kaya atau miskin, tidak peduli pintar atau bodoh. Intinya stres menyerang semua orang tanpa pandang bulu. Ia tidak membeda-bedakan dan ia juga tidak pilih kasih. Semua orang mengenal kata stres. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar orang mengeluh bahwa dirinya sedang stres. Seringkali tentang pekerjaan, tugas kuliah, masalah keluarga ataupun masalah finansial. Stres, sebuah istilah yang dikenali semua orang, namun belum tentu dipahami dengan benar. Untuk mencapai suatu pemahaman yang sama, ada baiknya dibahas terlebih dahulu apa sebenarnya stres itu.

Stres ialah respon seorang individu terhadap stressor, dimana stressor  ialah suatu keadaan, situasi atau peristiwa yang dirasa mengancam yang memerlukan kemampuan coping dalam menghadapinya. Hans Selye, seorang peneliti stres, mengemukakan bahwa stres dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu distress dan eustress (1985). Distress yaitu bentuk negatif dari stres, yang merusak dan menyakitkan sedangkan eustress ialah bentuk positif dari stres, yang menguntungkan dan konstruktif. Sekarang kita tahu bahwa tidak hanya peristiwa menyedihkan saja yang dapat mengakibatkan stres, peristiwa membahagiakan seperti naik kelas atau pernikahan ternyata juga mendatangkan stres.

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang mengalami berbagai macam stres. Dapat dikatakan stres membantu mematangkan manusia melalui proses belajar. Judul 1001 stres sengaja dipilih untuk menggambarkan betapa hidup dipenuhi berbagai macam stres, baik yang membuat sakit maupun stres yang membahagiakan. Stres datang tanpa memberitahu, namun bila kita memilih melihat stres dari sisi positif, hidup pun menjadi indah.

Mengenai stres yang saya alami, tidak akan ada habisnya bila dibahas satu persatu. Oleh karena itu, berikut ini saya hanya memilih sebanyak 4 hal/kejadian/peristiwa yang membuat saya mengalami stres.

  1. Supergirl

Saya tahu tidak ada manusia yang sempuna di dunia ini. Tetapi saya tetap ingin menjalani semua kegiatan saya dengan sempurna. Artinya, meski kegiatan saya cukup banyak, saya ingin semuanya dapat berjalan lancar dan tidak ada satupun yang harus dikorbankan. Orang bilang kita harus menentukan prioritas dari berbagai kegiatan yang ada. Tapi, sampai sekarang, saya tidak bisa seperti itu. Saya ingin semuanya berjalan beriringan, tidak ada yang ditinggalkan. Untuk itu, diperlukan tenaga dan waktu yang cukup, yang terkadang tidak tersedia. Saya merasa stres ketika tidak dapat memenuhi semua kegiatan tersebut. Kegiatan saya antara lain : kuliah, les piano, ngajar piano, bantu menjaga kasir rumah makan milik mama. Saya kasihan pada mama yang menjaga rumah makan sendiri, meskipun ada karyawan, tapi tetap saja, saya merasakan suatu keharusan untuk turut membantu. Oleh karena itu, saya selalu berada di rumah makan selain waktu kuliah, les dan ngajar. Masalahnya, kuliah dan les perlu ditekuni di rumah. Belajar piano perlu latihan setiap hari. Dilemanya disini, saya ingin dapat lebih banyak latihan tapi bagaimana dengan rumah makan?. Saya merasa egois bila menuruti keinginan saya sendiri. Saya ingin menyenangkan semua orang. Padahal mama tidak pernah mengharuskan atau memaksa apa yang tidak ingin saya lakukan, mama tidak pernah mengatur apa-apa saja yang harus saya lakukan. Semuanya dipercayakan pada diri saya sendiri. Bahkan mama selalu menyuruh saya untuk pulang lebih cepat supaya dapat tidur lebih lama. Namun tetap saja, saya menunggu sampai rumah makan ditutup jam 11.30 malam. Akibatnya saya sering terlambat atau tidak masuk kelas pagi. Saya tidak ingin memilih dan meninggalkan beberapa kegiatan, guru pianoku pernah menyarankan supaya saya mengurangi waktu ngajar. Tapi kupikir, dengan begitu, berarti saya menyerah pada keadaan. Saya ingin semuanya, tidak hanya beberapa. Kesemuanya itu juga harus berjalan baik, tidak hanya pas-pasan. Padahal saya menyadari untuk mendapat hasil yang benar-benar maksimal, saya perlu lebih fokus.

  1. Gila kontrol

Saya juga akan merasa stres apabila saya tidak dalam kontrol terhadap sesuatu. Ketika saya tahu bahwa saya tidak dapat berbuat banyak untuk mengubah situasi tersebut. Contohnya ketika mata kuliah wawancara mengharuskan tiap kelompok untuk membawa mahasiswa Atma Jaya non Psikologi untuk diwawancarai di ruang observasi. Pas hari H-nya, subjek tidak muncul dan tidak ada kabar apapun, ditelepon juga tidak dapat dihubungi. Padahal tugas tersebut adalah untuk nilai UTS. Wawancara akan berlangsung pukul 10 hingga 11 pagi. Subjek baru meminta maaf pada jam 11, bahwa sebelumnya ia ikut seminar di gedung Y yang tidak mendapat sinyal dan bahwa di luar dugaan seminar tersebut berlangsung lebih lama. Ketika itu, terbayang bagaimana stresnya saya. Tidak ada lagi yang dapat dilakukan, karena tiap kelompok telah mendapat jatah jadwal wawancara tersendiri. Tidak mungkin dapat mengubah jadwal seenaknya. Stresnya lebih dikarenakan saya menyadari bahwa hal tersebut penting, namun tidak ada yang dapat saya lakukan untuk menyelamatkan atau mengubah hal tersebut.

  1. Piano bergigi

Saya merasa stres setiap kali sehabis mengikuti ujian piano. Biasanya saya selalu merasa bahwa saya tidak akan lulus. Di dalam pikiran saya, saya akan memutar ulang apa yang terjadi di ruang ujian, dengan membayangkan saya menjadi salah satu penguji dan mendengarkan permainanku sendiri, mencoba untuk memberi nilai bagi diriku sendiri. Berkali-kali saya memutar ulang di dalam benak saya, awalnya mencari-cari kesalahan, lalu kemudian terlibat dengan pemikiran bahwa permainanku sebenarnya tidaklah seburuk yang kupikirkan sebelumnya. Berhari-hari setelah ujian, pikiran saya masih tetap gelisah. Membayangkan tidak lulus, bahwa saya harus menunggu dan mengulang di tingkat yang sama selama satu tahun, ditambah lagi dengan mahalnya biaya yang harus dikeluarkan, ditambah malunya. Lengkaplah sudah stresnya.

  1. Miss detik terakhir

Saya sering mengulur-ngulur waktu. Pekerjaan apapun pasti saya tunda sampai benar-benar urgent, baru dikerjakan. Seolah-olah kurang seru kalau tidak menunggu sampai detik-detik terakhir. Tapi di satu sisi, saya sadar bahwa waktu benar-benar berharga. Apalagi kegiatan saya yang cukup banyak membuat saya makin menyadari pentingnya mengatur waktu dengan baik. Saya selalu bertekad ingin belajar mengatur waktu dengan baik, bertekad akan menyicil pekerjaan bila sedang senggang. Tapi tetap saja, kebiasaan menunda belum juga hilang. Makanya saya sering merasa stres karena disonansi ini. Ketika ada tugas, tapi tidak urgent saya jadi cemas dan gelisah apabila tidak langsung mengerjakan tugas tersebut. Tapi di sisi lain, saya tergoda untuk menunda pekerjaan tersebut. Dua pikiran terus beradu, yang satu ingin menyicil agar nantinya tidak terburu-buru, juga untuk mengantisipasi apabila nanti ternyata tidak cukup waktu untuk mengerjakan, yang satunya lagi tidak ingin mengerjakan, karena ingin menikmati waktu santai. Rasanya tidak begitu adil, jarang ada waktu santai, tetapi begitu ada, malah tidak bisa tenang karena dua pikiran tersebut. Saya merasa khawatir jangan-jangan telah menyia-nyiakan waktu luang tanpa mengerjakan apapun. Ada juga rasa takut bahwa saya nantinya tidak akan ada lagi waktu untuk mengerjakan bila tidak dikerjakan sekarang juga.

Dilihat dari berbagai kisah di atas, boleh dikatakan sumber stres yang paling menonjol ialah datang dari dalam diri sendiri. Saya sendirilah yang menciptakan stres-stres itu. Sebenarnya saya cukup menyadari hal ini sejak lama, bukan peristiwa atau situasinya yang mengakibatkan stres, tapi bagaimana pikiran dan keyakinan saya mengambil peran dalam menciptakan stres untuk diri saya sendiri. Sesuai dengan teori Albert Ellis, ada 12 irrational belief yang biasanya dipegang orang pada umumnya, namun untuk menyederhanakannya, terdapat 3 poin utama mengenai irrational belief, yaitu:

1. “I must be outstandingly competent, or I am worthless.”
2. “Others must treat me considerately, or they are absolutely rotten.”
3. “The world should always give me happiness, or I will die.”

Dari kisah pertama, saya memiliki keyakinan bahwa saya harus menjadi seorang yang kompeten, dan jika saya tidak kompeten, maka saya tidak berarti apa-apa. Pemikiran inilah yang memicu stres, akibatnya saya jadi terkesan keras terhadap diri sendiri. Saya merasa tidak cukup baik dan ini membuat saya berusaha untuk menjadi sesuai dengan yang saya inginkan. Saya ingin menjadi sempurna, dan tidak ingin ada kesalahan sedikit pun, bahkan pernah terpikirkan untuk berhenti piano, sungguh-sungguh berhenti les, ngajar, semuanya yang berhubungan dengan piano. Intinya lupakan piano. Karena saya pikir lebih baik tidak sama sekali daripada tidak maksimal. Disini lagi-lagi ada keyakinan yang salah, nomor satu atau tidak sama sekali. Mungkin ini juga karena saya belum cukup menghargai diri sendiri. Seharusnya saya puas dengan usaha saya selama ini, seharusnya saya bisa bangga terhadap diri saya sendiri, seharusnya ada penghargaan terhadap diri sendiri. Mungkin terlalu banyak pernyataan harus yang tidak semestinya. Saya menganggap bahwa saya harus menjadi seorang yang super dan serba bisa, padahal orang lain tidak menuntut hal tersebut. Mungkin saya harus belajar untuk lebih memaafkan diri saya sendiri. Biasanya kalau sudah begini, saya berusaha mempertimbangkan kembali keyakinan tersebut, benarkah saya harus selalu super?.             Untungnya masih ada setengah dari diri saya yang membantah keyakinan tersebut. Yang saya lakukan ialah menggali kembali keyakinan yang lain tersebut bahwa tidak semua orang harus ideal seperti apa yang ia pikirkan. Idealitas ialah relatif, tidak seorang pun yang berhak menilai dan menentukan apa yang ideal dan seharusnya, termasuk diri kita sendiri. Apa yang saya lakukan disebut coping.

            Coping ialah suatu proses yang mengatur keadaan yang mengancam, melibatkan usaha untuk memecahkan masalah, dan usaha yang dilakukan untuk mengurangi stres. Menurut Folkman dan Lazarus, Coping dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu problem-focused dan emotion focused coping (1980). Selanjutnya Folkman merevisi lagi dengan mengklasifikasikan problem-focused dan emotion-focused coping. Yang termasuk problem-focused coping yaitu confrontative dan planful problem solving. Sedangkan emotion-focused coping terdiri dari distancing, self controlling, seeking social support, accepting responsibilities, escape avoidance, dan positive reappraisal (1986).

            Coping yang saya lakukan ialah disebut dengan cognitive restructuring, dimana merupakan proses mengganti pikiran, ide, ataupun keyakinan yang menyebabkan masalah bagi diri seseorang. Ide dan keyakinan bahwa saya harus super, diganti dengan ide bahwa tidak semua orang harus super. Hal ini tentu saja membuat saya merasa lega.

Dari kisah kedua, juga melibatkan keyakinan diri. Self-efficacy ialah suatu keyakinan bahwa diri sendiri dapat mengendalikan suatu situasi dan menghasilkan hal yang positif. Kenyataan maupun persepsi bahwa kita dapat melakukan sesuatu untuk mengontrol atau mengurangi stres dapat berpengaruh terhadap efek dari stres itu sendiri (Taylor, 2003; Wallston, 2001). Sayangnya, saya sering merasa tidak mempunyai kontrol terhadap suatu situasi. Hal inilah yang menyebabkan stres. Reaksinya bermacam-macam, dari hanya sekedar cuek sampai menangis. Coping yang dilakukan ialah mencari dukungan sosial. Saat itu, saya cerita kepada setiap teman yang saya temui. Isi ceritanya sama, hanya mengharapkan belas kasihan dari teman-teman. Begitu senangnya bercerita, hingga tidak mengindahkan jarak. Cerita nembus sampai kota Medan, melalui Friendster. Coping ini termasuk dalam emotion-focused disebut juga seeking social support, yaitu usaha untuk mencari bantuan yang dapat berupa informasional, dukungan nyata/ material, maupun dukungan emosional. Terkadang saya hanya ingin cerita, yang penting ialah mengeluarkan apa yang saya rasakan tersebut.

Kisah ketiga hampir sama seperti kisah pertama. Diri sendiri, pemikiran sendiri yang menciptakan stres tersebut. Peristiwa yang membuat stres belum terjadi (tidak lulus), karena hasil belum diketahui, tapi pikiran telah menciptakan bahwa seolah-olah itu telah terjadi, bahwa saya tidak lulus. Jauh sebelum hari pengumuman, saya telah mempercayai bahwa saya tidak akan lulus. Biasanya 3 hari sehabis ujian, pikiran saya penuh dengan kekhawatiran, kegelisahan. Nafsu makan pun berkurang. Itulah reaksi stresnya. Namun setelah lewat tiga hari, saya berhasil meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya tidak lulus. Saya benar-benar mempercayai hal tersebut seolah-olah memang begitu kenyataannya, seolah-olah saya telah memakai mesin waktu untuk melihat masa depan hasil ujian tersebut. Meyakini bahwa diriku tidak lulus, saya mulai memikirkan hal yang baik bila tidak lulus. Saya mempunyai kesempatan untuk melatih kemampuan saya dengan lebih baik lagi, karena saya mengulang. Saya bisa belajar lebih banyak lagu lain karena saya mengulang. Coping ini disebut juga positive reappraisal, yaitu usaha untuk  menciptakan makna positif yang lebih ditujukan untuk pengembangan pribadi. Setelah coping ini, saya merasa lebih senang tidak lulus daripada lulus. Karena ini pengalaman supaya saya bisa berlatih lebih keras. Oleh karena itu, setiap kali dikabari bahwa ternyata saya lulus ujian, ada juga rasa kecewa. Terlihat bagaimana saya selalu mencari hal atau sisi positif dari suatu kejadian yang tidak diinginkan, hingga hal yang tidak diinginkan tersebut menjadi cukup diinginkan. Saya melakukan hal tersebut jauh sebelum hal itu terjadi, sehingga ketika hal tersebut benar-benar terjadi, saya tidak perlu merasa sakit.

Kisah keempat lain lagi. Stres terjadi karena ada konflik, dimana ketika saya harus memutuskan antara 2 atau lebih pilihan yang ada. Ada 3 macam tipe konflik (Neal Miller, 1959), yaitu:

  1. Approach/approach conflict, yaitu konflik dimana seseorang harus memilih antara 2 stimulus atau keadaan yang menyenangkan
  2. Avoidance/avoidance conflict, yaitu konflik dimana seseorang harus memilih antara 2 stimulus atau keadaan yang tidak menyenangkan
  3. Approach/avoidance conflict, yaitu konflik dimana seseorang dihadapkan pada stimulus atau keadaan yang mempunyai baik karakteristik negatif maupun positif.

Dalam hal ini, konflik yang dialami ialah yang ketiga yaitu Approach/avoidance conflict, dimana menikmati waktu santai dapat mempunyai karakteristik negatif yaitu waktu menjadi terbuan, dan juga karakteristik positif yaitu refreshing. Bingung menentukan yang mana membuat stres. Reaksinya gelisah, cemas, tidak tenang. Akhirnya coping yang saya lakukan ialah mengerjakan sesuatu yang lain, yang kurang penting namun dapat dinikmati seperti menyampul buku. Dengan begitu, saya merasa lebih tenang, karena setidaknya saya mengerjakan sesuatu. Teknik coping ini juga termasuk dalam emotion-focused, yaitu distancing, dimana merupakan usaha untuk tidak terlibat pada permasalahan, selain menciptakan pandangan positif. Dengan memfokuskan diri pada hal lain, saya tidak perlu terlibat dengan permasalahan yang ada. Teknik ini hampir mirip dengan escape avoidance, hanya saja, dengan teknik ini, saya tidak melarikan diri dan berpura-pura bahwa masalah tersebut tidak ada atau akan terselesaikan dengan sendirinya, saya masih menyadari bahwa masalah tersebut tidak akan selesai bila tidak dihadapi. Lain dengan teknik escape avoidance, yang merupakan usaha untuk tidak mengakui adanya permasalahan dan berharap masalah akan selesai dengan sendirinya.

Oleh: Cyntia

Incoming search terms:

Filed in: Artikel Tags: , , ,

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan isikan alamat email Anda untuk berlangganan artikel HarmoniHidup.com secara gratis melalui email:

N.B: Jangan lupa untuk membuka e-mail Anda dan melakukan verifikasi

Delivered by FeedBurner

Related Posts

Bookmark and Promote!

3 Responses to "1001 Stres"

Leave a Reply

Submit Comment

© 2013 Harmoni Hidup. All rights reserved. XHTML / CSS Valid.
eXTReMe Tracker